Selasa, 30 November 2010

Masjid As-Salam dan Islamic Center Santiago, Chile

Masjid As-Salam dan Islamic Center Chile (foto dari panoramio)
Islamic Center Chile merupakan organisasi nirlaba. Lembaga keagamaan Islam yang didirikan  25 September 1926 dengan nama Sociedad Unión Musulmana dengan akta pendirian No. 810 tanggal 31 Maret 1933. Organisasi ini menjadi organisasi Islam tertua dan masih aktif hingga kini di Chile. Tahun 2001 berubah nama menjadi Centro Islámico de Chile (Islamic Center Chile) dibawah payung hukum No. 19.638 yang mengatur organisasi resmi dan operasional gereja gereja dan organisasi keagamaan, serta akta No. 303 dari kementrian kehakiman Chile.

Keberadaannya sudah di uji dan di sahkan oleh kementrian Kehakiman dan didafarkan sebagai organisasi keagamaan resmi Chile dengan nomor 109 sejak 11 Juli 2001. Institusi ini menjadikan Masjid As-Salam sebagai alamat resmi nya. Islamic Center Chile mengurus tiga dari lima masjid yang ada di Chile, yaitu : Masjid As-Salam di Santiago, Masjid Nur Al-Islam di San Bernardo, dan Masjid Viña del Mar. Dua masjid yang lain tapi tidak dibawah pengelolaan Islamic Center Chile adalah Mezquita Bilal (Masjid Bilal) di Iquique dan Masjid Agung Coquimbo di kota Pelabuhan Coquimbo.


Lokasi Masjid As-Salam dan Islamic Center Chile di Santiago

Masjid As-Salam Santiago, berlokasi di Avenida Chile-Spain  antara Avenida Irarrázaval dan Simon Bolivar Avenue satu blok dari Plaza Providencia di pusat kota Santiago, Chile.

Alamat masjid : Centro Islamico de Chile - Mezquita As-Salam, Campoamor 2975, Ñuñoa commune, Santiago, Chile
Telepon : 562-3431376,
Fax : 562-3431378


Data statistik menunjukkan estimasi jumlah ummat Islam di Chile mencapai 4000 orang atau kurang dari 1% dari total penduduk negeri tersebut. Pendatang Islam pertama ke Chile bernama Pedro de Gasco dari bangsa Moor yang berasal dari Andalusia (kini Spanyol) beliau tergabung dalam expedisi Diego de Almagro namun kemudian dipaksa untuk menjadi Katholik. Meski kedatangan bangsa moor ke Chile ini tertutup oleh sejarah masa lalu, namun sejarawan Chile sudah mulai mengakui warisan budaya bangsa moor dan pengaruhnya terhadap perkembangan budaya dan identitas Chile.

Interior Masjid As Salam Santiago (foto dari flickr)
Gelombang migrasi besar besaran muslim ke Chile dimulai tahun 1856, dengan kedatangan migran Arab dari wilayah bekas Emperium Usmani (Ottoman Empire) yang kini menjadi SyriaLebanon dan Palestine. Muslim migran inilah yang kemudian mendirikan Organisasi Sociedad Unión Musulmana, dan kemudian mendirikan masjid As-Salam di Santiago.

Di penghujung 1980-an begitu banyak pribumi Chile yang masuk Islam dan terus meningkat seiring dengan selesainya pembangunan masjid. Usama Abu Gazaleh kemudian terpilih menjadi Imam Masjid setelah wafatnya Taufiq Rumie di tahun 1998. ditahun 1997 seorang muslim keturuanan Pakistan membeli tanah untuk pembangunan Masjid Bilal dan Madrasah di Iquique, dan selesai dibangun tahun 1999.

Sejarah Masjid As-Salam dan Islamic Center Chile di Santiago

Meski muslim di Chile sudah eksis dengan jumlah melebihi seribu jiwa di awal 1900-an namun sekian lama muslim Chile tak memiliki satupun masjid permanen di negeri itu. Di era 1970 hingga 1980-an, karena ketiadaan tempat permanen untuk beribadah, muslim di Chile, senantiasa berkumpul di kediaman Taufik Rumie Dalu, seorang pengusaha muslim asal Syria untuk setiap penyelenggaraan kegiatan pembelajaran dan peribadatan. Kemudian tercetus keinginan untuk mendirikan masjid pertama di Santiago.

interior masjid As-Salam Santiago (foto dari flickr)
Pembangunan Masjid dimulai tahun 1988 dibawah pimpinan Sheikh Taufiq Rumie yang telah memimpin komunitas Muslim di Chile selama lebih dari enampuluh tahun, dan selesai dibangun tahun 1989 dan diresmikan oleh Raja Malaysia 1 Oktober 1995. peresmian masjid ini menjadi momen yang begitu indah bagi muslim dan pengurus masjid As-Salam. Karena merupakan kesempatan langka bagi mereka dikunjungi oleh seorang Raja.

Arsiterktur Masjid As-Salam dan Islamic Center Chile di Santiago

Masjid As-Salam Santiago berkapasitas 500 jemaah, terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama merupakan ruang baca, ruang serba guna, kamar mandi, tempat wudhlu dan toilet serta Cafetaria. Lantai dua merupakan ruang sholat. Lantai ketiga menjadi kantor imam dan pengurus masjid serta ruangan untuk tamu.

Interior majid dilihat dari lantai dua
Bangunan utama Masjid As-Salam Santiago dirancang dengan bentuk segi delapan menyerupai masjid Kubah Al-Sakrah / kubah batu di komplek Masjidil Aqso, Palestina. Lengkap dengan kubah tunggal diatasnya dengan warna ke emasan seperti masjid kubah batu.

Aktivitas Masjid As-Salam dan Islamic Center Chile di Santiago

Berikut berbagai program dan layanan yang didukung langsung oleh Islamic Center Chile atau melalui institusi yang beroperasi dengan pola sponsorship :

·         menyebarkan program program komunitas. Melayani lebih dari 1400 jiwa di tahun 2008, baik individu, sekolah sekolah, institusi, universitas dan lain lain, yang karena beberapa alasan ingin belajar tentang Islam. Juga menghadiri permintaan permintaan untuk menghadiri konfrensi, pembicaraan atau debat publik yang kebanyakan dilaksanakan di universitas nasional yang berbeda.
·         Program program pengajaran keagamaan untuk kanak kanak. Dilaskanakan dihari sabtu untuk anak anak di distrik selatan Santiago yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal di Sekolah As-Salam.
·         Pendidikan kegamaan formal untuk kanak kanak dilaksanakan dari senin hingga Ahad di sekolah Islam As-Salam.
·         Porgram pendidikan dijalankan untuk memperkuat pelaksanaan syariat Islam diantara para keluarga Muslim (dilaksanakan di kediaman mereka masing masing dan di bawah bimbingan empat orang ulama).
·         Program memasok daging daging halal untuk komunitas muslim, dilaksanakan di masjid As-Salam.
·         Menyebarluaskan dan mengkomunikasikan program gizi halal. Dilaksanakan oleh seksi halal, yang senantiasa mengirimkan topik informasi halal untuk individu, bisnis dan lembaga pemerintah.
·         Layanan gratis untuk penyelenggaraan pernikahan, perceraian, pemakaman, penyelenggaraan jenazah untuk muslim yang kurang mampu.

Mosqueen No.1 Du Chili Santiago La Capital



Masjid As-Salam dan Islamic Center Chile (foto dari panoramio)
Interior Masjid As Salam Santiago (foto dari es.wikipedia)
Masjid As Salam Santiago (foto dari es.wikipedia)
Masjid As-Salam dan Islamic Center Chile
di Santiago dilihat dari udara (foto dari Googlemaps)
Masjid As-Salam dan Islamic Center Chile (foto dari panoramio)
Masjid As-Salam dan Islamic Center Chile (foto dari panoramio)
Masjid As-Salam Santiago (foto dari centroislamico)
Referensi


Jumat, 26 November 2010

Warisan Majapahit di Masjid Masjid Nusantara

Pasir Konci, Cikarang Selatan
Majapahit, Salah satu kerajaan besar yang menjadi cerminan kejayaan bangsa ini di masa lalu, tak hanya meninggalkan kisah kejayaan tapi juga meninggalkan warisan yang turut mewarnai arsitektural masjid asli Indonesia serta negeri serantau.

Di era awal berdirinya kesultanan Demak pasukan Majapahit dibawah pimpinan Raden Sepat menyerbu kesultanan baru itu, penyerbuan yang tak berjaya, pasukan Raden Sepat tak berdaya menghadapi Demak. Raden Sepat beserta seluruh anggota pasukan kemudian malah berikrar bakti kepada Raden Fatah, Sultan Demak.

Raden Sepat ternyata tak hanya seorang panglima pasukan tapi juga perencana bangunan yang handal. Beliau yang kemudian di amanahi untuk merancang Masjid Agung Demak yang terkenal dengan legenda Soko Tatal nya itu. Arsitektural bangunan Majapahit beliau aplikasikan kepada bangunan Masjid Agung Demak (1477M). Dengan rancangan atap joglo atau berbentuk Limas bersusun tiga. Dengan empat soko guru penyangga masjid, dan salah satu dari empat sokoguru itu yang kemudian dikenal dengan sokotatal. Atap bersusun tiga tersebut kemudian dijadikan sebagai perlambang jati diri muslim : Iman, Islam dan Ikhsan.

Raden Sepat tak hanya merancang Masjid Agung Demak (1477M) tapi dua masjid tertua di pulau Jawa berikut nya pun tak lepas dari sentuhan sang arsitek dari era Majapahit ini, Masjid Agung Kesepuhan Cirebon (1478M) dan Masjid Agung Banten (1552) juga merupakan rancangan dari Raden Sepat, tak mengherankan bila rancangan awal Masjid Agung Kesepuhan Cirebon dan Masjid Agung Banten tak jauh berbeda dengan Masjid Agung Demak.

Masjid Agung Demak secara utuh kemudian di tiru oleh para tokoh masyarakat dan Ulama kesultanan Banjar (Kalimantan Selatan) saat mereka membangun Masjid Jami’ Martapura (1897 M), utusan dari Kesultanan Banjar sengaja datang ke Demak untuk melihat Masjid Agung Demak dan membuat maket masjid tersebut lengkap dengan skala demi keperluan pembangunan masjid Jami’ kesultanan Banjar. Masjid Jami’ Martapura yang asli kini sudah berganti menjadi sebuah masjid yang begitu megah dan modern bernama Masjid Agung Al-Karomah Martapura.

Bentuk masjid beratap Joglo seperti ini tak hanya ditemui pada masjid masjid yang dibangun setelah era Masjid Agung Demak, tapi pada masjid masjid yang dibangun sebelum Masjid Agung Demak berdiri pun sudah memakai struktur demikian. Seperti contoh pada masjid tertua di Indonesia Masjid Saka Tunggal (1288) di Banyumas yang menggunakan atap joglo bertiang tunggal, itu sebabnya disebut masjid saka tunggal. Lebih jauh ke timur kita akan temukan bentuk yang sama pada Masjid Wapauwe (1414) Masjid tua Maluku Tengah.

Kita akan menemukan pola yang sama pada masjid masjid tua Indonesia diberbagai daerah seperti contoh, Masjid Sultan Suriansyah (1526) di Banjarmasih Kalimantan Selatan, Masjid Al-Hilal Katangka (1603) di kampung halaman nya Shekh Yusuf di Kabupaten Gowa, Sulsel. Dan Masjid Tua Palopo(1604) peninggalan Kesultanan Luwu di Kota Palopo, SuIawesi Selatan. Masih ada lagi Masjid Djami Keraton Landak (1895) di Kabupaten Landak, Kalimantan barat serta Masjid Agung Air Mata - Kupang (1806). Arsitektural masjid dengan atap joglo atau bentuk limas ini menyebar di seluruh tanah air dari pulau sumatera di barat hingga ke wilayah timur Indonesia.

Yang lebih menarik kemudian bahwa arsitektural  masjid asli Nusantara ini juga dipakai di masjid masjid tua di negeri serantau, seperti contohnya adalah dua masjid tua di Kota Malaka, Malaysia yakni Masjid Kampung Keling Malaka, Malaysia (1748M) dan Masjid Kampung Hulu Malaka, Malaysia (1728M). 

Tak hanya masjid masjid tua yang menggunakan rancangan masjid warisan kejayaan Majapahit itu. Arsitektur Masjid dengan atap Joglo bersusun tiga ini seperti sudah menjadi ciri khusus masjid khas Indonesia. Bila anda masih ingat dengan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, yayasan yang didirikan oleh Alm. Pak Harto semasa masih berkuasa, setiap masjid yang dibangun dengan dana dari yayasan ini selalu menggunakan atap limasan (joglo) bersusun tiga dengan 4 sokoguru pada masjid masjid yang dibangun.

Masjid masjid megah yang di beberapa kota tanah air yang didirikan di abad ini pun tak sedikit yang masih mengadopsi arsitektur tradisional asli Indonesia ini, meski dengan sentuhan modern dan berteknologi terkini, beberapa juga dibangun tanpa 4 sokoguru. Seperti contoh Masjid Raya Batam yang dibangun tahun 1997 dan bagian bangunan perluasan Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II di kota Palembang, Sumatera Selatan yang menggunakan struktur atap limas untuk tetap memberikan harmonisasi dengan atap limas bersusun tiga pada bangunan masjid asli yang masih terjaga dengan baik di bagian paling depan dari keseluruhan komplek Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II.

Indonesia, Negeri kita yang begitu besar ini tak hanya memiliki wilayah yang luas, kekayaan budaya dan tradisi, sejarah kebesaran masa lalu dan setumpuk kekayaan lain nya. Tapi juga memiliki arsitektur yang khas bagi bangunan Masjid asli Indonesia. Cukup membanggakan Bukan ?. Alhamdulillah.

wassalam

Rabu, 24 November 2010

Masjid Raya Cipaganti Bandung

Masjid Raya Cipaganti Bandung (foto dari panoramio)
Bandung, kota yang terkenal dengan sebutan Paris Van Java, Kota Kembang, juga dikenal dengan kota mode. Segudang artis dan seniman lahir dari kota ini meramaikan kesenian tanah air. Sepakbola turut mewarnai sejarah kota ini. PERSIB klub bola yang bertarung di Liga Super Indonesia itu berasal dari kota ini dan menjadi salah satu klub pendiri PSSI di masa lalu. Tak hanya itu kota ini juga kotanya Kyai kondang Ustadz Abdullah Gymnastiar atau lebih dikenal dengan nama Aa’ Gym dengan Pondok Pesantren Daarut Tauhid nya di kawasan Geger Kalong Girang, Bandung Utara.

Bukan hanya itu kota sejuk ibukota provinsi Jawa Barat ini juga menyimpan pemandangan alam yang mempesona, wajar bila kemudian Bandung menjadi salah satu kota primadona penghuni Jakarta untuk menghabiskan waktu di ahir pekan. Salah satu kawasan yang menjadi tujuan pelancong di kota Bandung ini adalah kawasan Cihampelas dengan Ciwalk nya, tempat dimana berjejer para penjual jin made in Bandung. Tentu saja jin yang dimaksud adalah jenis pakaian, bukan jin mahluk tak kasat mata itu.

Tak jauh dari jalan Cihampelas ini berdiri megah sejak dari jaman feodal Belanda, Masjid Raya Cipaganti, di jalan Cipaganti. Jalan Cipaganti ini letaknya berjejeran dengan jalan Cihampelas, bagi anda yang berkunjung ke Cihampelas cukup berjalan kaki menuju masjid tua ini.

Lokasi Masjid Raya Cipaganti


Masjid Raya Cipaganti berada di Jalan Raden AA Wiranatakusumah (Jalan Cipaganti) No 85, Bandung, Indonesia. Nama Jalan Cipaganti kini menjadi Jalan AA Wiranatakusumah, di era penjajahan dulu jalan itu bernama Banana Street. Tidak sulit menemukan masjid ini karena letaknya tepat dipinggir jalan yang jadi jalur utama menuju Lembang, kawasan wisata di utara kota Bandung.

Dari kawasan belanja Cihampelas dapat dicapai hanya beberapa menit berjalan kaki melewati jalan sastra, masjid raya Cipaganti ini berada diposisi tusuk sate jalan sastra dan Jalan Cipaganti. Sedangkan untuk pengendara kendaraan bermotor dapat berputar di bawah jalan layang dan kemudian mengambil arah ke jalan Cipaganti. Kendaraan umum yang melewati masjid ini diantaranya angkot jurusan Ciroyom-Cicaheum, Kebon Kalapa-Ledeng, dan Margahayu Raya-Ledeng. Biasanya angkot-angkot tersebut juga “ngetem” didepan masjid untuk menaikkan penumpang.

Sejarah Masjid Raya Cipaganti, Bandung

Masjid Raya Cipaganti di tahun 1934 dengan latar belakang 
gunung Tangkuban Perahu (foto dari lecturer)
Masjid Raya Cipaganti Bandung, Dirancang oleh arsitek Belanda Prof Charles Prosper Wolff Schoemaker dibantu oleh Het Keramische Laboratorium Bandung. Het Keramische Laboratorium Bandung merupakan institusi pemerintah Belanda untuk pengembangan keramik. Institusi ini kemudian dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia dan kini menjadi Balai Besar Keramik atau BBK. Sedangkan Profesor Schoemaker sendiri terkenal sebagai arsitek kondang Indonesia semasa penjajahan Belanda dengan hasil rancangannya yang masih eksis hingga kini adalah Hotel Preanger dan Villa Isola, Villa Isola kini menjadi kampus UPI (Universitas Pendidikan Indonesia dahulu dikenal dengan IKIP Bandung). Profesor Schoemaker juga merupakan guru dari Ir. Soekarno semasa kuliah di ITB (institut Teknologi Bandung).

Sebagaimana disebutkan dalam prasasti berbahasa sunda yang dipasang di tembok masjid, disebutkan bahwa Masjid Raya Cipaganti Bandung ini dibangun pada 11 Syawal 1351H atau 7 Januari 1933 dan diresmikan pada tanggal 11 Syawal 1352H atau 27 Januari 1934. Peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan oleh Bupati Bandung Raden Temenggung Hassan Soemadipradja bersama sama dengan Patih Bandung Raden Rc Wirijadinata dan Penghulu Bandung, Reden Hadji Abdoel Kadir.

papan nama Masjid Raya Cipaganti
Dibangun di tengah-tengah kawasan elit Een Westerns Enclave (Koloni pemukiman orang Barat) di kota Bandung pada masa itu, Di atas tanah seluas 2.025 meter persegi. Sumber pembiayaan pembangunan  masjid didapat antara lain dari bantuan Raden Temenggung Hasan Soemadipraja yang juga menjabat sebagai Bupati Bandung kala itu, Disamping itu, terkumpul pula sumbangan golongan bumiputera yang peduli terhadap keberadaan masjid tersebut. Masjid Raya Cipaganti merupakan salah satu tempat pembicaraan penting ketika Ir. Soekarno berada di Bandung tahun 1950-an dan juga pernah menjadi markas tentara PETA ( Pembela Tanah Air).

Pada era awal pendirian masjid, kondisi kawasan cipaganti dan Bandung utara belum seramai sekarang ini, sehingga keindahan panorama Bandung utara dan Gunung Tangkuban Perahu dapat terlihat dengan jelas dari Masjid Raya Cipaganti. Sebagaimana terekam dalam foto tua masjid tersebut. Sebagai satu-satunya masjid yang cukup representatif di zaman Belanda, letaknya yang persis di tepi jalan raya Cipaganti yang kala itu masih bernama Banana Street, membuat Jamaah yang datang tidak hanya dari lingkungan sekitar Cipaganti, tapi juga dari kawasan Dago, ITB (Institut Teknologi Bandung), dan wilayah Bandung lainnya.

Plakat Pembangunan Masjid
Tahun 1965, Masjid Raya Cipaganti diperluas untuk menampung jemaah yang semakin membludak, Masjid Raya Cipaganti yang awal nya hanya berukuran 19 x 15 meter diperluas ke bagian kiri dan kanan masjid masing masing masing seluas 19 X 15 meter. Tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya yang masih terawat dengan baik hingga kini.

Renovasi kembali dilakukan pada 2 Agustus 1979 hingga 31 agustus 1988 di masa pemerintahan Walikota Bandung dijabat oleh Ateng Wahyudi, renovasi tersebut mengubah bagian lantai bangunan asli yang tadinya berwarna merah, ditutup dengan warna putih untuk menyeragamkan warna dengan bangunan baru. Di bagian depan di buat dinding keramik yang memisahkan tempat imam dan makmum. Untuk membedakan antara bangunan asli dan bangunan baru diberikan pembatas. Di mana area bangunan lama dibuat 20 centimeter lebih tinggi dari lantai bangunan baru.

Arsitektur Masjid Raya Cipaganti Bandung

Bagian depan Masjid Raya 
Cipaganti (foto dari Mediaku)
Pada awal pembangunannya Masjid Raya Cipaganti Bandung ini tak seluas bangunan yang sekarang. Bangunan yang pertama didirikan adalah bangunan bagian tengah masjid tempat dimana mihrab dan gerbang utama masjid berada. Masjid dengan design dasar Arsitektur asli Indonesia dengan atap tajug atau berbentuk limas bersusun 3, dengan penutup atap menggunakan sirap. Empat sokoguru penyanggah atap dibagian tengah masjid, sebagaimana masjid masjid tua di pulau jawa yang dibangun mengikuti gaya arsitektur era kejayaan Majapahit, yang tak mengenal bangunan menara dan kubah bentuk bawang, dipadu sedikit sentuhan Eropa, karena sang arsitek Prof Charles Prosper Wolff Schoemaker memang orang Belanda.

Filosofi atap tajuk bersusun tiga, diasosiasikan sebagai jamaah yang bertumpuk-tumpuk memadati masjid untuk beribadah kepada Allah.  Selain itu atap bersusun tiga ini senantiasa di identikkan kepada 3 dasar kepribadian muslim yakni : Iman, Islam dan Ikhsan. Empat sokoguru masjid Cipaganti diukiran lafadz hamdallah dengan warna hijau toska, perpaduan warna hijau dan biru laut yang terlihat begitu indah. Langgam arsitektur Jawa lainnya terdapat pada detail ornamen seperti bunga maupun sulur-suluran yang tersebar ditiap ukiran.

Bagian depan Masjid Raya Cipaganti 
lengkap dengan hijab berukir dari bahan
kayu jati diletakkan pintu utama
(foto dari Mediaku)
Ciri khas arsitektur Eropa terlihat pada tata letak masjid yang ditempatkan pada posisi tusuk sate jalan Sastra di depan masjid membuat membuat tampakan masjid begitu anggun dipandang dari jalan sastra atau dari jalan Cihamplas, terlihat berbingkai pepohonan rindang. Mengingat posisi masjid yang terletak di pinggir jalan raya, maka dibagian dalam setelah pintu utama dipasang pembatas berelief motif bunga dari bahan kayu jati, berwarna hijau. Dijadikan hijab  untuk menghalangi pandangan dari luar masjid kepada jemaah di dalam masjid.  Hijab seperti ini banyak dijumpai pada bangunan bangunan bangunan Gereja dengan fungsi yang sama. Di dalam masjid masih terpasang lampu gantung bergaya Eropa klasik, yang menggayut di tengah langit-langit ruang utama tempat shalat.

Karena Masjid Raya Cipaganti tidak memiliki menara, maka pengeras suara di pasang pada bagian bawah kubah limas masjid. Meski tak terpasang di sebuah menara, suara azan dari Masjid Raya Cipaganti ini mampu mencapai kawasan sekitarnya termasuk kawasan Cihampelas. Oleh Dinas Pariwisata Kota Bandung masjid yang dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya yang harus di jaga kelestarian nya.

Aktivitas Masjid Raya Cipaganti

Sejarah Masjid Cipaganti menjadi salah satu alasan datangnya pengunjung dari luar kawasan Cipaganti termask dari luar negeri. Bahkan menurut pengurus masjid, pernah ada warga Belanda yang mengaku keturunan Profesor Schoemaker datang untuk memastikan keberadaan bangunan hasil karya nenek moyangnya ini. Uang pemeliharaan masjid dihasilkan dari swadaya dibantu infaq dari pengunjung

Lafazd Hamdallah di sokoguru 
Masjid Raya Cipaganti 
(foto dari Mediaku)
Karena letaknya yang ada di tepi jalan, masjid ini menjjadi cikal bakal penyebaran agama islam di kawasan Bandung Utara yang dimasa penjajahan Belanda diperuntukkan bagi orang orang Belanda dan sedikit saja orang pribumi. Jamaah masjid ini pada mulanya hanya masyarakat sekitar Cipaganti. Makin lama, banyak mahasiswa ITB berbondong-bondong beribadah disini (yang akhirnya memotivasi mahasiswa mendirikan Masjid Salman). Seiring berjalannya waktu, masyarakat dari berbagai wilayah lain turut menghidupkan suasana masjid ini.

Selain jadi tempat ibadah, banyak kegiatan yang dilakukan pengelola masjid seperti pengajian ibu-ibu, pembinaan rohani bagi remaja dan pendidikan untuk anak-anak. Banyaknya pengunjung, didukung oleh suasana masjid yang nyaman dan teduh, membuat masjid ini tidak pernah sepi dari kegiatan, apalagi di ahir pekan atau liburan. Acara acara semisal tabligh akbar, lomba-lomba seputar keislaman ataupun bazaar-bazaar yang menjual aneka macam barang. Selain masyarakat
Bandung, banyak  wisatawan dari luar kota yang singgah di masjid ini untuk sekedar, beristirahat dalam perjalanan, atau yang sengaja datang untuk berkunjung.

Masjid ini mempunyai fasilitas yang cukup memadai seperti toilet, tempat wudhu, tempat penitipan barang, toko yang menjual aneka barang, termasuk penyediaan sarung bagi laki-laki ataupun mukena bagi wanita. Di bulan Ramadhan suasana masjid ini  menjadi lebih meriah dengan kegiatan kegiatan dakwah, mulai dari pesantren ramadhan, Pekan studi Islam, bazaar dan sebagainya. Tak lupa juga masjid ini menyediakan buka puasa bagi para jemaah, tidak saja sajian ringan atau biasa disebut ta’jil tapi juga menyediakan makan malam lengkap bakda sholat magrib, berkat sokongan penuh dari warga sekitar masjid.

Foto foto Masjid Raya Cipaganti Bandung
Lampu antik dari era kolonial masjid berfungsi di Masjid Raya 
Cipaganti (foto dari Mediaku)
Jemaah di dalam Masjid Raya Cipaganti (foto dari flickr)
Mihrab Masjid Raya Cipaganti (foto dari Mediaku)
Masjid Raya Cipaganti (foto from flickr)
Masjid Raya Cipaganti (foto from flickr)
Masjid Raya Cipaganti dulu dan kini
Masjid Raya Cipaganti tampak depan dari jalan sastra 
(foto dari parasphoto)
Video Masjid Raya Cipaganti Bandung


Referensi

Referensi

Mediaku-Masjid Raya Cipaganti, Sumbangan Peradaban Islam di Bandung

Alhikmahonline- Masjid Raya Cipaganti, Bandung: Masjid Klasik di 'Banana Street'