Sabtu, 31 Maret 2012

Masjid Al-Makmur, Tanah Abang - Jakarta


Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang, Megah dalam usia nya yang sudah
begitu tua (foto : siarmasjid)

Ada yang tak kenal Tanah Abang ?, rasa rasanya orang Indonesia sangat mengenal pasar satu ini setidaknya pernah mendengar keberadaan pusat ritel dan grosir terbesar di Asia Tenggara ini. Di Kawasan Tanah Abang berdiri sebuah masjid tua yang tak bisa dilepaskan dengan sejarah Tanah Abang, namanya Masjid Jami' Al-Makmur Tanah Abang. Masjid tua ini resminya bernama  Masjid Jami' Al-Ma'mur Tanah Abang [sebagaimana tertulis di atas pintu utama masjid] namun lebih dikenal dengan nama Masjid Al-Ma'mur saja, merupakan salah satu dari belasan masjid tua yang masih tersisa di Jakarta. Masjid ini dibangun pada tahun 1704 oleh bangsawan Kerajaan Islam Mataram pimpinan KH Muhammad Asyuro.

Kini masjid yang seumur dengan sejarah keberadaan Tanah Abang ini terkepung oleh hingar bingar pusat perdagangan Tanah Abang, Di kiri kanan masjid jami ini sudah tidak ditemukan lagi perumahan penduduk karena hampir seluruh daerah sekitarnya menjadi pusat kegiatan bisnis. Halaman depan masjid ini bahkan sudah tergerus dalam arti sebenarnya oleh perkembangan pusat bisnis Tanah Abang, pekarangan depannya habis dipakai untuk pelebaran jalan dan disesaki oleh para pedagang dan parkir kendaraan.

Lokasi Masjid Al-Makmur – Tanah Abang

Masjid Al-Makmur
Jl KH Mas Mansyur No.6, Tanah Abang
Jakarta Pusat, Propinsi DKI Jakarta
Indonesia




Sejarah Masjid Al-Makmur, Tanah Abang

Serangan Mataram ke Batavia

Puncak dari kegeraman raja Mataram, Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma dengan ulah VOC dibawah pimpinan Jenderal Jan Pieterzoen Coen di Batavia maka, pada tanggal 27 Agustus 1628 pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Bahureksa [bupati Kendal] tiba di Batavia. Pasukan kedua tiba bulan Oktober dipimpin Pangeran Mandurareja. Total semuanya adalah 10.000 prajurit. Menyerbu Batavia dalam gelombang serangan pertama. Perang besar terjadi di Benteng Holandia. Pasukan Mataram mengalami kehancuran karena kurang perbekalan.

Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya pada tahun berikutnya. Pasukan pertama dipimpin Adipati Ukur berangkat pada bulan Mei 1629, sedangkan pasukan kedua dipimpin Adipati Juminah berangkat bulan Juni. Total semua 14.000 orang prajurit. Kegagalan serangan pertama diantisipasi dengan cara mendirikan lumbung-lumbung beras tersembunyi di Karawang dan Cirebon. Namun mata mata VOC berhasil menemukan dan memusnahkan semuanya, menyebabkan pasukan Mataram kurang perbekalan, ditambah wabah penyakit malaria dan kolera, sehingga kekuatan pasukan Mataram sangat lemah ketika mencapai Batavia.

Bagian depan Masjid Jami Al Ma'mur(okezone)
Walaupun kembali mengalami kekalahan, serangan kedua Sultan Agung ini berhasil membendung dan mengotori Sungai Ciliwung, yang mengakibatkan wabah kolera melanda Batavia. Gubernur jenderal VOC, Jenderal Jan Pieterzoen Coen tewas menjadi korban wabah tersebut. Di antara anggota pasukan Mataram tersebut ada yang memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram, mereka kemudian menetap di Batavia menjadi da’i dan membangun sejumlah masjid, Sedikit banyak, orang-orang Mataram ini memberi pengaruh pada pembentukan budaya awal masyarakat Betawi. Mulai dari struktur bahasa, adat istiadat, pakaian sampai nama-nama tempat di sekitar Betawi tempo dulu.

Sejarah Awal Masjid Al-Ma’mur – Tanah Abang

Perkembangan Islam di Batavia ditradisikan juga oleh orang-orang dari Mataram ini. Salah seorang bangsawan keturunan Kerajaan Mataram yang tercecer dari perang itu, adalah KH. Muhammad Asyuro. Muhammad Asyuro kemudian memilih wilayah Tanah Abang sebagai tempat mukimnya yang baru. di pemukiman baru tersebut sisa pasukan Mataram ini dibawah pimpinan KH Muhammad Asyura mendirikan sebuah mushola berukuran 12×8 meter di tahun 1704 Masehi. Keberadaan langgar ini terus berlanjut sampai ke keturunan KH. Muhammad Asyuro berikutnya. Kedua anak KH Muhammad Asyuro, KH. Abdul Murod Asyuro dan KH. Abdul Somad Asyuro tercatat menjadi penerus dakwah ayah mereka hingga masuk ke abad 20.

Masjid Al-Ma’mur, masjid tua yang kini semakin terjepit diantara pusat 
perbelanjaan di kawasan Tanah Abang (foto : indoplaces.com)
Pada tanggal 30 Agustus 1735 (31 tahun setelah berdirinya Langgar KH. Muhammad Asyuro) Yustinus Vinck seorang tuan tanah Belanda mulai mendirikan pasar di Tanah Abang yang hanya buka setiap hari Sabtu, karenanya kemudian disebut Pasar Sabtu, dan saat itu mampu menyaingi pasar Senen yang sudah lebih maju. Pembangunan pasar itu memicu percepatan perkembangan kawasan Tanah Abang.

Pembangunan Besar Besaran

Semakin berkembangnya perkampungan dan bertambahnya jumlah penduduk sekitar langgar, maka atas inisiatif tokoh masyarakat Tanah Abang keturunan Arab, Habib Abu bakar bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Habsyi, tahun 1915 langgar diubah menjadi masjid besar 44m x 28m, diatas tanah wakaf dari Habib Abu bakar dengan rancangan dari seorang arsitek Belanda. Masjid yang dibangun di atas tanah wakaf seluas 1.142 m2, ini kemudian diberi nama Al-Makmur. Habib Abu Bakar Alhabsyi adalah salah seorang pendiri rumah yatim piatu Daarul Aitam di jalan yang sama. Sebagian besar biaya pembangunan masjid ini yaitu f 35.000 bahkan ditanggung sendiri oleh Habib Abu Bakar. Dalam badan pengurus Yayasan Misigit Djemat Tanah Abang Al-Mansoer (1914) selalu terdapat empat anggota keturunan Arab dan tiga orang muslim lain.

Suasana di dalam Masjid Al-Ma’mur (foto : masjid-alma’mur on fb)
Tahun 1932 masjid ini diperluas hingga ke arah utara seluas 508 m2. Perluasan di atas tanah wakaf Salim Bin Muhammad bin Thalib itu kemudian ditambah lagi dengan sebidang tanah milik masjid di bagian belakang seluas 525 m2 di tahun 1953. Jadi luas total masjid ini sebesar 2.175 m2. Ketika masih ada kuburan wakaf [kini jadi rumah susun Tanah Abang], warga keturunan Arab yang meninggal dunia sebelum dimakamkan terlebih dulu jenazahnya dishalatkan di Masjid Al-Makmur. Para pedagang dan pembeli di Pasar Tanah Abang juga menjadikan masjid tua ini sebagai tempat shalat mereka terutama shalat dzuhur dan ashar.

Arsitektural Masjid Al-Makmur, Tanah Abang

Gaya bangunan masjid ini menyerupai arsitektur masjid di Timur Tengah, namun dengan sentuhan yang cukup modern. Bangunan kubah utamanya berwarna hijau dan terlihat dari segala arah. Kesan klasik juga sangat terasa jika berada didalam masjid itu. Bentuk kusen pintu dan jendela bergaya arsitektur abad 17, menambah kesan mendalam jika masjid tersebut mempunyai nilai historis yang tinggi.

Mimbar dan Mihrab Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang 
Dua menara pendek mengapit tiga pintu masuk, yang atap bangunannya berbentuk kubah. Gaya bangunannya menyerupai masjid Timur Tengah. Bangunannya berkubah utama wama hijau menyolok, terlihat dari segala arah. Kubah, elemen bangunan yang umum dijumpai pada masjid-masjid Indonesia di Masjid Al Makmur memiliki bentuk yang unik.

Bagian bawahnya berbentuk segi empat yang mengecil di bagian atas menyerupai topi bishop atau kupola. Sedangkan puncak kedua menara yang mengapit kubah utama berbentuk bawang seperti lazimnya kubah-kubah. Peletakan kubah dan sepasang menara tersebut menyerupai bentuk arsitektur masjid di Asia Barat di mana pintu masuk utamanya (iwan) diapit oleh dua menara tinggi. Bangunan masjid Al Makmur menerima penghargaan Sertifikat-Sadar Pemugaran 1996. Di dalam lingkungan masjid yang dapat menampung hingga 5.200 jamaah ini terdapat tiga makam yang dikeramatkan, dan terlihat masih banyak warga yang berziarah ke makam tersebut.

Interior masjid Al-Ma’mur Tanah Abang (foto dari tnol)
Masjid Al-Makmur, Tanah Abang kini

Bertahan di gerusan zaman

Masjid yang sangat bersejarah ini, di depannya tampak kumuh. Terutama oleh para pedagang kaki lima yang mangkal di depan masjid dan tumpah ruah ke jalan. Sementara mobil dan motor menjadikannya sebagai tempat parkir saat mereka hendak berbelanja ke pusat-pusat perdagangan Tanah Abang. Akibat pengembangan jalan, kini Masjid Al-Makmur hanya menyisakan (habis) beranda depan dengan tiga gerbang berpilar ramping berbentuk kelopak malati dan list-plang dengan lima lubang angin serta dua menara berkubah kecil bergaya mercusuar (dengan jendela dan teras) di kiri kanan bangunan utama. Sementara pedagang kaki lima kadang-kadang dengan enaknya menjajakan dagangannya di muka masjid.

Makin berkembangnya bisnis di Tanah Abang, mengakibatkan Jalan KH Mas Mansyur dan sekitarnya seperti Kebon Kacang I sampai Kebon Kacang VI kini sudah berubah fungsi. Sebagian besar rumah telah menjadi tempat pertokoan, ekspedisi, dan gudang-gudang. Tidak heran kalau harga tanah yang berdekatan dengan Proyek Pasar Tanah Abang termasuk termahal di Jakarta. Seperti ketika pembangunan jembatan Metro Tanah Abang, rumah-rumah yang tergusur mendapat ganti rugi Rp 10 juta per m2. Menurut sejumlah warga, harga tanah milik mereka saat ini harganya Rp 20 juta per meter persegi.

lokasinya yang berada pusat perbelanjaan di kawasan Tanah Abang 
menjadikan masjid ini benar benar berada di hiruk pikuknya aktivitas
masyarakat di kawasan perdagangan tersebut (foto : indoplaces.com)
Area Peratarungan Berebut rezeki

Jarak masjid Al-Makmur yang hanya seitar 100 meter dari pusat grosir tanah abang sudah dapat dipastikan lahan di depan masjid ini menggiurkan beberapa pihak untuk mengeduk keuntungan, akibatnya lahan tersebut menjadi rebutan berbagai pihak yang tak urung berujung pada bentrokan seperti yang pernah terjadi pada hari rabu dinihari 21 Maret 2012 lalu ketika dua kelompok pemuda terlibat bentrokan di Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat tepatnya di depan Masjid Al-Makmur ini.

Pemicu dari keributan, diduga lantaran memperebutkan lapak didepan Masjid tersebut. Setiap harinya, didepan masjid terdapat puluhan pedagang kaki lama dan parkiran sepeda motor. Omset dari pedagang dan parkiran disana tergolong cukup besar, tak ayal lahan tersebut menjadi rebutan dua kelompok yang masih bertetangga ini. Saat ini polisi dari Polsek Tanah Abang pada ahirnya harus turun tangan mengehntikan aksi anarkis tersebut dan berjaga-jaga di lokasi.

Fauzi Bowo [Gubernur DKI Jakarta] dalam suatu kesempatan memberikan 
santunan kepada anak yatim piatu di Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang 
(foto : bpadjakarta)
Disinggahi Pimpinan Negara

Sejumlah petinggi negeri pernah menyempatkan singgah dan sholat di masjid ini. Termasuk Presiden Soekarno, M Natsir, KH. Ahmad Dahlan [pendiri Muhmmadiyah], tokoh NU Wahid Hasyim, Presiden Megawati, Wapres Hamzah Haz, Wapres Try Sutrisno dan presiden SBY saat masih menjabat sebagai Pangdam, dan tentu saja Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo atau bisa dipanggil Foke.

Mimbar dilengkapi dengan tulisan indah 
kaligrafi. (okezone)
Selama bulan suci Ramadhan, pengelola masjid mempunyai berbagai kegiatan keagamaan. Tujuannya untuk menyemarakkan Ramadan. Seperti salat Tarawih berjamaah, mengundang da'i untuk berceramah. Selain itu, setiap hari di masjid ini diadakan acara buka puasa bersama dengan para jamaah. Hampir setiap hari, sejumlah pedagang Tanah Abang menyumbangkan makanan dan minuman untuk menu berbuka bagi para jamaah masjid ini maupun para warga yang kebetulan singgah.

Masjid Masjid disekitar Tanah Abang

Sekedar informasi, bagi anda yang sedang berkunjung ke Tanah Abang selain Masjid Al-Ma’mur ini di kawasan ini tersedia masjid masjid lainnya yaitu : Masjid Pasar Tanah Abang (MPTA) masjid besar cukup mewah di atap lantai 14 Pasar Tanah Abang blok A. Masjid Al-Ikhlas di Blok G lantai 4. Masjid di lantai atap di Blok B dan Masjid Al-Abraar di Jalan Jati Baru X, di seberang Stasiun Kereta Tanah Abang. Masjid ini berada di gang yang juga dipenuhi kios pedagang pakaian jadi terutama pakaian muslim seperti gamis, baju koko, peci, jilbab, dan lainnya.

Lihat video Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang di republikaonline


Foto Foto Masjid Al-Ma'mur Tanah Abang

Bagian dalam terlihat sejumlah pilar kuat menopang bangunan besar 
Masjid. Kesan lawas pun terlihat dari daun pintu, jendela, dan mimbar. 
(foto : okezone)
gaya timur tengah sangat kental di fasad depan masjid Al-Ma'mur
foto dari
pelitaonline
Musikus Dangdut kondang yang juga da'i, Rhoma Irama memberikan 
ceramah menyambut Maulid Nabi di Mesjid Al-Makmur, Tanah Abang
jakarta,  (foto dari antara)
hamparan Sajadah Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang (foto : siarmasjid) 
Referensi

alwishahap.wordpress.com – masjid tua dikepung pusat perbelanjaan
Jakarta.go.id – almakmur tanah abang masjid
siarmasjid.blogspot.com – masjid masjid di kawasan pasar tanah abang

--------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Jakarta Lain-nya


Masjid Jami al-Mansyur, Kampung Sawah Lio - Jakarta

Masjid Jami' Al-Mansyur Sawah Lio, Jembatan Lima, merupakan salah satu bangunan bersejarah dan tertua di DKI Jakarta. Didirikan pada taha tahun 1717 kini dibawah perlindungan Dinas Musium dan Sejarah DKI Jakarta.

Masjid Jami al-Mansyur dulu bernama Masjid Jami Kampung Sawah, merupakan salah satu masjid tua di Jakarta, terletak di Kelurahan Jembatan Lima Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Pertama kali dibangun tahun 1130H/1717M oleh Abdul Malik putera dari Pangeran Cakrajaya yang sebelumnya bergabung dengan pasukan Mataram menyerang Belanda di Batavia. Sejarah masjid ini tak lepas dari kiprah pahlawan nasional KH. Mohammad Mansyur yang namanya kemudian di abadikan sebagai nama masjid Jami bersejarah ini dan nama jalan yang melintas tak jauh dari masjid ini. Tahun 1980 berdasarkan SK Mendikbud serta SK Gubernur DKI, masjid ini terdaftar sebagai benda cagar budaya.

Lokasi Masjid Jami al-Mansyur, Kampung Sawah Lio

Masjid Al Mansyur
Jl. Sawah Lio II/33 Kampung Sawah Lio
Kelurahan Jembatan Lima
Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.
DKI Jakarta – Indonesia





Sejarah Masjid Jami al-Mansyur, Kampung Sawah Lio

Dibangun oleh Bangsawan Mataram

Pada satu peta abad ke-19, kampung ini disebut Sawah Masjid. Didirikan pada abad 18, tepatnya tahun 1130 H (1717 M), Pembangunan masjid ini dirintis oleh seseorang dari Kerajaan Mataram bernama Abdul Malik, beliau adalah putra dari Pangeran Cakrajaya, yang sebelumnya bergabung dengan Tentara Mataram berperang di Batavia. Hingga dua abad kemudian kegiatan dakwah diteruskan oleh keturunan Abdul Malik, seperti Imam Muhammad Habib, dan ulama-ulama perantau seperti Imam Muhammad Arsyad Banjarmasin, pengarang kitab Sabilil Muhtadin. Imam Muhammad Arsyad Banjarmasin inilah yang kemudian memperbaiki letak mihrab masjid. Pembentulan arah kiblat itu diakukan bersama-sama dengan sejumlah ulama lokal pada 2 Rabiul Akhir 1181 H atau 11 Agustus 1767 M.

Kiprah KH. Muhammad Mansyur di Masjid Jami’ Kampung Sawah

Dua abad berikutnya, tanggal 25 Sya’ban 1356H/1937M dibawah pimpinan KH. Muhammad Mansyur bin H. Imam Muhammad Damiri diadakan perluasan bangunan masjid. Berturut kemudian, untuk menjaga terpeliharanya tempat suci serta makam-makam para ulama [di depan kiblat], maka di sekitar masjid dibuatkan pagar tembok [sekarang berpagar besi].

Di masa awal setelah proklamasi kemerdekaan, masjid ini digunakan oleh KH. Muhammad Mansur sebagai tempat mobilisasi pejuang sekitar Tambora untuk melawan Belanda, Sebuah pertempuran frontal pernah terjadi di muka masjid. Terjadi baku tembak antara pejuang RI yang berlindung di masjid dengan tentara NICA yang kala itu masuk dari Pelabuhan Sunda Kelapa bergeser ke selatan menuju daerah Kota lalu menyebar ke sekitar Tambora.

Interior Masjid Jami' Al-Mansyur. Arsitekturnya memadukan budaya Jawa, China, Betawi dan Arab. Empat sokoguru ini menopang atap dan mezanin kecil serta tangga menuju atap, yang dulunya digunakan oleh muazin untuk naik ke menara saat akan mengumandangkan azan.

Baku tembak itu dipicu oleh tindakan berani KH. Mohammad Mansur yang mengibarkan bendera Merah Putih di atas kubah menara masjid ini. Sesudah peristiwa tersebut KH. Muhammad Mansur lalu dipanggil ke Hofd Bureau [Polsek] untuk diadili dan ditahan atas tindakannya itu. KH. Muhammad Mansur wafat pada tanggal 12 Mei 1967, dan kepengurusan masjid ini dilanjutkan oleh Badan Panitia Kepengurusan Masjid Jami Al-Mansyur hingga sekarang. Sebagai bentuk penghargaan kepada almarhum KH. Muhammad Mansur, pemerintah RI kemudian mengabadikan nama beliau sebagai nama Masjid tempat beliau berjuang ini sekaligus menjadi nama jalan persis di muka Jalan Sawah Lio II, Kelurahan Jembatan Lima.

Arsitektural Masjid Jami al-Mansyur, Kampung Sawah Lio

Arsitektural Masjid Jami Al-Mansyur merupakan akulturasi budaya Jawa, China, betawi dan Arab. Masjid dengan atap joglo [limas], dua tingkat dan ditopang empat pilar besar berdiameter 1,5 meter. Jendelanya hanya sebuah lobang segi empat berteralis kayu profil gada pada setiap sisi tembok. Model pintunya, berdaun dua dengan profil pahatan bulian. Kini, tembok, jendela dan pintu di semua sisinya dimajukan sejauh 10 meter.

Ruang utama masjid al Mansur yang sekaligus bangunan tertua, bersegi empat (12 x 14.40 m). Unsur yang mencolok adalah empat sokoguru yang kokoh dan tampak kekar di tengahnya. Bagian bawah tiang-tiang ini bersegi delapan dan diatasnya terdapat pelipit penyangga, pelipit genta serta rata. Batang utama (di bagian tengah) berbentuk bulat dan dihiasi pelipit juga. Bagian teratas berbentuk persegi empat dan dibatasi pelipit.

KH. Muhammad Mansyur
Pada ketinggian setengah diantara keempat sokoguru terdapat balok-balok kayu antara lain untuk menopang kedua tangga yang menuju ke loteng. Di atas balok-balok selebar 55 cm itu di sisi kanan dan kiri dipasang pagar setinggi 80 cm. Pola pagar ini berbentuk belah ketupat. Konstruksi ini dan bentuk sokoguru bergaya barat. Atap masjid ini tumpang tiga yang berbentuk limasan. Menara, yang terletak di ruang baru di depan masjid lama, berbentuk silinder setinggi dua belas meter. Pada bagian keempat dan kelima dari menara itu terdapat teras yang berpagar besi. Atap menara berbentuk kubah.

Tahun ‘60-an adalah kali kedua masjid di Jalan Sawah Lio ini dipugar. Hasilnya seperti yang terlihat sekarang. Merapat dengan jalan di selatan, di bagian utara dan timur berdempetan dengan pemukiman. Seperti Masjid Al-Alam, Al-Anwar dan As-Salafiyah, bangunan asli masjid ini berukuran 12 x 14.40 m :::bekasnya adalah bagian terendah di dalam masjid::. Arsitekturnya pun tak jauh berbeda dengan model-model masjid masa itu.

Video Masjid Jami Al-Mansur ada disini dan disini

Foto Foto Masjid Jami al-Mansyur, Kampung Sawah Lio

Perhatikan sajadahnya yang sengaja dimiringkan untuk menyesuaikan arah kiblat.
Pengajian Bulanan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga ( PKK ) Tingkat Kecamatan Tambora, serta pemberian santunan anak Yatim Piatu. dilaksanakan di Masjid Jami Al- Mansyur.
Makam Sang Pejuang, KH. Muhammad Mansyur, lebih dikenal sebagai Guru Mansyur oleh masyarakat Betawi, salah satu tokoh masyarakat Betawi yang begitu berjasa dan berpengaruh, sejaman dengan Guru Mugni dari Masjid Baitul Mughni.
--------------------

Referensi
jakarta.go.id – al mansur, masjid

--------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Jakarta Lain-nya


Jumat, 30 Maret 2012

Masjid Jami’ Cikini Al Ma'mur, Jakarta

Masjid Jami’ Cikini Al-Ma’mur atau Masjid Cikini, Surau Raden Saleh yang selamat dari penggusuran (foto dari vivanews.com)

Di tepi Kali Ciliwung, membelakangi Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta, Berdiri kokoh melewati waktu lebih dari 150 tahun, sebuah masjid tua yang sarat dengan sejarah. Namanya Masjid Jami' Cikini Al-Ma'mur, namun lebih dikenal dengan nama Masjid Cikini. Masjid itu merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta, di bangun diatas tanah milik pelukis ternama Raden Saleh dalam tahun 1860. Masjid tua yang menyimpan kisah perjuangan panjang kaum muslimin mempertahankan hak atas masjid ini.

Sederet tokoh tokoh pahlawan Nasional pernah menorehkan nama mereka dalam sejarah mempertahankan masjid ini sejak era penjajahan Belanda hingga ke masa kemerdekaan sampai ahirnya Masjid Al Ma’mur Cikini ahirnya benar benar kembali ke pangkuan ummat Islam hingga hari ini. Tak hanya sejarah mempertahankannya tapi sejarah pembangunannya pun tak lepas dari kegigihan dan tekad muslim Batavia dalam masjid ini, sejarah mencatat warga muslim setempat bahkan rela mengumpulkan beras demi mendanai pembangunan masjid ini.

Lokasi dan Alamat Masjid Al Ma’mur Cikini

Jl. Raden Saleh Raya RT.3/RW.3, Cikini, Menteng, 
Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10330





Siapakah Raden Saleh

Beliau adalah seorang pelukis ternama, bernama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman. Lahir di Terbaya dekat Semarang sekitar tahun 1814 dari keluarga aristokrat keturunan Arab. Ia mendapat beasiswa untuk belajar di negeri Belanda tahun 1829, di sana berkenalan dengan kalangan ningrat dari banyak istana di Eropa, khususnya dengan Grojbherzog von Sachsen-Corburg-Gotha. Raden Saleh menerima gelar ksatria Belanda, Austria dan Prusia. Dialah pelukis Indonesia yang paling berbakat dan berhasil pada abad ke 19. Sekembalinya di Jawa dari Eropa pada tahun 1851, ia menetap di Batavia, di sebuah rumah bergaya gotik yang dirancang sendiri dan dibangun di daerah Cikini. Ia banyak melukis dalam gaya romantis dengan komposisi dramatis. Banyak lukisannya diterima ke dalam aneka koleksi kerajaan maupun pribadi di Eropa, khususnya di berbagai Museum di Amsterdam. Lukisannya yang terkenal antara lain: Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857) dan Berburu Banteng (1851) yang disimpan di Puri Bhakti (kompleks Istana).

Raden Saleh
(foto : wikipedia)
Raden Saleh adalah pelukis Jawa pertama yang secara sistematis menggunakan cat minyak dan mengambil teknik-teknik Barat: realisme pada potret, pencarian gerak, perspektif dan komposisi berbentuk piramid dan sebagainya. Kini ia dikenal sebagai "bapak" ilmu seni lukis Indonesia. Sebagian masyarakat seni rupa (ahli sejarah, kritikus, praktisi, pecinta seni) menyebut bahwa seni lukis Indonesia modern diawali sejak Raden Saleh (1807-1880), yang berkiprah pada pertiga abad ke-19. Sebagai cicit Sayid Abdullah Bustam dan putra Sayid Husein bin Yahya, Raden Saleh selama di Maxem, Jerman mendirikan sebuah mushola bertuliskan basmalah dalam bahasa Jerman dan Jawa. Sementara di dekat kediamannya di Cikini ia juga membangun sebuah surau (1860). Setelah beberapa kali tergusur surau tersebutlah yang kini menjadi masjid Cikini Al-Ma’mur. Dari garis keturunannya Raden Saleh merupakan saudara sepupu dari Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman bin ‘Abdullah bin Muhammad al-Habsyi Atau lebih dikenal dengan nama Habib Ali Kwitang, Ulama kondang dan berpengaruh di Batavia, pendiri majelis taklim Kwitang, Masjid Ar-Riyadh Kwitang dan Islamic Center Indonesia di Kwitang.

Sebagai penyayang binatang, Raden Saleh mendirikan kebon binatang pertama di Cikini, yang masih merupakan bagian dari tanah kediamannya. Kebon Binatang ini pada masa gubernur Ali Sadikin akhir 1960-an dipindahkan ke Ragunan, Jakarta Selatan. Kediamannya di Cikini terbentang dari TIM, dua bioskop (Garden Hall dan Podium), kolam renang Cikini, hingga SMP I Cikini, yang dulunya merupakan pintu gerbang untuk masuk ke kediamannya. Ketika pindah ke Bogor, pelukis ini menjual rumah beserta tanahnya pada Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, pemilik gedung Museum Tekstil di Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Kemudian rumah dan tanah yang luas itu dijual pada Koningen Emma Ziekerhuis (Yayasan Ratu Belanda Emma), dengan harga 100 ribu gulden. Mengetahui rumah dan tanah akan dijadikan rumah sakit, Abdullah Alatas memotong harga penjualan jadi 50 ribu gulden. Ketika Indonesia merdeka, yayasan ini menyerahkannya kepada RS PGI Cikini.

Masjid Jami Cikini setelah proses pemugaran oleh Belanda di tahun 1926. besarnya sokongan Syarikat Islam kepada Masjid ini membuat Parpol terbuat memasang lambang partainya berupa Bintang dan Bulan Sabit pada fasad depan masjid ini sebagai simbol perlawanan terhadap arogansi Belanda.

Ketika terjadi kerusuhan di Bekasi pada 1869 oleh kelompok Islam, Raden Saleh dituduh turut mendalanginya. Kediamannya digeledah, setelah dikepung 50 serdadu bersenjata lengkap. Pelukis ini meninggal di Bogor tahun 1880 dan dimakamkan di Jl. Bondongan (kini Jl Pahlawan). Bersebelahan dengan makam istrinya RA Danurejo, putri dari Keraton Kesultanan Mataram.

Sejarah Masjid Jami’ Cikini Alma’mur

Surau Raden Saleh

Sejarah Masjid Cikini dimulai pada tahun 1860, Raden Saleh dan masyarakat sekitar membangun sebuah surau disamping kediamannya (kini menjadi asrama perawat RS Cikini). Akibat kedekatan pelukis kondang ini dengan umat Islam setelah ia menikah kembali dengan wanita keturunan Kraton Yogyakarta ia dituduh terlibat dalam kerusuhan di Tambun (Kabupaten Bekasi). Kerusuhan tersebut digerakkan kelompok Islam yang menentang pemerintah kolonial Belanda. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti, tapi Belanda tetap mengenakan tahanan rumah kepadanya.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Yayasan Masjid Al Ma'mur, sesudah Raden Saleh meninggal dunia (1906), tanah itu dimiliki Sayed Abdullah bin Alwi Alatas, yang pemilikannya diperkuat oleh Keputusan Pengadilan Negeri No 694 tanggal 25 Juni 1906, sebagai suatu kelanjutan dari Keputusan Pengadilan Negeri No 145 tanggal 7 Juli 1905.

Tanah itu dibeli melalui sebuah pelelangan. Tanah yang sangat luas ini kemudian oleh Sayed Abdullah Bin Alwi Alatas, salah satu tokoh gerakan Pan Islam dijual kepada 'Koningen Emma Stichingi' (Yayasan Ratu Emma - yang bernaung di bawah Pemerintah Kolonial Belanda) dengan harga 100 ribu gulden. Tapi karena yayasan ini ingin membangun rumah sakit, harganya dikurangi menjadi 50 ribu gulden dengan penegasan bahwa masjid (surau) yang ada di sana tidak boleh dibongkar.

Keaslian Masjid Jami CIkini masih terkonservasi hingga kini, sebagai benda cagar budaya, Masjid Jami Cikini memang dirawat ke-asliannya termasuk tulisan nama masjid dalam huruf arab berikut dengan lambang Syarikat Islam di fasad depannya.

Selamat dari Penggusuran Oleh Pemerintah Belanda

Perjanjian jual beli antara Sayed Abdullah Bin Alwi Alatas dengan 'Koningen Emma Stichingi' diingkari pemerintah kolonial Belanda. Masjid yang dibangun Raden Saleh digusur dan dipindahkan ke pinggir kali Ciliwung. Akibatnya, tempat ibadah ini kerap kebanjiran. Tahun 1890 tercatat sebagai tahun ketika masjid itu dipindahkan secara gotong-royong dengan diusung beramai-ramai oleh masyarakat sekitar. Tanah yang dipilih sebagai lokasi baru adalah tanah milik Sayid Ismail Salam bin Alwi Alatas yang lain di lokasi masjid sekarang.

Kala itu masjid masih berbahan bambu. Pada tahun 1925, 'Koningen Emma Stichingi' yang masih saja merasa gerah dengan keberadaan masjid yang beberapa ratus meter saja jaraknya dari tempat mereka, dengan dukungan pemerintah kolonial Belanda, meminta agar masjid yang sudah dirasakan sebagai milik umat Islam Cikini harus dipindahkan (digusur) ketempat lain. Dengan alasan, di tempat masjid itu berada akan dibangun gereja.

Niat untuk memindahkan masjid ini menimbulkan reaksi yang keras bukan saja dari masyarakat di Betawi, tapi juga umat Islam di Pulau Jawa. Umat Islam merasa tertusuk hatinya, dengan perintah pembongkaran rumah Allah ini. Sebagai rasa setiakawan, maka kala itu mereka melakukan perlawanan. Tidak tanggung-tanggung, perlawanan ini dipelopori oleh sejumlah tokoh Islam, HOS Tjokroaminoto, KH Mas Mansyur, H Agus Salim, dan Abikoesno Tjokrosoeyoso. Mereka adalah tokoh-tokoh Syarikat Islam (SI), yang kala itu merupakan satu-satunya ormas Islam yang kemudian menjadi PSII. Inilah sebabnya pada gapura masjid terdapat lambang SI hingga saat ini.

Pemugaran Tahun 1926

Gencarnya reaksi menentang dari umat Islam ternyata menciutkan nyali Belanda. Sekiranya Belanda tetap ngotot niscaya terjadi pertumpahan darah. Sesudah pertentangan mereda, pada 1926 masjid Al Ma'mur dipugar oleh ummat Islam. Pemugaran ini dimotori oleh tokoh umat Islam diatas, sebagai manifestasi perlawanan umat Islam terhadap tindakan pemerintah kolonial, diketuai oleh H Agus Salim. Masyarakat muslim bergotong royong membangun masjid dengan mengandalkan sumbangan segenggam beras, Beras yang dikumpulkan itu dijual ke pasar dan hasilnya dibelikan bahan bangunan untuk membangun masjid ini. keseluruhan proses pembangunan itu selesai tahun 1935.

Interior di bangunan asli Masjid Jami Cikini Al-Ma'mur

Perjuangan 27 Tahun

Pada 1960-an, saat demokrasi terpimpin, situasi politik di tanah air memanas. Saat itu umat Islam (menjelang G30S/PKI), sibuk menghadapi move-move politik. Dalam situasi demikian, tanpa sepengetahuan umat Islam/pengurus masjid tanah masjid diambil/diakui oleh Dewan Geredja-geredja Indonesia menjadi miliknya dengan cara mensertifikatkan tanah masjid tersebut di atas namanya. Saat itu yang menjadi Menteri Agraria adalah Hermanses SH dan Perdana Menteri Dr. J Leimena.

Tahun 1964, ketenangan beribadah kaum muslimin di sekitar Masjid Al Makmur diganggu oleh Kementrian Agraria RI yang menerbitkan SK hak milik berupa sertifikat tanah atasnama Dewan Gereja Indonesia (DGI). Dalam sertifikat itu disebutkan bahwa tanah di sekitar masjid ::: termasuk tanah yang di atasnya dibangun masjid itu ::: diklaim milik DGI. Padahal di tahun yang sama, Masjid Al Makmur telah berbadan hukum berbentuk Yayasan Masjid Al Makmur bernomor akta notaris 13, tertanggal 8 Juli 1964 dengan notaris Adasiah Harahap. Badan pendirinya, disebutkan adalah Sukaryo Mustafa seorang pedagang yang bertempat tinggal di jalan Cisadane, serta Kamil Cokroaminoto (keturunan HOS Cokroaminoto), lalu H. Abdul Karim Naiman, seorang pegawai negeri (sekarang anaknya  ::: H. Sabihun Naiman::: menjadi ketua pengurus Masjid Al Makmur).

Aksi penyerobotan itu rupanya (lagi-lagi) dirancang oleh pihak Koningen Emma Stichting, yang mensertifikatkan tanah itu atasnama DGI secara diam-diam. Sertifikat itu didaftarkan kepada Kementrian Agraria---yang ketika itu dirangkap oleh PM J.Leimena yang juga sekaligus Direktur RS Cikini, dan dinyatkan secara sah milik DGI. Sampai tahun 1970-1975, pihak rumah sakit tetap bersikeras menyatakan bahwa tanah masjid adalah bagian dari kompleks rumah sakit.

Interior Masjid Jami Cikini 

Pada tahun 1987 saat perundingan segi tiga antara gubernur, DGI dan pengurus masjid, pihak RS DGI Cikini menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan tanah tersebut. Namun pengurus masjid menegaskan, ''Kami tidak ada sangkut pautnya dengan DGI. Kami meminta agar tanah kami dikembalikan.'' Upaya upaya perundingan turut dibantu oleh Walikota Jak-Pus Abdul Munir di tahun 1989 hingga tahun 1990.

27 tahun lamanya perjuangan mengembalikan hak kaum muslimin atas tanah masjid Cikini dan ahirnya, pada hari Jumat  24 Mei 1991, Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Admodarminto atas nama pemerintah RI dihadapan jamaah Masjid Cikini mengumumkan sertifikat tanah atas nama DGI yang mencakup tanah masjid Al-Ma'mur telah dicabut. Tanah masjid telah dikembalikan kepada umat Islam dengan sertifikat tersendiri atas nama Yayasan Masjid Al Ma'mur yang diketuai oleh Mayjen (purn) HM Joesoef Singedekane, mantan gubernur Jambi.

Pada 1993, setelah berbulan-bulan berusaha mendapatkan IMB untuk merenovasi/membangun masjid dan sekolah/madrasahnya, maka pada 4 Maret 1993 izin IMB keluar. Dan dimulailah membangun sekolah berlantai dua untuk menggantikan sekolah yang lama. Kini, di samping masjid Cikini ini berdiri cukup megah perguruan Islam. Mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) sampai SLTA. Masyarakat sekitar Cikini merasa bangga akan keberadaan masjid ini, karena ia merupakan lambang perjuangan umat Islam menghadapi kolonialisme Belanda.

Masjid Jami’ Cikini Al-Ma’mur Saat ini

Saat ini masjid Cikini memiliki dua bangunan utama, bangunan pertama merupakan bangunan masjid asli yang dibangun dimasa penjajahan Belanda, kemudian pengurus masjid Cikini membangun duplikat masjid lama tepat dibelahnya dengan arsitektur bangunan yang lebih modern dan lebih luas. Bangunan baru ini tidak difungsikan setiap hari, pusat kegiatan tetap di bangunan asli, sedangkan di bangunan baru difungsikan untuk kegiatan tertentu termasuk sholat Jum’at, dua sholat hari raya maupun kegiatan keagamaan lainnya. Di samping Masjid Cikini juga berdiri gedung sekolah Islam milik Masjid CIkini yang terdiri dari TK Islam, Madrasah Ibtidaiyah, SMP Islam, Madrasah Diniyah hingga sekolah menengah kejuruan bisnis manajemen.

Referensi

kompas.com via indowebster - bangun masjid al-ma'mur dari beras
wildanielearning.blogspot.com – masjid al-ma’mur cikini
Jakarta.go.id – raden saleh

--------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Jakarta Lain-nya