Sabtu, 08 Oktober 2011

Masjid Lama Negeri Sarawak, Malaysia

Masjid Lama Negeri Sarawak (foto dari Flickr)

Sarawak atau Negeri Sarawak adalah salah satu Negara bagian Malaysia. Terletak di bagian barat pulau Kalimantan berbatasan langsung dengan Propinsi Kalimantan barat disebelah selatan, Kalimantan Timur disebelah timur, sedangkan kawasan lautnya disebelah barat berbatasan langsung dengan Propinsi Kepulauan Riau. Negeri Sarawak beribukota di Bandaraya (Kotamadya) Kuching.

Sungai Sarawak yang membelah Bandaraya Kuching sudah menjadi salah satu ikon bagi kota ini. Nama Kuching sendiri menurut berbagai sumber memang diambil nama hewan kucing. Konon pada masa lampau ketika kawasan itu masih berupa belantara ada banyak kucing hutan yang berkeliaran di kawasan disekitar sungai tersebut.


Sebagai sebuah Negara yang berazaskan Islam, Setiap Negeri (Negara Bagian) di Malaysia memiliki Masjid Negeri, Masjid Negeri dibangun dimasing masing pusat pemerintahan Negeri. (di Indonesia kita menyebutnya dengan Masjid Agung Propinsi). Begitupula dengan Negeri Sarawak.

Sarawak memiliki dua Masjid Negeri. Ini terjadi karena pemerintahan Negeri Sarawak membangun kawasan pusat pemerintahan baru di Petra Jaya, termasuk membangun Masjid Negeri yang baru. Fungsi sebagai masjid Negeri Sarawak telah dipindahkan ke Masjid Negeri yang baru di kawasan Petra Jaya tersebut. Tulisan kali ini mengulas Masjid Lama Negeri Sarawak, sedangkan masjid Negeri Sarawak di Petra Jaya, Insya Allah akan di ulas dalam tulisan berikutnya.

Masjid lama Negeri Sarawak, tampak pemakaman tua yang terawat dengan baik
disekitar masjid (foto dari 
Flickr)
Sekilas Sejarah Negeri Sarawak

Di abad ke 19 Sarawak merupakan bagian dari kesultanan Brunai namun kemudian dihadiahkan kepada seorang pengembara Inggris James Brooke atas jasanya menumpas pemberontakan di kawasan tersebut. James Brooke diangkat menjadi gubernur Sarawak pada 24 September 1841 dan diberi gelar Rajah oleh Sultan Brunei pada 18 Agustus 1842. Brooke hanya menguasai wilayah Sarawak yang paling barat, di sekitar Kuching. Kenyataan berikutnya Brooke menjadikan Sarawak sebagai kerajaan Pribadi dengan Kuching Sebagai ibukota pemerintahannya. Ia berkuasa hingga kematiannya pada 1868. Dan diteruskan oleh anggota keluarganya yang berkuasa hingga tahun 1946.

Pengganti James antara lain sepupunya, Charles Anthony Johnson Brooke, dan anak Anthoni, Charles Vyner Brooke. Wilayah yang dikuasai oleh keluarga Brooke semakin luas, dengan menguasai wilayah yang tadinya milik Brunei hingga Brunei hanya menguasai sungai strategis dan benteng di kawasan pesisir, Brookes sebenarnya telah merampas tanah para pejuang Muslim dan suku lokal. Dinasti Brooke memerintah Sarawak selama satu abad dan dijuluki "Rajah Putih",

Masjid Lama Negeri Sarawak di tahun 1847 (foto dari MASJA)
Jepang menyerbu Sarawak pada 1941 dan menguasainya selama Perang Dunia II berlangsung hingga pasukan Australia menguasainya pada 1945. Rajah secara resmi menyerahkan Sarawak kepada Britania pada 1946, di bawah tekanan istrinya dan kalangan lain. Namun Anthony tidak mengakui kedaulatan Sarawak di bawah Britania. Kaum Melayu sangat menolak upaya kekuasaan Britania terutama dengan membunuh gubernur Britania pertama.

Sudah menjadi catatan sejarah bahwa Sarawak dan Sabah pernah menjadi pusat perseteruan antara Malaysia dan Indonesia semasa kepemimpinan Bung Karno, ketika Bung Karno menggelorakan semangat Ganyang Malaysia untuk memasukkan Sabah dan Sarawak ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesa. Sarawak menjadi lokasi utama saat Konfrontasi berlangsung pada 1962 hingga 1966. Sarawak menjadi sebuah negara bagian berstatus otonomi di bawah federasi Malaysia pada 16 September 1963 walaupun sebelumnya sebagian penduduknya menolak rencana ini.

Masjid Lama Negeri Sarawak

Masjid lama Negeri Sarawak Berada di kawasan kota lama di tepian sungai Kuching, bersebelahan dengan dermaga Brooke. Tepatnya di Jalan Masjid, Kuching, Negeri Sarawak. Situs resmi : http://masja-sa.org.my/


Sejarah Masjid Lama Negeri Sarawak

Bangunan masjid pertama dibangun tahun 1847

Masjid Lama Negeri Sarawak merupakan masjid pertama yang dibangun di Sarawak. Pertama kali dibangun tahun 1847 atau 6 tahun setelah pengangkatan James Brooke sebagai Gubernur Sarawak oleh Sultan Brunai. Masjid pertama ini dibangun oleh tokoh masyarakat melayu Sarawak Datuk Patinggi Ali. Masjid pertama tersebut memang sangat sederhana, berbahan kayu, berdinding papan dan beratap limas dari kayu bulian.

Imam pertama di Masjid Negeri Sarawak ini sejak tahun 1847 hingga tahun 1890 adalah Datuk Patinggi Haji Abdul Gafur yang merupakan menantu dari Datuk Patinggi Ali. Tugas sebagai imam diteruskan oleh imam kedua, Datuk Bandar Haji Bolhassan, putra dari Datuk Patinggi Ali. Imam ketiga masjid ini adalah Datuk Imam Abdul Karim dan dilanjutkan oleh imam ke –empat, Abang Haji Mataim yang juga putra Datuk Patinggi Ali.

Bangunan Masjid Lama Negeri Sarawak tahun 1880. Bangunan masjid beton beratap
limas bersusun tiga dari bahan kayu bulian. Atap seperti ini sama persis
dengan masjid masjid di Indonesia (foto dari 
MASJA
)
Renovasi Tahun 1880

Seiring dengan pertumbuhan penduduk di kawasan tersebut masjid yang ada sudah tak lagi mampu menampung jemaah yang terus bertambah. Tahun 1880 masjid tersebut mengalami renovasi dan mulai dibangun dengan tiang cor dan lantai semen. Bentuk masjid yang sudah di beton ini masih dengan atap limas bersusun dari bahan kayu bulian. Atap limas seperti layaknya masjid masjid di Indonesia itu bertahan hingga tahun 1920-an.

Renovasi tahun 1929 – 1930

Tahun 1929 para tokoh Islam, para datuk dan masyarakat Muslim dengan bantuan dari pemerintahan Gubernur Brooke, melakukan renovasi dan perbaikan terhadap masjid ini. renovasi tahun 1929 ini menambahkan kubah di atap masjid dengan sentuhan eropa menggantikan satu tingkat dari 3 atap limasnya. Renovasi tersebut juga mengganti pintu pintu masjid dengan pintu pintu dan jendela jendela besar khas bangunan Eropa. Keseluruhan renovasi itu selesai tahun 1930. Bangunan hasil renovasi tahun 1929-1930 ini bertahan hingga tahun 1967

Masjid Lama Negeri Sarawak tahun 1930 (foto dari MASJA)
Pembangunan Masjid Tahun 1967-1968

Tahun 1958 Badan Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Besar Kuching yang kala itu jabatan presidennya dipegang oleh Mufti Sarawak Tuan Haji Yusof Shibli, membentuk Jawatan Kuasa Tabung Derma Lembaga Lembaga Amana Kebajikan Masjid Besar Kuching dengan setiausahanya dipercayakan kepada Ustazd Haji Abdul Kadir Hassan untuk mengumpulkan dana bagi perbaikan masjid. Lembaga amal ini berhasil mengumpulkan dana sebesar RM 30,000. dari kaum muslimin Sarawak.

Jumlah tersebut masih jauh dari cukup untuk membangun sebuah bangunan masjid baru yang lebih besar. Tahun 1964 Yang Berbahagia.Datuk.Abang Haji Sapuani, P.N.B.S dipilih menjadi Yang dipertua Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Besar Kuching, beliau beserta para staf nya bertekad melanjutkan usaha untuk membangun masjid ini. beliau tidak saja mengumpulkanan dana dari kaum muslimin tapi dari seluruh warga. Ketika itu dibentuklah Jawatan Kuasa Kerja Tabung Derma Masjid yang diketuai oleh Yang Berbahagia Datuk Abang Haji Maszuki Nor. P.N.B.S.

Masjid Lama Negeri Sarawak ketika di robohkan tahun 1967 (foto dari MASJA
Bulan Februari 1966 Yang Teramat Mulia Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj, Perdana Meteri pertama Malaysia di undang untuk melakukan peletakan batu pertama proses renovasi Masjid Besar Kuching. Ketika tiba di lokasi Tunku Abdul Rahman menganggap bahwa bangunan masjid yang ada sudah tidak layak untuk jadi Masjid Negeri Sarawak dan beliau mengusulkan untuk mengganti bangunan masjid tersebut dengan bangunan masjid baru yang lebih reresentatif.

Rencana tersebut diterima dengan baik oleh para tokoh muslim Sarawak meski untuk proses pembangunan tersebut diperkitakan membutuhkan dana sekitar 1 juta ringgit Malaysia, dana yang cukup besar kala itu. Setahun kemudian di tahun 1967 bangunan masjid yang lama dirobohkan menggunakan bom. Dan proses pembangunan masjid baru pun dimulai.

Masjid Lama Negeri Sarawak di tahun 1968 (foto dari MASJA)
Tahun 1968 sebuah bangunan masjid baru dengan arsitektur yang sama sekali berbeda dengan masjid sebelumnya sudah berdiri megah di atas teratak bangunan lama. Bangunan masjid baru ini diresmikan oleh Yang di-Pertuan Agung Malaysia pada tanggal 20 Oktober 1968. Bangunan hasil pembangunan tahun 1967-1968 inilah yang kini masih berdiri kokoh hingga hari ini.

Masjid Besar Negeri Sarawak yang baru ini mampu menampung jemaah hingga 4000 orang sekaligus. Kawasan masjid ini seluas 4 hektar, bangunan nya berada satu kawasan dengan Prasasti peringatan perang, Kantor Penerangan Malaysia, Rumah sakit dan kantor kantor pemerintahan lain nya. Kala itu tak jauh dari masjid ini juga berdiri Hotel Arif milik seorang pengusaha bumiputra, serta taman bermain. Masjid ini dilengkapi dengan lapangan parkir yang cukup luas. Disekiling masjid ini merupakan pemakaman muslim sejak pertama masjid ini berdiri di tahun 1847. Sedangkan di sisi belakang masjid mengalir tenang sungai Sarawak.

Masjid Lama Negeri Sarawak dengan latar belakang Sungai Sarawak (foto source)
Sumber pendanaan pembangunan masjid ini sebagian besar berasal dari pemerintah Malaysia di Kuala Lumpur. Dana awal sebesar RM. 250,000. Sumbangan dari Perdana Menteri pertama Malaysia Tunku Abdul Rahman sebesari RM. 100,000. Sumbangan dari Wakil Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak sebesar RM. 150,000. Jumlah keseluruhan dana dari pemerintah pusat Malaysia sebesar RM. 500,000. Ditambah dengan dana dari masyarakat dan pemerintah negeri Sarawak.

Arsitektur Masjid Lama Negeri Sarawak

Aroma arsitektur India sangat terasa di masjid ini. menara menara kecil lansing, menyatu dengan bangunan utama masjid, kubah bentuk bawang di puncak bangunan utama masjid, menghadirkan suasana bangunan bangunan dinasti mughal Indida di tanah melayu Malaysia Timur.

Masjid Lama Negeri Sarawak, Sungai Sarawak di latar depan dan gedung bertingkat
Bandaraya Kuching di latar belakang (foto dari
Wikipedia)
Disamping kubah utama terdapat empat lagi kubah bawang dengan ukuran lebih kecil di atap masjid ini mengitarai kubah utam. Empat menara ramping di kempat penjuru bangunan utama masjid. Ditambah lagi empat menara di masing masing mengapit dua pintu utama sisi kiri dan kanan masjid.

Sentuhan Eropa pada bangunan masjid sebelumnya yang selesai dibangun tahun 1880 sama sekali menghilang dari bangunan baru ini. kesemua kubah yang ada di cat dengan warna ke emasan. Warna ke emasan dalam tradisi melayu merupakan perlmabang kemakmuran, kebesaran dan kemegahan. Itu sebabnya kebanyakan kesultanan Melayu menggunakan warna emas atau warna kuning sebagai warna kebesaran. Meski fungsi sebagai masjid negeri sudah beralih ke masjid besar di Petra Jaya namun masjid ini masih menjalankan fungsinya sebagai tempat ibadah utama bagi muslim di kawasan tersebut.

Masjid Lama Negeri Sarawak (foto source) 
Pengelolaan Masjid Lama Negeri Sarawak

Masjid Lama Negeri Sarawak atau juga dulunya disebut Masjid Besar Negeri Sarawak dikelola oleh Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Negeri Sarawak (LAKMNS), lembaga ini didirikan tahun 1958 dengan nama Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Besar Kuching. Lembaga ini dikukuhkan sebagai badan hokum dengan nama The Masjid Besar (Kuching) Charitable Trust tahun 1960.

7 Januari 1981 lembaga tersebut berubah menjadi Masjid Negeri Sarawak Charitable Trust atau Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Negeri Sarawak. 19 Mei 1994 permohonan untuk pengesahan dari parlemen diajukan ke Parlemen Sarawak (Dewan Undangan Negeri) dan pada 3 Juni 1994 Dewan Undangan Negeri mengesahkan peraturan baru tentang lembaga lembaga sosial di Sarawak. Peraturan baru itu memberikan peluang bagi lembaga lembaga social termasuk LAKMNS untuk membetuk badan usaha dan turut serta berkecipung dalam bidang ekonomi. Tentu saja hal ini memberikan implikasi positif bagi perkembangan lembaga lembaga Islam yang sudah berbadan hokum di seluruh Negeri Sarawak.

Foto foto Masjid Lama Negeri Sarawak

Sudut lain masid lama Negeri Sarawak (Foto dari geolocation)
Masjid Lama Negeri Sarawak dilihat dari arah sungai Sarawak (foto dari geolocation)
Masjid Lama Negeri Sarawak (foto source)
Referensi

id.wikipedia - Sarawak
ms.wikipedia – Bandaraya Kuching
asiaexplorers.com – old state mosque kuching

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang berkomentar berbau SARA