Tuesday, September 28, 2010

Masjid Raya Natuna, Kepulauan Riau

Indahnya Masjid Raya Natuna (foto dari kaskuser)

Masjid Raya Natuna atau oleh masyarakat setempat disebut sebagai Masjid Agung Natuna diresmikan penggunaannya pada tanggal 4 April 2009. Masjid tersebut merupakan simbol kebangkitan Islam di Natuna dan kebangkitan awal bagi pembangunan dan pengembangan Islam dan Iman masyarakat natuna sesuai dengan visi dan misi pemerintah Kabupaten Natuna yang dikemas dalam kalimat singkat Pencapaian Natuna MAS 2020 (MAS = Masyarakat Adil dan Sejahtera) Kehadiran Masjid Agung di Komplek Gerbang Utaraku (Gerakan Membangun Untuk Sejahtera hingga ke Anak cucu) juga merujuk pada posisi Natuna secara geografis yang merupakan wilayah paling utara Indonesia.  merupakan salah satu bentuk pengejawantahan hal tersebut. Pembangunan masjid ini merupakan bagian dari mega proyek yang diberi nama Gerbang Utara Ku, yang meliputi perumahan DPRD, rumah dinas bupati dan wakil bupati, kampus dan asrama perguruan tinggi.

interior masjid raya natuna (foto dari skyscrapercity)
Disetiap kesempatan Bupati Natuna selalu mengajak khususnya PNS dilingkungan Pemkab Natuna untuk senantiasa berjamaah 5 waktu. Yang sangat menarik disana yaitu kebersamaan para pejabat daerah terutama Muspida disetiap shalat lima waktu selalu berbaur ulama,umara' dan umat. Setelah shalat berjamaah senantiasa dilaksanakan kuliah tujuh menit, khususnya Mahgrib setelah ceramah agama jelang Isya dilaksanakan ngopi dan ngeteh bareng di teras masjid dengan menu, kurma, goreng ubi dan pisang goreng.

Lokasi Masjid Raya Natuna

Masjid Raya Natuna terletak dan merupakan bagian dari Komplek Gerbang Utaraku, kawasan yang dipersiapkan sebagai pusat pemerintahan dan bisnis Natuna di wilayah Ranai yang menjadi ibukota kabupaten Natuna, dengan Masjid sebagai titik pusatnya. Kawasan ini akan dilengkapi dengan 8 pusat aktifitas masyarakat 1. Masjid Agung, 2. Menara, 3. Asrama Haji, 4. Gedung Pertemuan, 5. Gedung Pendidikan, 6. Gedung Komersial, 7. Gerbang, 8. Plaza serta taman kota.

Masjid Raya Natuna (foto dari kaskuser)

Sejarah Masjid Raya Natuna Gerbang Utara ku

Terbentuknya kabupaten Natuna dengan visi dan misi pembangunan Kabupaten Natuna yang tertuang dalam 5 pilar utama, Pembangunan dibidang keimanan merupakan point utama sebagai konsep program pembangunan daerah. Hal tersebut yang melandasi ide pembangunan masjid raya Natuna dengan harapan agar pelaksanaan syi’ar Islam dapat ditingkatan dalam rangka menciptakan suasana yang religi ditengah-tengah masyarakat Kabupaten Natuna pada umumnya. Dan nantinya dapat dijadikan sebagai maskot kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Natuna dimasa-masa yang akan datang.

Proses pembangunan ini telah direncanakan sejak tanggal 13 Agustus 2006, atau sejak bupati  kabupaten Natuna Drs. H. Daeng Rusnadi, M.Si menduduki jabatannya sebagai bupati Kabupaten Natuna. Setelah melalui beberapa proses perencanaan yang disesuaikan dengan arti filosofi dari pembangunan Masjid Raya dan Komplek Gerbang Utaraku, proses pembangunan fisik dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 04 Mei 2007.

Masjid Raya Natuna dalam siraman cahaya (foto dari skyscrapercity)

Masjid Raya Natuna merupakan titik utama komplek Gerbang Utaraku. Kemudian dilanjutkan pada proses pembangunan lanjutan tahap I B, pembangunan fasilitas lain akan dilaksanakan, diantaranya pembangunan Masjid Laut, Pusat perekonomian, pasar, terminal, Asrama STAI, Gedung Olah raga, dan lain sebagainya. Komplek gerbang utaraku merupakan implementasi pembangunan 5 (lima) pilar utama, yaitu Keimanan, Kesehatan, Pendidikan, Perekonomian dan hukum. Tahapan Tahap I A. Diresmikan penggunaan fasilitasnya oleh Bupati Kabupaten Natuna Drs.H Daeng Rusnadi,M.S pada hari Jum’at 4 April 2009.

Pada saat peresmian penggunaan fasilitas tahap IA Sebenarnya pembangunan Tahap I A belum rampung dan masih dalam tahap pengerjaan. Namun untuk bangunan Masjid Agung sudah dapat dipergunakan. pembangunan Tahap I A selesai pada awal bulan Mei 2009 dan segera dilanjutkan dengan pembangunan Tahap I B.

Masjid Raya Natuna dari sisi yang lain (foto dari skyscrapercity)

Total anggaran yang akan dihabiskan seluruhnya (termasuk dana pembangunan masjid) sebesar Rp781 miliar lebih. Dari APBD 2007, anggaran 2008 dan 2009, Anggaran pembangunan masjid Raya sendiri senilai Rp 400 miliar lebih atau setara dengan APBD Kota Tanjungpinang (ibu kota Provinsi Kepulauan Riau) tahun 2007. 

Arsitektur Masjid Raya Natuna

Lorongyg menghubungkan ke lokasi
 tempat wudhu, asrama haji, perpustakaan
dan mini market (foto dari skyscrapercity)
Ornamen Masjid Agung Natuna mengambil insfirasi dari Al’quran, karena AlØ·quran merupakan sumber dari segala hukum. Dengan bentuk kubah mirip kubah Taj Mahal di India dan menjadi masjid terbesar dan dan termegah di Propinsi Kepulauan Riau. Masjid yang cukup megah dan  luas. Satu barisan shaf di dalam masjid ini cukup untuk memuat hingga 180 jemaah.

Masjid Natuna, telah jelas-jelas bahwa lambang dan makna dekoratif yang muncul menunjukkan bahwa gedung tersebut adalah bangunan Islami.  Masjid Raya Natuna memiliki ruang dalam yang sangat luas. Bagian tengahnya diterangi oleh cahaya alami yang bersumber dari kubah masjid. Bagian tepi pada lantai satu yang terteduhi lantai dua cukup gelap. Untuk meneranginya dibuat bukaan berupa karawang yang terletak di atas pintu masuk yang memilliki dimensi cukup besar. Terasa bahwa ruang remang pada bagian ini diterangi oleh sedikit cahaya dari atas layaknya ruang-ruang gotik. Dari segi bentuk, pintu masuk ini memiliki geometrika lengkung yang bagian atasnya lancip. Dua pintu utama yang terletak di sisi kiri dan kanan gedung menghadap ke kiblat juga mengarahkan nuansa ruang menjadi terfokus pada sumber cahaya Ilahi.

ornamen pintu masjid raya natuna 
(foto dari skyscrapercity)
Latar belakang mihrab Masjid Raya di Natuna dibuat dari bahan kayu dengan bentuk yang cukup besar. Geometrika nya juga terbentuk dari lengkung atau busur dengan pertemuan lancip di bagian tengah/atasnya. Latar mihrab tersebut juga didesain dengan labirin busur lancip hingga semakin memperkuat kesan gotik-nya.

Referensi

Masjid Raya Natuna Diresmikan 23 Maret
Berjamaah di Masjid Agung Natuna
Peresmian Pemakaian Fasilitas Masjid Agung Kabupaten Natuna
Titik Hitam Natuna
Implementasi Visi Natuna MAS 2020 Semakin Nyata
Dugaan Penyalahgunaan Anggaran di Natuna (1)
Ruang Gothic dalam Interior Masjid


Monday, September 27, 2010

Masjid Nasional Abuja, Nigeria

Senja di masjid nasional Abuja – Nigeria (foto dari wikivedia)

Mengenal Kota Abuja

Abuja adalah ibu kota Nigeria yang memiliki populasi sekitar 800.000 jiwa. Kota ini memang dialokasikan menjadi sebuah kota yang tertata. Dibuat tahun 1980 dan dijadikan ibu kota pada tanggal 12 Desember 1991 menggantikan ibu kota sebelumnya Lagos. Di kota ini terdapat berbagai tujuan wisata, juga kedutaan besar dari berbagai negara.

Nigeria merupakan negara dengan berbagai kelompok etnik. Bahkan tercatat sebanyak lebih dari 250 kelompok etnik yang terdapat disini. Bahasa pengantar negeri ini adalah bahasa Inggris. Penduduk muslim di negeri ini tercatat mencapai sekitar 50% dari seluruh penduduk. Menjadikan umat Muslim sebagai yang terbanyak, diikuti dengan umat Kristiani sebanyak 40%. Sedangkan sisanya lebih pada aliran kepercayaan yang masih dibawa dari kepercayaan nenek moyang. Karenanya tak terlalu mengherankan bila negeri ini memiliki sejumlah masjid. Satu yang paling besar adalah Masjid Nasional abuja.

Masjid nasional Abuja- Nigeria (foto dari koranbaru)

Lokasi Masjid Nasional Abuja

Abuja National Mosque
Independence Avenue
Abuja City, Nigeria
            Koordinat : 9°03′39″N 7°29′23″E



Masjid nasional Abuja terletak di pusat pemerintahan Nigeria, berseberangan dengan Gereja Kristen Nasional Abuja di independent Avenue, Abuja, Nigeria, berdekatan dengan kantor departemen pertahanan Nasional Nigeria yang lebih dikenal sebagai gedung kapal karena  bentuk bangunannya yang mirip kapal laut. Posisi masjid dan gereja yang berseberangan ini sengaja dibuat demikian sebagai simbol keharmonisan dinegeri yang memiliki sejarah panjang pergantian tampuk kekuasaan silih berganti, serta pertikaian antara Islam dan Kristen yang tak berkesudahan.

Sejarah Masjid Nasional Abuja

Lokasi masjid nasional Abuja berseberangan dengan Gereja Nasional Abuja di ruas jalan yang sama, Independen Avenue. Bangunan Gereja terlihat di bagian kanan foto (foto dari panoranio)
Dibangun pada tahun 1984 bersamaan dengan pembangunan kota Abuja sebagai ibukota baru bagi negara Nigeria, Masjid yang terletak di Independent avenue ini juga dilengkapi dengan perpustakaan, ruang pertemuan bagi 500 tamu, serta tempat tinggal untuk Imam dan Muazin.  Nigeria menjadi salah satu negeri bekas jajahan Inggris yang didera perang saudara tak berkesudahan antara kelompok Islam dan Kristen, 12 Negara bagian di utara Nigeria meminta untuk melaksanakan hukum syariah Islam.

Kubah utama dan menara kecil berwarna keemasan
(foto dari 
panoramio) 
Perjuangan 12 negara dibagian utara Nigeria untuk memberlakukan Hukum Syari’ah memang terlalu berat, dan menghadapi tantangan dari dunia internasional, khususnya Barat dan sekutunya (Kristen). Namun kelihatannya, 12 negara bagian Nigeria Utara tetap pada pendirian semula, yaitu akan menerapkan hukum Syariah di negara bagiannya, karena memang konstitusi Negera Federal Nigeria melindunginya. Kondisi tersebut diperparah dengan silih bergantinya penguasa negeri itu dari satu kudeta ke kudeta berikutnya. Dari pemimpin dari kalangan Islam lalu berganti ke peminpin dari kalangan Kristen. Berdirinya masjid dan gereja Nasional Abuja diharapkan menjadi symbol harmonisnya kehidupan masyarakat Nigeria.

Sejak proses pembangungan hingga pengelolaannya saat ini masjid nasional Abuja ditangani oleh Abuja National Mosque Management Board. Proses perencanaan arsitekrutal pembangunannya diserahkan kepada AIM Consultants Ltd. Masjid Nasional Abuja sudah diresmikan oleh presiden Nigeria sebagai salah satu Monumen Nasional Nigeria dan menjadi milik seluruh rakyat Nigeria.

Arsitektural Masjid Nasional Abuja

Gerbang utama masjid nasional Abuja (foto dari panoramio)
Masjid Nasional Abuja menjadi pemandangan sentral di pusat kota Abuja, dengan empat menara di ke empat sudut masjid, satu kubah utama berlapis emas hingga memancarkan kilauan dibawah sinar matahari. Selain satu kubah utama masjid ini masih dipercantik dengan empat kubah kecil dimasing masing empat penjuru atap nya. Secara keseluruhan bangunan masjid ini menggabungkan unsur budaya setempat dipadu dengan budaya Islam.

Referensi

en.wikipedia -  Abuja

-------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Afrika Lain nya




Sunday, September 26, 2010

Masjid Islamic Centre Wina, Austria

Islamic Center Wina / Vienna Islamic Centre / Islamisches Zentrum Wien (foto dari sirman.net)
Masjid inilah yang telah lebih dari 30 tahun menjadi pusat studi, kajian, serta perkembangan Islam di Austria. Hal yang menarik bahwa di negara sosialis Eropa Barat ini kebebasan beragama cukup terjamin. Persoalan keagamaan mendapat perhatian serius, sebagai contoh bahwa pelajaran keagamaan diajarkan di sekolah pemerintah, termasuk pelajaran agama Islam yang diajarkan oleh guru keturunan Turki. Di negara ini, Islam adalah agama ketiga terbesar dengan presentase 4,2 % yang berjumlah sekitar 344, 391 orang setelah agama Katolik dan Protestant.

Membangun masjid bukan persoalan di negeri anggur ini. Paling tidak terdapat 8-9 masjid menghiasi kota Wina. Yang paling megah dan menjadi sentral kegiatan keislaman disini adalah Masjid Islamic Center Vienna. Masjid ini merupakan masjid yang paling representatif karena bentuk tampilan bangunannya adalah masjid, tidak seperti masjid-masjid yang lain yang tampak dari luar hanya berupa bangunan apartemen yang didesain untuk kegiatan beribadah. Di kota Wina juga terdapat Masjid As-Salam Wapena yang didirikan oleh muslim Indonesia di kota Wina.

Lokasi Islamic Center Wina

Islamisches Zentrum Wien / Vienna Islamic Centre
Am Bruckhaufen 3a
1210 Vienna, Austria
Telepon : 01 2933194
Situs Resmi : http://www.izwien.at/


View Islamisches Zentrum Wien in a larger map

Dari pusat kota wina dapat dicapai menggunakan trem dan subway (U-Bahn) dan turun di stasiun Nueu Donau. Bangunan masjid terlihat dengan jelas dari stasiun.

Sejarah Islamic Center Wina

Masjid Islamic Center Wina dibangun selama kurun waktu tahun 1975 hingga 1979 dengan dana sumbangan dari Raja Saudi Arabia waktu itu Faisal Bin Abdul Aziz, dibangun diatas lahan yang dibeli dari dana yang berasal dari 8 negara Islam di tahun 1968 dan mendapatkan dukungan dari pemerintah Austria. Sebagaimana ditulis pada prasasti pembangunannya disebutkan : “Vienna Islamic Centre. Pembangunan atas inisiatif beberapa kedutaan besar negara-negara Islam, terutama Yang Mulia Raja Feisal bin Abdul Azia dari Saudi Arabia. Peletakan Batu Pertama pada 28 Februari 1968. Diresmikan pada 20 November 1979 bertepatan 1 Muharram 1400 H oleh Presiden Austria, DR. R..Kirschschlager.Tinggi Menara 32 meter. Kubah 16 meter. Arsitek Ing R. Lugner.”


Arsitektur Islamic Center Wina

Masjid Islamic Center Wina dilengkapi dengan Menara setinggi 32 meter, serta kubah masjid dibagian tengah dengan diameter 20 meter. Sebagai tambahan islamic center ini juga dilengkapi dengan fasilitas  fasilitas yang baik untuk belajar dan mempraktekan ajaran Islam. Sama seperti masjid pada umumnya di Indonesia, di sana ada hamparan karpet merah untuk salat, hijab pemisah untuk jamaah wanita di bagian belakang, mihrab, dan mimbar bagi khatib. Ruangan salatnya kira-kira berukuran 100 x 200 meter. Masjid itu terbagi dalam 3 lantai. Lantai basement, lantai dasar, dan lantai atas.

Masjid Islamic Center Wina (foto dari globosapiens.net)
Bangunan Islamic Center secara keseluruhan berdiri di atas tanah kurang lebih seluas 1 hektar. Kumandang azan dilantunkan hanya terdengar di dalam masjid saja karena tidak menggunakan pengeras suara. Masjid ini sangat ramai saat salat Jumat. Tiap lantai penuh, jumlah orangnya sekitar 2.000 orang. Mereka datang dari dalam dan luar kota Wina untuk salat di sini. Islamic Center di Wina adalah satu-satunya tempat yang memiliki masjid relatif besar. Di kota-kota lain di Austria juga ada Islamic Center, hanya saja tidak sebesar di Wina.

Geliat Islam di Wina

Meskipun menjadi agama ketiga, tetapi geliat dan semangat menjalankan ajaran agama Islam di Wina cukup tinggi, hal ini terlihat dari semarak dan berjubelnya warga muslim dari beragam etnis untuk menjalankan shalat tarawih, shalat jum’at dan tadarus Al-Qur’an di masjid-masjid yang cukup menampung mereka. Berbeda dengan keadaan gereja yang menghiasa seantero Wina dengan model bangunan tua nan megah justru sepi dari pengunjung dan semakin ditinggalkan oleh penganutnya. Menurut warga Austria, mereka lebih baik menjadi “Atheis” daripada terkungkung oleh aturan gereja dan pajak yang harus mereka bayar yang kadang memberatkan.

Masjid Islamic Center Wina (foto dari wikivedia)

Masjid-masjid di Wina umumnya dibangun oleh komunitas tertentu untuk sarana beribadah dan silaturahim diantara mereka, namun tetap terbuka untuk komunitas manapun yang akan menjalankan ibadah shalat. Sebagai contoh misalnya, Masjid Telfs, Masjid Rashid yang didirikan oleh komunitas Muslim Ghana dan Nigeria, Masjid Bad Voslau dan Masjid Ridvan yang dibangun oleh komunitas muslim Turki. Demikian juga Masjid Syura yang diimami langsung oleh imam dari Palestina yang bernama Syekh Ibrami Adnani, yang biasanya dilanjutkan dengan kajian tafsir berbahasa Arab. Peserta atau jama’ah kebanyakannya warga Arab atau jama’ah yang bisa berbahasa Arab.


Secara historis, Kebanyakan orang Muslim datang ke Austria setelah tahun 1960 sebagai “pekerja tamu” dari Turki, Bosnia dan Herzegovina serta Serbia. Ada juga mereka yang berasal dari keturunan Arab dan Pakistan. Keberadaan warga Turki muslim khususnya di Wina sangat membantu dalam hal menyediakan makanan dan minuman yang halal. Daging sapi, ayam dan kambing mudah didapatkan dari mereka. Bahkan justru pasar-pasar Turki lebih padat dikunjungi oleh mereka yang akan membeli kebutuhan makan sehari-hari daripada pasar-pasar yang dikelola oleh warga Austria. Jangan tanya tentang restoran Kebab Turki yang menjadi menu pavorit warga muslim di Wina.

Masjid Islamic Center Wina (foto dari wikivedia)
Masjid ini sendiri telah menjadi referensi bagi muallaf ketika ingin mendapatkan pemahaman Islam. Rata-rata 2 hingga 3 orang warga asli Austria setiap bulannya berkunjung ke masjid untuk mendapat pencerahan mengenai Islam. Mereka datang karena ingin memeluk Islam.

Kegiatan Ramdhan di Islamic Centre Wina

Seperti umumnya di bulan Ramadhan, kegiatan keagamaan terlihat cukup semarak di beberapa masjid, terutama di masjid Islamic Center yang berada cukup strategis di pinggiran sungai tempat beristirahat dan berjemur orang bule di musim panas. Di masjid ini, disediakan makanan berbuka puasa dan diadakan sholat berjama’ah lima waktu, termasuk shalat tarawih dan shalat Idul Fithri yang diimami langsung oleh seorang salah Syekh dari Arab.

interior  masjid Islamic Center Wina (foto dari  VIC)

Dua Jenis sholat taraweh

Yang unik, bahwa di masjid ini diadakan dua bentuk shalat tarawaih, di lantas atas untuk mereka yang shalat tarawih plus witir 11 rakaat dan di lantai bawah untuk mereka yang shalat tarawih plus witir 23 rakaat yang notabene dihadiri oleh mayoritas warga muslim Turki. Perbedaan shalat ini tidak menjadi pintu konflik antar beragam etnik muslim di Austria, namun justru menjadi sarana perekat dan toleran dianatara mereka. Umumnya warga muslim Indonesia lebih memilih shalat di lantai atas.


Kajian Islam

Kajian keislaman dan seminar juga kerap diadakan di masjid ini seperti kajian tentang ’I’jazul Qur’an Al-Ilmiy’ yang disampaikan secara berkala setiap pekan oleh DR. Abdullah Al-Mushlih dari Liga Muslim Dunia yang bermarkaz di Mekkah al-Mukarramah, Saudi Arabia. Demikian juga kajian ba’da tarawih tentang tafsir maupun akidah yang menggunakan bahasa Arab. Tidak ketinggalan pengislaman warga Austria diadakan di masjid ini sebagai simbol pemersatu umat muslim di Austria.

Menara Masjid Islamic center Wina mengisi langit kota Wina (Foto dari worldtravelimages 

Selain untuk kegiatan ibadah, bangunan yang diresmikan tahun 1979 itu juga dipakai untuk kegiatan pendidikan. Setiap weekend ada semacam pengajian bagi anak-anak. Ada juga forum-forum untuk dialog serta les bahasa Arab atau Jerman.

Masjid Islamic center Wina dan Muslim Indonesia

Khusus untuk warga muslim Indonesia, keberadaan Masjid Islamic Center Wina memberi arti tersendiri. Masjid ini dijadikan sebagai kiblat penentuan awal dan akhir Ramadhan, demikian juga dalam konteks beribadah, kebanyakan mengacu kepada tatacara beribadah di masjid ini, baik shalat tarawih, shalat jum’at dan sebagainya.

Islamic Center Wina (foto dari multifaith)
Setiap jum’at warga muslim Indonesia yang terdiri dari Staff KBRI, diplomat, pekerja professional dari UN, OPEC, Badan Atom International dan mahasiswa akan memadati masjid ini untuk melepas rindu dengan masjid dan bersilaturahim diantara mereka yang mungkin sukar ketemu kecuali saat bersama beribadah di masjid ini. Sungguh suatu pandangan menarik apalagi keberadaan masjid ini tepat di tepi sungai ‘Donau’ yang membentang melingkari Austria dan pusat kantor badan internasional termasuk United Nation.

Pemeluk agama Islam komposisinya 8 persen dari total penduduk Austria yang sebanyak 5,375 juta . Jumlanya 430 ribu. Dan jumlahnya meningkat 2 kali lipat dalam jangka waktu 10 tahun.  kehidupan umat Islam di Austria mudah. Pemerintah setempat memberikan kebebasan pada umat agama apapun untuk memasuki semua lini kehidupan di sana. (update1 : 29/06/2012)

Foto Foto Masjid Islamic Centre Wina

Masjid Islamic Centre Wina (foto dari panoramio)
Masjid Islamic Centre Wina (foto dari  VIC)
Masjid Islamic Centre Wina (foto dari  VIC)
Masjid Wina dalam bekunya musim salju (foto dari viennalife)
para penggermar VW kodok mengabadikan koleksi mobil mereka berlatar belakang keindahan Masjid  Vienna Islamic Centre - VIC (foto dari die-luftverkuehlten)

Referensi


--------------------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Eropa Lain-nya


Tak ada Masjid di Athena, Kaum muslimin merubah pabrik menjadi Masjid



Sudah bertahun tahun komunitas muslim di Athena (Yunani/Greek) melobi pemerintah untuk mendirikan sebuah masjid tanpa hasil yang berarti. Pada ahirnya jemaah muslim menemukan solusi mereka sendiri dengan mengubah sebuah pabrik menjadi masjid sementara di luar kota bagian selatan Athena.

Athena satu satunya ibukota negara Eropa yang tak memiliki masjid

Athena menjadi salah satu ibukota negara Eropa yang tidak memiliki masjid satupun, mengenyampingkan kedekatan mereka terhadap negara negara islam dan arab. Beberapa masjid yang didirikan semasa Turki Usamaniah berkuasa di Yunani sudah tidak lagi berfungsi sebagai masjid sejak tahun 1883. seiring dengan berahirnya kekuasaan Turki Usmaniah di Yunani.

Inisiatif dari pemerintah untuk membangun masjid baru di ibukota negara itu mendapatkan tantangan dari pihak gereja ortodok serta protes dari masyarakat terkait yang mengaitkan masjid dengan penaklukan Yunani oleh Turki Usmaniah selama 4 abad serta persaingan politik dengan Turki, tetangga Muslim mereka. Sejarah mencatat bahwa paska berahirnya kekuasaan Khalifah Usmaniah di Yunani tahun 1883, ummat islam di Yunani merosot tajam.

95% penduduk asli Yunani dibaptis menjadi Kristen ortodok dan perjanjian penukaran penduduk pada 1923 yang disebut Perjanjian Lausanne antara Yunani dan Turki. Perjanjian ini mengharuskan Muslim yang tinggal di Yunani harus pindah ke Turki. Demikian pula sebaliknya, orang Kristen yang ada di Turki harus pindah ke Yunani. Namun Muslim yang ada di wilayah Thrace dan Kristen Istanbul yang ada di Kepulauan Imvros dan Tenedos tak masuk dalam pertukaran yang disebutkan dalam perjanjian itu.

Menurut hasil survey terhadap 1500 warga athena yang dilaksanakan bulan februari 2010 lalu oleh lembaga riset VPRC menunjukkan bahwa lebih dari setengah warga athena yang berjumlah lima juta penduduk itu menentang pendirian masjid bagi kaum imigran muslim yang mencapai lima ratus ribu jiwa.

Berkali kali direncanakan, disetujui, lalu dibatalkan

Otoritas setempat tahun lalu mendapatkan dukungan gereja serta meloloskan aturan yang memungkinkan bagi pendirian sebuah masjid di tahun 2010 di pusat athena di distrik Elainonas, di lahan tahah yang cukup luas dimana bangunan stadion sepakbola sedang dalam proses pembangunan.

Aturan yang hampir sama juga pernah diloloskan sebelum penyelenggaraan Olimpiade Athena tahun 2004. bagi pendirian sebuah masjid di dekat bandar udara, namun kemudian di peti eskan setelah serangkaian protes panas dari warga setempat dan pihak gereja, yang tak menginginkan para pengunjung yang terbang ke athena disambut oleh menara masjid.

Masjid Pabrik

Skeptis dengan prospek inisiatif terbaru, populasi Muslim di ibukota negara itu yang terus membengkak karena terus masuknya migran ekonomi, ahirnya mereka memutuskan untuk menangani masalah tersebut sendirian dengan menggunakan sumbangan dari seorang pengusaha Saudi sebesar 2,2 juta Euro atau sama dengan 3,4 juta dolar Amerika Serikat, sebuah organisasi nirlaba kecil yang disebut Greek-Arab Educational and Cultural Center (GAECC) mengubah sebuah pabrik tua di sebuah kawasan industri di Moschato, Athena selatan, menjadi tempat beribadah bagi kaum muslimin di kota itu dan mampu menampung hingga lebih dari 2.000 jamaah.

Tempat itu memang jauh dari cukup untuk menampung ratusan ribu kaum muslimin di kota itu tapi mampu memberikan sedikit kenyamanan untuk beribadah, demikian di ungkapkan oleh Muhammad Ibrahim, Presiden dariGAECC kelahiran Mesir. Masjid sementara itu selain berfungsi sebagai masjid tapi juga di fungsikan sebagai sekolah “kami membantu warga yang berbahasa arab untuk mengajar bahasa arab kepada anak anak mereka tapi kami juga untuk memahami mentalitas Yunani.

dua kali dalam setahun sekitar 20 ribu muslim berkumpul dalam sholat berjamaah di stadion utama olimpiade di utara athena dan aspirasi bagi pendirian masjid yang di sponsori negarapun mengemuka “kami masih berharap akan hal itu, meskipun kami sendiri tak tahu kapan semua itu akan terwujud, meskinya itu sudah terjadi di tahun 2004 kemudian 2007 dan sekarang sudah 2010” ujar Ibrahim.

Gedung tiga lantai diatas tanah 1800 meter persegi atau setara dengan 20 ribu feet dan mirip dengan masjid masjid lainnya dibagian dalam dengan dinding dinding hingga karpet dengan pola hurup arab serta dengan sedikit sentuhan moderen berupa tivi layar lebar serta perangkat pengeras suara.  Gedung yang kini dijadikan masjid memang jauh lebih baik dibandingkan dengan tempat tempat ibadah sementara sebelumnya yang hanya berupa masjid darurat dan kusam di basemen basemen gedung bertingkat, gudang bahkan di sebuah warung kopi, yang menjadi objek pengawasan pihak kepolisan athena menjelang dan selama olimpiade athena tahun 2004 lalu ketika kekhawatiran terhadap serangan oleh ekstrimis Islam seperti yang terjadi di Istambul.

Secara teknis tempat ibadah tak resmi itu belum memiliki ijin resmi untuk di fungsikan sebagai tempat ibadah tapi otoritas setempat sengaja tutup mata sambil menunggu sebuah solusi bagi masalah tersebut. Sementara penolakan dari masyarakat setempat juga sudah melunak, dalam kasus Moschato pihak berwenang seakan tak menyadari keberadaan masjid itu. Sementara kantor walikota setempat mengatakan bahwa mereka sudah tahu tentang masjid itu sejak mereka menaikkan papan nama dipertengahan Juni seminggu sebelum masjid sementara itu di fungsikan.

Melunaknya tantangan publik ini bisa jadi karena gedung tersebut tak terlihat seperti masjid. Dengan bagian depan menggunakan bata merah, terhimpit diantara pabrik tekstil tua dan pabrik jus. Menjadikannya tersamar. “ini masih sangat baru jadi kami juga belum tahu dampaknya, sejauh ini belum terlihat dari wajah wajah penduduk” demikian dikatakan oleh Spyros Pangalospemimpin penduduk setempat.

Pihak gereja mulai mendukung

“itu tidak terlihat seperti masjid biasanya karena tidak memiliki menara, itu hanya sebuah pusat kebudayaan” demikian dikatakan oleh Grigoris Papadopoulos, wakil walikota Moschato. Juru bicara keuskupan Christodoulos, pemimpin dari gereja Ortodok Yunani, mengatakan bahwa gereja tidak keberatan dengan pusat kebudayaan itu bila keberadaan nya memang resmi tapi pemerintah harus segera mendirikan masjid yang dijanjikan.

“Muslims di Athena harus memiliki tempat ibadah mereka sendiri” demikian di utarakan oleh Archimandrite Timotheos Anthi, juru bucara gereja ortodox.

Sementara Uskup Ecumeni Vartholomaios, pemimpin spiritual kristis ortodok dunia yang berpusat di Istanbul yang juga pejuang gigih bagi toleransi lebih spesifik dalam dukungannya terhadap muslim Athena dengan menyebut bahwa Yunani dengan ibukotanya di Athena menjadi satu satunya ibukota negara Eropa yang tak memiliki masjid, demikian dikatakannya belum lama ini.

Penolakan keras terhadap masjid terus terjadi di wilayah eropa

“Islam sudah menjadi agama utama di eropa saat ini, semestinya otoritas eropa memfasilitasi kaum muslimin dalam menjalankan agamanya” demikian dikatakan oleh Hammarberg (komisi HAM Eropa) via telepon.

“Eropa kini melihat kenyataan bahwa telah terjadi peningkatan pembangunan masjid, tapi itu di danai oleh negara bukan dari uang import dari timur tengah untuk menjada independensi nya”.

Penolakan publik terhadap pendirian masjid di Uni Eropa terus saja terjadi. Sebuah proposal dari kelompok muslimin di london untuk membangun sebuah Masjid Super (Supermosque) yang mampu menampung hingga tujuh puluh ribu jemaah di Olimpiade tahun 2012 nanti telah memicu kemarahan, sebagaimana terjadi juga dengan persetujuan terhadap  pengubahan sebuah gereja tak terpakai di Clitheroe, inggis utara.

Tahun lalu, pihak berwenang provinsi di Spanyol dan Italia harus mengatasi perlawanan sangat sengit dari publik Katolik untuk pembangunan masjid bagi warga Muslim di Granada dan Tuscany. Tahun ini, rencana pembangunan mesjid di Cologne telah memicu kehebohan. Kelompok hak asasi manusia menyatakan bahwa imigran memiliki hak yang sama untuk menjalankan ibadahnya seperti warga lain.

"Hak setiap individu untuk menjalankan ibadah agama nya adalah mutlak, dilindungi oleh hukum Yunani dan hokum internasional," kata direktur kantor Amnesty International Yunani, Gerasimos Kouvaras.


Beberapa berita terkait :


--------------------------------------ooOOOoo----------------------------------


Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Eropa Lainnya