Sabtu, 30 Januari 2010

Cara Menentukan Kiblat Masjid

Arah kiblat sejumlah masjid di Indonesia mengalami pergeseran.

Menurut Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementeriaan Agama, Rohadi Abdul Fatah, sekitar 20 persen masjid dari 763 ribu masjid di Indonesia tidak mengarah kiblat.
Perubahan arah tersebut terjadi akibat gempa bumi sehingga menimbulkan pergeseran tanah.
“Paling yang melenceng 20 persen,” kata Rohadi, seperti dimuat laman Kementerian Agama.
Rohadi membantah pendapat bahwa ada 80 persen masjid di Indonesia dan kuburan muslim yang belum mengarah ke kiblat dengan benar.

Ditambahkan dia, pendapat bahwa yang terjadi pergeseran hanya di masjid-masjid yang berlokasi di daerah gempa seperti Yogyakarta, Tasikmalaya dan Sumatera Barat. ngawur

Bagaimana menentukan sebuah masjid salah kiblat?

Dijelaskan Rohadi, untuk meluruskan masalah kiblat, Kementerian Agama telah membentuk sebuah tim yang siap turun ke masing-masing daerah untuk mengukur kembali arah kiblat itu.
Tim akan menggunakan peralatan seperti teodolit, JPS dan kompas, serta paling utama pengamatan terhadap matahari.

Masyarakat juga bisa melakukan pengukuran secara mandiri. Waktu pengukuran tertentu, masyarakat bisa melakukannya pada 28 Mei mendatang, pukul 16.18 Waktu Indonesia Barat dan tanggal 16 Juni pukul 16.27 WIB.
Caranya, dengan menancapkan sebilah bambu. “Saat itu posisi matahari persis di atas Ka`bah, maka arah lawan bayangan bambu itu adalah posisi kiblat dari tempat tersebut,” jelas Rohadi.
Apabila memang ternyata bergeser, jelas Rohadi, masjid tak perlu dibongkar. “Diubah shafnya saja, tidak perlu dibongkar,” tambahnya.

Menurut dia, salah kiblat tidak terlalu mempengaruhi makna dan kekhusyukan shalat dari shalat tersebut, karena semua tergantung niat. “Tidak jadi permasalahan, shalatnya sah,” tandas Rohadi.

Sebelumnya, Menteri Agama, Suryadharma Ali mengatakan memang ada kesalahan penntuan kiblat di sejumlah masjid di Indonesia.

Kesalahan kiblat antara lain terjadi pada beberapa masjid di Jawa Tengah yang diketahui salah menetapkan arah kiblatnya. Juga di Jakarta.

“Memang ada beberapa temuan masjid yang salah kiblat, seperti di Jakarta saja ada beberapa masjid milik instansi pemerintah yang juga salah kiblatnya,” tambah dia.

VIVAnews

----------------------------------

Baca juga berita terkait :

Banyak Masjid Salah Kiblat
Banyak Masjid di Solo yang Salah Kiblat
Masjid Salah Kiblat Jangan Dibongkar
Depag: Arah Kiblat Masjid Salah karena Kompas
Depag: Arah Kiblat Masjid Salah karena Kompas

Jumat, 29 Januari 2010

Hanya Masjid Yang Masih Berdiri Di Haiti

Apa kesamaan semua bencana alam di seluruh dunia? Mulai dari tsunami Aceh, Indonesia, sampai gempa bumi dahysat di Haiti baru-baru ini, ternyata hanya masjid lah yang tidak runtuh karena guncangan dan hantaman bencana alam tersebut.

Selasa (26/1) sekelompok Muslim dari komunitas Islam di Karibia, tiba di Port-au-Prince dengan membawa bantuan. Keesokan harinya, pemimpin tim berkata, "Kami sampai ke Haiti dengan selamat. Dan sekarang kami ada di Masjid Al-Tawhid di Port-au-Prince. Kami berada di jalan sepanjang malam. Sekitar pukul dua pagi, kami menyeberangi perbatasan ke Republik Dominika, sampai kami bertemu dengan saudara-saudara kami di Port-au-Prince.

“Sementara situasi masih berbahaya, dan kami belum mengambil langkah apapun untuk melindungi mereka. Kami bergantung pada Allah, Subhanallah. Kita tidak dapat berdiam diri ketika saudara-saudara kita tidak memiliki cukup makanan dan air. Seluruh kota jatuh dalam kekacauan. Siang dan malam orang-orang berdiri di antrian untuk minyak tanah. Saudara-saudara kita telah membantu kami membongkar truk. Mereka, istri-istri mereka dan anak-anak mereka senang melihat makanan dan minuman. Melihat kami, mereka mengucapkan takbir ‘Allahu Akbar!’ Mereka menunggu kami. Setelah pembongkaran, kita melakukan shalat tahajjud berjamaah. Semoga Allah membantu kita semua!”

Menurut seorang Muslim yang berhasil ditemui di Masjid Al-Tawhid, pada pagi hari tanggal 20 Januari, seusai shalat Shubuh, sekelompok Muslim berbaring tidur-tidur ayam di Masjid. "Kami beristirahat sejenak, tapi kemudian terasa getaran hebat. Semua orang mulai berteriak Syahadat dan bergegas ke jalan. Segala puji bagi Allah, tidak ada yang mengerikan terjadi pada Masjid, ketika semua bangunan runtuh. Masjid berdiri kokoh di celah-celah, bahkan tidak sedikitpun bergoyang." kata seorang juru bicara.

Saat ini, otomatis Masjid Al-Tawhid di Port-au-Prince telah berubah menjadi tempat penampungan sementara bagi umat Islam dan juga orang-orang non-Islam. Ketika terjadi gempa, semua orang berlari ke masjid dan diam di sana sambil menggigil dan menangis ketakutan. Pasca gapma, mereka yang tidak cocok dan tidak kebagian tenda, tinggal di kamp-kamp di sekitar masjid. Banyak orang yang terluka dan membutuhkan perawatan medis, makanan dan air.

Selain Masjid Al-Tawhid, yang tidak terkena gempa dan masih berdiri kokoh juga adalah Masjid Al-Fatihah juga di Port-au-Prince. (sa/camuslm)

Source : Eramuslim

Baca juga : Mosques in Haiti were not damaged and have become shelters for the homeless –

Dua Masjid di Malaysia "Dikirimi" Kepala Babi



Seorang polisi forensik memegang kepala babi di luar sebuah masjid
di Kuala Lumpur Rabu (27/1). Polisi Malaysia mengatakan, dua kepala
babi ditemukan di sebuah masjid Malaysia dekat dengan permukiman
yang pernah dilanda benturan etnis sembilan tahun yang lalu.

KUALA LUMPUR - Sekelompok jamaah Masjid Sri Sentosa, dekat Kuala Lumpur Malaysia, terkejut dengan lemparan seseorang berkendara sepeda motor, Rabu pagi menjelang Subuh. Isinya lebih mengejutkan lagi: beberapa kepala babi masih berlumuran darah.

Di tempat terpisah pada waktu yang sama juga terjadi: jamaah Masjid Taman Dato Harun menemukan dua kepala babi teronggok di halaman masjid. "Kerukunan beragama di Malaysia benar-benar sedang diuji," ujar seorang petugas polisi yang datang tak lama setelah penemuan itu.

Sebelumnya, sekitar 10 gereja diserang dengan lemparan bom molotof awal bulan ini. Pemicunya adalah keputusan pengadilan tanggal 31 Desember 2009 yang mengizinkan sebuah tabloid Katholik untuk menggunakan kata "Allah" untuk menyebut Tuhan. Keputusan ini mengundang reksi keras kalangan Muslim, karena menurut mereka, kata "Allah" adalah penyebutan Tuhan dalam agama Islam.

Pelemparan kepala babi ini semakin memperkeruh ketegangan yang dipicu sentimen agama dalam beberapa pekan ini. Perang kebencian itu tak hanya diwujudkan dalam aksi vandalisme tetapi juga di dunia maya. Dua kubu saling mencari dukungan di berbagai situs jejaring sosial dan pertemanan. Di Facebook, misalnya, penolakan penggunaan kata Allah oleh non-Muslimkini diikuti 250 ribu orang lebih.

Sejauh ini polisi telah mengamankan 19 orang orang yang terlibat penyerangan gereja, termasuk seorang pemuda 25 tahun yang menuliskan status di Facebooknya mengajak untuk melakukan aksi pelemparan bom molotof.

Saya ingatkan warga semua untuk tidak memperkeruh suasana dan memancing kemarahan etnis atau kelompok apapun," ujar Pimpinan kepolisian Selangor, Khalid Abu Bakar, usai meninjau masjid yang dilempar kepala babi. Masjid itu berada di kawasan yang pada tahun 2001 pernah terjadi pertikaian etnik dan menewaskan enam orang.

Ia mengimbau agar seluruh kelompok agama tenang dan kembali menjalin silaturahim yang terkoyak.

Sumber : Republika

Berita terkait :


Baca Juga Artikel Masjid Malaysia Lain-nya