Jumat, 26 Oktober 2012

Masjid internasional Dubai Phnom Penh – Kamboja (bagian 1)

Masjid Nurul Ihsan atau Intenational Dubai Phnom Penh Mosque atau juga kadang disebut sebagai Boeng Kak Lake Mosque karena memang lokasinya berdiri di tepian sebelah timur danau Boeng Kak di Kota Phnom Penh. Masjid ini sebenarnya kini sudah diruntuhkan dan dalam proses pembangunan ulang.

Nama masjid ini sebenarnya adalah Masjid Nurul Ihsan namun lebih sering disebut sebagai International Dubai Phnom Penh Mosque, merupakan masjid terbesar di kota Phnom Penh ibukota Kamboja. Berlokasi di sisi timur danau Boeng Kak di pusat kota Phnom Penh. Sayangnya keberadaan masjid ini jauh dari perhatian pemerintah, kondisinya kurang mendapatkan perawatan yang semestinya, cat dinding tampak kusam dan terkelupas di sana sini, maklum karena memang statusnya yang bukan sebagai Masjid Negara, mengingat muslim di Cambodia merupakan pemeluk agama Minoritas.

Danau Boeng Kak di kota Phnom Penh ini tadinya merupakan salah satu tempat paling popular di kota itu terutama bagi para pengelana berkantong pas pasan. Di sekitar danau ini bertaburan pondok pondok penginapan bertarif murah dengan pemandangan danau yang alami, termasuk Masjid Nur Ihsan yang berdiri di sisi timur danau ini tak luput dari objek foto menarik bagi para pengelana yang menginap di daerah tersebut.

Objek Wisata ::: dulu, Danau Boeng Kak ini merupakan salah satu objek wisata andalan kota Phnom Penh terutama untuk para back packer karena tersedia begitu banyak penginapan murah disekitar danau ini. Pemandangan alami danau yang memang di 'terkesan kumuh" di tengah kota Phnom Pen, menjadi daya tarik tersendiri. Sementara Masjid Nurul Ihsan di sisi timur danau ini menjadi salah satu objek foto pavorit para pengelana.
Sejak tahun 2007 lalu pemerintah Kamboja telah menjalankan rencana untuk mengubah kawasan tersebut menjadi kawasan bisnis dan hunian mewah. Danau Byoeng Kak sudah ditimbun dengan pasir sedot dari danau Tonle Sap dan Sungai Mekong. Bangunan Masjid Nurul Ihsan juga sudah dirobohkan tahun 2011 lalu dan sedang dalam proses pembangunan kembali menjadi sebuah masjid yang lebih besar dan lebih megah. Nantinya bila sudah selesai masjid ini mampu menampung lebih dari 1000 (seribu) jemaah sekaligus dan akan menjadi masjid terbesar dan termegah di Kamboja.

Lokasi dan Alamat masjid Nur Ihsan

International Dubai Phnom Penh Mosque
Phnom Penh  016 277 788
No. 1, Maot Chrouk (St. 86), Srah Chak commune
Phnom Penh’s Daun Penh district. Phnom Penh. Cambodia
Behind Phnom Penh Hotel, 12201


Masjid Masjid di Kota Phom Penh

Komunitas muslim di Kamboja cukup besar dalam angka meskipun sangat kecil dalam persentase terhadap jumlah total populasi negara tersebut. Di pusat kota Phnom Penh sendiri diketahui secara umum ada dua masjid yakni Masjid Internasional Dubai Phnom Penh dan masjid Al-Azhar yang ukurannya lebih kecil. Namun berdasarkan catatan Yellow pages, di Phnom Penh ada 6 Masjid masing masing adalah :

(1).  International Dubai Phnom Penh Mosque
Phnom Penh  016 277 788. No. 1, Maot Chrouk (St. 86), Behind Phnom Penh Hotel, 12201
Phnom Penh  016 826 768. No. 3, Street 173 Tuol Svay Prey I commune 12308 Chamkarmorn district, Pnom Penh.
(3). Masjid Al - Rahmah (Mukdach)
Phnom Penh  012 223 493. Tonle Sap (Rd.), Village 3, Sangkat Chroy Changvar, 12110
(4).  Masjid Jami'ul Islam (Toul Tumpoung)
Phnom Penh  012 688 499. No. 3, St. 173, Sangkat Toul Svay Prey 1, 12308
(5).  Masjid  Al - Azhar (Kolalaom)
Phnom Penh  012 582 559. Mekong River (Rd.), Village 2, Chroy Changvar,
(6).  Masjid  Al - Mukarram (Prek Raing)
Phnom Penh  011 894 257. Prek Tasek (St.), Prek Raing Village, Sangkat Prek Tasek

Boeng Kak Lake Mosque ::: dibangun pertama kali tahun 1968, di renovasi total tahun 1990 dengan bantuan dana dari Uni Emirat Arab, Dirobohkan tahun 2011 untuk dibangun kembali sebagai masjid terbesar dan termegah di Kamboja dengan dana juga dari Uni Emirat Arab.
Selain masjid masjid tersebut, di pinggiran kota Phnom Penh bertabur bangunan masjid, terutama di kawasan berpenduduk mayoritas muslim seperti di Kilometer ke 7 hingga kilometer ke 9, ke arah kota Uodong di Utara kota Phnom Penh. Diantara masjid masjid tersebut yang paling tua adalah Masjid Nurul Ihsan di Chrang Chamres yang berada di Kilometer ke 7 dari kota Phnom Penh. Masjid tersebut pertama kali dibangun tahun 1813 dan lolos dari penghancuran Rezim Komunis Khmer Merah, meski sempat dijadikan kandang babi. Nikmati foto menarik kampung muslim Kamboja, di sini.

Masjid, Saksi Keteguhan Muslim Kamboja

Kekejaman rezim Pol Pot terhadap rakyat Kamboja meninggalkan bekas mendalam di negeri itu terutama bagi ummat Islam. belakangan diketahui bahwa Pol Pot dan rezimnya memang menarget ummat Islam di Kamboja untuk dibersihkan dari negeri itu karena dianggap bukan bagian dari Kamboja. Berbagai laporan tentang jumlah pasti korban pembantaian yang dilakukan oleh “Jagal Indocina” itu memang tak ada yang sama. Diperkirakan 2 juta penduduk Kamboja meregang nyawa dan hampir 500 ribu diantaranya adalah penduduk muslim.

Tampak Depan ::: kondisi masjid ini memang cukup memprihatinkan, kerusakan disana sini termasuk catnya yang mengelupas termakan usia tanpa perawatan. wajar bila kemudian Penyandang dana dari Uni Emirat Arab lebih memilih untuk merobohkan bangunan ini dan membangun ulang masjid baru di lokasi yang sama.
Kuburan kuburan massal para korban masih saja terus ditemukan termasuk temuan tanpa sengaja saat penggalian pondasi bagi pembangunan gedung kawasan bisnis di kota Phnom Penh. Kerangka manusia ditemukan bertumpuk dalam satu liang, sebagian besar dari mereka dalam kondisi tangan terikat ke belakang dan mata tertutup. Dari kalangan ummat Islam sendiri hanya tersisa 21 orang imam, salah satu diantaranya adalah imam masjid di Kilometer 7 Phnom Penh.

Sebuah keteguhan yang luar biasa dalam mempertahankan Aqidah ditunjukkan oleh imam Masjid Nurul Ihsan di KM 7 ini ketika di tahun 1981, dua tahun setelah runtuhnya rezim Khmer Merah, wartawan Indonesia Sabam Siagian berkunjung kesana dan mewawancarai Imam Masjid tersebut dan luar biasanya meski mereka baru saja mengalami peristiwa pembantaian paling memilukan sepanjang sejarah Indocina.

Boeng Kak lake Land Mark ::: setelah sekian lama menjadi penanda di sisi timur danau Boeng Kak Masjid Nurul Ihsan di bongkar tahun 2011 lalu, begitu pun dengan danaunya yang ditimbun oleh pemerintah Kamboja lalu lahan hasil reklamasi tersebut disewakan selama 99 tahun kepada pihak swasta untuk dijadikan kawasan bisnis dan hunian mewah.
imam masjid ini sama sekali tidak meminta bantuan kemanusiaan yang semestinya merupakan hal yang paling utama mereka butuhkan saat itu, tapi beliau justru meminta dibantu segera memperbaiki masjid masjid mereka yang hancur.

“mereka (khmer merah) anti agama dan tidak bisa menerima kehadiran muslim champa disini”. Lebih lanjut beliau meminta Sabam Siagian untuk menyampaikan kepada rakyat Indonesia bahwa mereka membutuhkan bantuan financial untuk membangun kembali masjid masjid mereka yang hancur, juga meminta dikirimi kitab suci Al-Qur’an, guru guru agama serta kemungkinan bagi mereka untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekah***.


Bersambung ke Bagian 2.

Senarai Pustaka

Agnès De Féo - Transnational Islamic Movement in Cambodia.pdf
hotsocialevent.blogspot.com - A Muslim mosque to be built at Boeung Kak Lake
constructingcambodia.wordpress.com - Mosque gone, more houses demolished
hotsocialevent.blogspot.com - muslim-mosque-to-be-built-at-boeung-kak

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Asean Lain-nya


Sabtu, 20 Oktober 2012

Islam dan Masjid di Kamboja (bagian 2)



Muslim Kamboja di bawah Rezim Khmer Merah

Keadaan berubah ketika Khmer Merah yang berfaham Komunis mengambil alih kekuasaan negara di tahun 1975. Awalnya Khmer Merah berdiri di tahun 1968 sebagai organisasi cabang dari Tentara rakyat Vietnam yang kala itu berkuasa di Vietnam Utara.  Pergolakan politik di Kamboja memang cukup rumit. Setelah merdeka dari Prancis, Negara ini berkali kali mengalami pergolakan politik dan kudeta.

Di tahun 1970 tepatnya tanggal 18 Maret 1970 Jenderal Lol Nol bersama Pangeran Sisowath Sirik Matak dengan dukungan  Amerika melakukan kudeta dan menggulingkan kekuasaan pangeran Norodom Sihanouk, peristiwa yang terkenal dengan sebutan Cambodian coup . Tujuh bulan setelah itu tepatnya tanggal 9 Oktober 1970 mereka memproklamasikan pendirian Negara Republik khmer, Jenderal Lon Nol sebagai kepala Negara dan pangeran Sisowath Sirik Matak sebagai Perdana Menteri.

Negara Republik khmer berahir pada tanggal 17 April 1975 ketika pasukan Khmer Merah yang berkoalisi dengan pangeran Norodom Sihanouk berhasil menguasai kembali ibukota Phnom Penh. Khmer Merah kemudian mendirikan Negara Demokratik Kampuchea, pangeran Norodom Sihanouk bertindak sebagai kepala negara namun kemudian malah tersingkir tanggal 2 April 1976, Khmer Merah mengendalikan pemerintahan Negara secara utuh dibawah kendali Pol PotNuon CheaIeng SarySon Sen, dan Khieu Samphan. Sedangkan Pol Pot bertindak sebagai Kepala Negara.


Khmer Merah berupaya mengembalikan kejayaan pertanian Kamboja seperti yang pernah terjadi di abad ke sebelas dengan mengerahkan seluruh kekuatan rakyat ke lahan pertanian. Yang terjadi selanjutnya justru adalah malapetaka tak terperikan bagi rakyat Kamboja. Khmer Merah melakukan pembantaian secara massif terhadap rakyat Kamboja selama mereka berkuasa dari tahun 1975 hingga tahun 1979. Diperkirakan dua juta rakyat Kamboja terbunuh, dan 500 ribu diantaranya adalah warga muslim Kamboja, di samping itu juga terjadi pembakaran masjid, madrasah dan mushaf serta pelarangan menggunakan bahasa Champa.

Khmer Merah  telah menghancurkan setidaknya 132 masjid, muslim dilarang beribadah. Paska keruntuhan Khmer Merah di Phnom Penh tersisa 6 masjid saja dan dari ratusan ulama Islam hanya tersisa 20 orang saja yang selamat dari pembantaian. Selama kekuasaan rezim Khmer Merah terjadi gelombang pengungsian besar besaran Muslim Champa di Kamboja ke Berbagai Negara. Sebagian kecil dari mereka tiba di Laos dan membentuk komunitas muslim dan menetap disana hingga kini sebagaimana sudah di ulas dalam tulisan sebelumnya. (Baca Islam dan Masjid di Laos bagian 1 dan bagian 2).

Kekuasaan Khmer merah berahir, ketika pasukan Vietnam menginvasi Kamboja, dan meletuskan perang Kamboja-Vietnam. Pasukan Vietnam berhasil menguasai ibukota Phnom Penh tanggal 7 Januari 1979, dan membentuk pemerintahan baru. Pasukan Vietnam bertahan di Kamboja hingga tahun 1989, sampai kemudian Pasukan Internasional dibawah kendali UNTAC mulai masuk ke Kamboja di tahun 1979 termasuk di dalamnya adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Kontingen Pasukan Garuda XII.

Tahun 1979 Vietnam Menginvasi Kamboja, dan di tanggal 7 Januari 1979 pasukan Vietnam berhasil menguasai kota Phnom Penh, mengahiri kekuasaan rezim Khmer Merah yang kemudian menjalankan pemerintahan di pengungsian, namun perang baru justru baru di mulai.

Muslim Kamboja Hari ini

Paska peristiwa mengerikan tahun 1970-an tersebut, secara umum keadaan penduduk Kamboja mulai membaik dan kaum Muslimin dapat melakukan kegiatan keagamaan mereka dengan bebas, mereka telah memiliki 268 masjid, 200 mushalla, 300 madrasah Islamiyyah dan satu markaz penghafalan Al Qur’anulkarim. Selain itu mulai bermunculan organisasi-organisasi keislaman, diantaranya adalah Islamic National Movement for Democracy of Cambodia, yang di ketuai oleh Sary Abdullah.

Kemiskinan masih mendera Negara Kamboja termasuk sebagian besar muslim disana. Diperparah lagi dengan keterpencilan mereka dari pusat pemerintahan Negara. Rendahnya akses terhadap kebutuhan infrastuktur yang mendasar seperti jalan raya, air bersih, listrik telekomunikasi hingga surat kabar.  Masalah finansial turut mendera pendidikan bagi anak anak muslim disana, gaji para tenaga pengajar tidak mencukupi kebutuhan keluarga mereka, kurikulum pendidikan agama sangat kurang dan tidak baku.

Setiap sekolah ditangani oleh seorang guru yang membuat kurikulum sendiri yang umumnya masih lemah dan kurang, bahkan ada beberapa sekolah diliburkan lantaran guru-gurunya berpaling mencari pekerjaan lain yang dapat menolong kehidupan mereka. Mereka juga sangat membutuhkan adanya terjemah Al Qur’anulkarim dan buku-buku Islami, khususnya yang berkaitan dengan akidah dan hukum-hukum Islam.

Muslimah Kamboja dapat dikenali dengan busana muslim yang mereka pakai, tampak hadir bersama masyarakat Kamboja lainnya dalam perayaan hari jadi raya Kamboja yang diselenggarakan secara nasional.
Hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan oleh Nos Sles (Nuh Saleh), Director of Deparatment of Education and Human Resources di Cambodian Muslim Development Foundation saat berkunjung ke PBNU Jakarta, Jumat, 5 Oktober 2012 yang lalu. Nos Sles menjelaskan Muslim Kamboja masih hidup di bawah garis kemiskinan. Rata-rata adalah petani, dan sebagian menjual kue kecil-kecilan. Ia sangat berharap, lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia bisa memberikan beasiswa kepada anak-anak muda Muslim Kamboja. Lebih jauh, Nos Sles menceritakan umat Muslim di Kamboja. Selama ini, yang banyak memberikan bantuan dalam pendidikan adalah Malaysia dan negara-negara Timur Tengah.

Hingga tahun 2005, jumlah pemukiman Muslim di Kamboja telah mencapai 417 desa, dengan rata-rata tiga hingga tujuh sekolah Islam di setiap desa. Saat ini kaum Muslimin Kamboja berpusat di kawasan Free Campa bagian utara sekitar 40 % dari penduduknya, Free Ciyang sekitar 20 % dari penduduknya, Kambut sekitar 15 % dari penduduknya dan di Ibu Kota Pnom Penh hidup sekitar 30.000 Muslim. Di kota Phnom Penh sendiri terdapat setidaknya enam Masjid, yang terbesar adalah Masjid Nurul Ikhsan atau Lebih dikenal sebagai International Dubai Phnom Penh Mosque di tepian Danau Boeng Kak, kota Phnom Penh.

Pemerintah Kamboja kini berinisiatif  memuluskan toleransi bagi muslim di Kamboja. Dari pihak pemerintah, Perdana Menteri Hun Sen memerintahkan pembangunan masjid dan memberi saluran udara gratis bagi Muslim untuk menyiarkan program-program khusus Islam. Beberapa waktu lalu, pemerintah setempat mengijinkan siswa Muslim yang ingin mengenakan atribut Islam termasuk jilbab. Tak hanya itu, Muslim pun menikmati hak-hak politik mereka. Ada lebih dari selusin Muslim yang kini bertugas di lembaga-lembaga politik papan atas negara, mulai dari Senat, Dewan Perwakilan. Senator Premier (salah satu anggota senat) pun memiliki penasihat khusus urusan Muslim.

suasana Sholat Zuhur di Masjid Al-Azhar, salah satu masjid di Kota Phnom Penh, Ibukota Kamboja.

Tiga Kelompok Muslim Kamboja

Sebagaimana dijelaskan oleh Sary Abdullah dari Islamic National Movement for Democracy of Cambodia, muslim Kamboja terbagi dua kelompok, yakni Muslim Suni yang menjalankan Islam sesuai dengan syariat sama seperti yang dilaksanakan oleh muslim Arab, dengan persentase sekitar 70% dari keseluruhan Muslim Kamboja. Dan ada kelompok ke dua yakni sekelompok muslim Fojihed sekitar 5% dari Muslim Kamboja yang masih mengikuti ajaran dan tradisi lama sebelum Islam terutama dalam hal supranatural dan kekuatan sihir. Sebuah tradisi yang juga menjangkiti sebagian kecil dari muslim Indonesia.

Selain dari itu bila di elaborasi lebih jauh berdasarkan latar belakang etnis (asal negara serta bahasa ibu yang digunakan) serta tata cara peribadatan mereka sehari hari, dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yakni : dua kelompok muslim yang tadi sudah dijabarkan oleh Sary Abdullah. Serta kelompok ketiga yang disebut kelompok muslim Chvea, yang merupakan muslim Kamboja bukan dari etnis Champa, juga tidak berbahasa Champa. Muslim Chvea ini adalah muslim yang berasal dari Indonesia terutama dari tanah Jawa, jumlah mereka ada sekitar 20 hingga 25% dari total keseluruhan muslim Kamboja saat ini. Mayoritas dari mereka tinggal di sekitar Battambang. Pemerintah Kamboja menyebut keseluruhan Muslim Kamboja ini sebagai “Khmer Muslim”.

Suasana Kampong Cham.
Hubungan Indonesia dan Kamboja

Indonesia dikenang dengan manis oleh rakyat Kamboja. Menjelang kemerdekaannya, Indonesia banyak membantu negara Kamboja ini. Buku - buku taktik perang karangan perwira militer Indonesia banyak digunakan oleh militer Kamboja. Oleh karenanya, para calon perwira di militer Kamboja, wajib belajar dan dapat berbahasa Indonesia. Semasa bergejolaknya perang saudara di Kamboja, tahun 1992-1993 Indonesia secara resmi lima kali mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Kamboja yang tergabung dalam Kontingen Garuda XII/A,B,C,D dan  Garuda XII (Civpol) di bawah misi UNTAC.

Selain masalah politik, Indonesia juga memiliki peran besar dalam bidang kebudayaan yakni dalam program restorasi Candi Angkor Wat yang lapuk dimakan zaman dan rusak akibat perang. Candi Angkor Wat yang sudah terkenal ke mancanegara itu dibangun oleh Suryawarman II putra dari Raja Jayawarman II tahun 7770, setelah menimba ilmu arsitektur cukup lama di kerajaan Mataram Hindu di pulau Jawa. Maka tak heran bila kemudian Kalangan sejarawan seperti David Chandler, menganggap bahwa Angkor Wat itu merupakan pasangan dari Candi Borobudur. 

KBRI di Phnom Pehn telah sejak lama membuka Pusat Kebudayaan Indonesia dengan program kursus bahasa Indonesia, tari dan drama, diikuti oleh puluhan warga Kamboja. Mereka menunjukkan minat yang besar terhadap kebudayaan Indonesia. Muslim disana berharap masyarakat Islam Indonesia khususnya bisa memberikan beasiswa bagi para siswa Muslim Kamboja, terutama yang berada di Kampong Cham. Hingga kini kitab kitab tulisan Ulama Indonesia masih menjadi rujukan pengajaran Islam disana termasuk penggunaan aksara Jawi (aksara arab pegon). Diantara kitab kitab yang masih dipakai adalah Tanbihul Ghofilin, kitab fiqah (fikih) Sabilul Muhtadin karya Syekh Arsyad Al Banjari (Banjar Kalimantan Selatan). Suatu hal yang menunjukkan begitu dekatnya muslim Kamboja dengan Muslim Indonesia.***

Referensi

id.wikipedia – kontingen garuda
en.wikipedia.org -  history_of_vietnam
en.wikipedia.org - Religion_in_Cambodia
CIA world fact book - cambodia

Artikel Terkait


Islam dan Masjid di Kamboja (bagian 1)

Kamboja diantara negara negara tetangganya di Indocina

Kamboja atau Cambodia merupakan negara  monarki konstitusional di Asia Tenggara, penerus Kekaisaran Khmer yang pernah menguasai seluruh semenanjung Indochina antara abad ke-11 dan 14. Kamboja memperoleh kemerdekannya dari Prancis pada tanggal 9 November 1953. Prancis berkuasa di Kamboja sejak tahun 1863 dan memasukkannya ke dalam bagian dari koloni Prancis di Indochina (French Indochina) bersama dengan Laos dan Vietnam, sejak itu Kamboja menjadi sebuah kerajaan konstitusional dibawah kepemimpinan Raja pertamanya, Norodom Sihanouk.

Kamboja ber-ibukota di Phnom Penh, kepala negaranya saat ini dipegang oleh Norodom Sihamoni yang merupakan putra dari Raja Norodom Sihanouk, sedangkan jabatan perdana menteri dipegang oleh Hun Sen.  Sejak tanggal 16 Desember 1998 Kamboja bergabung menjadi anggota Asean ke sepuluh.  Secara geografis, Kamboja berbatasan langsung dengan Thailand di sebelah barat, Laos di utara, Vietnam di timur, dan wilayah sisi selatannya menghadap ke Teluk Siam. Sungai Mekong dan Danau Tonle Sap melintasi negara ini.

Tahun 2011 yang lalu Kamboja sempat terlibat pertikaian bersenjata dengan Thailand di sekitar Kuil Preah Vihar. Perselisihan kedua negara bertetangga ini memang sudah berlangsung sejak lama meski di tahun 1962 Mahkamah Internasional telah menetapkan Kuil Preah Vihar adalah milik Kamboja, namun perselisihan tak berhenti disitu. Di tahun 2011 lalu baku tembak antara militer dua negara tak terhindarkan, mengundang keprihatinan banyak pihak. Pertempuran ahirnya berhenti namun Kamboja seringkali menutup akses dari Thailand menuju kuil yang memang hanya terpaut beberapa puluh meter dari garis perbatasan dua negara bertetangga tersebut.

Masjid An-Nikmah, Potiin, di Kampong Cham
Thailand dan Kamboja memiliki akar yang sama, kedua negara ini sama sama mengklaim diri sebagai pewaris kerajaan Khmer yang pada awal mulanya didirkan di Laos Utara tahun 657 oleh Jayavarman I sampai kemudian wilayahnya mencakup hampir keseluruhan kawasan Indochina hingga sebagian kecil wilayah utara Malaysia. Kuil Preah Vihar yang disebutkan tadi merupakan salah satu peninggalan masa kejayaan kerajaan Khmer. Sekitar 95% penduduk Kamboja merupakan etnis Khmer dan secara tradisi turun temurun menganut Agama Budha Theravada, sama seperti mayoritas penduduk Thailand, Laos dan Vietnam.

Agama Budha Theravada telah menjadi agama resmi Kamboja sejak abad ke 13 Masehi kecuali semasa kekuasaan Khmer Merah.  Agama Budha sudah di anut oleh sebagian besar rakyat Kamboja sejak abad ke 5 Masehi bahkan beberapa sumber lain menyebut jauh lebih tua dari itu. Namun diantara penduduk mayoritas Budha tersebut terdapat komunitas muslim dengan jumlah mencapai setengah juta jiwa, beberapa sumber bahkan menyebut angka yang jauh lebih besar dari itu.

Islam di Kamboja

Merujuk kepada situs CIA World Fact Book, tahun 1999 penduduk muslim di Kamboja mencapai 2.1% dari total penduduk Negara tersebut. Dan di tahun 2008, diperkirakan Muslim di Kamboja mencapai 321.000 jiwa. Mayoritas Muslim di Kamboja adalah muslim Sunni bermadzhab Syafi’i yang kebanyakan tinggal di provinsi Kampong Cham, provinsi seluas 9.799 km2 dan didiami 1.680.694 jiwa (data tahun 2008).

Menurut data Pew Research Center tahun 2009, jumlah Muslim di Cambodia mencapai 236 ribu atau 1,6% dari populasi Negara itu. Namun, menurut Ketua Senat Mahasiswa Muslim Kamboja, Sles Alfin (Saleh Arifin), populasi Muslim di negaranya diperkirakan mencapai 5%. Kebanyakan dari mereka ber-etnis Champa dan Melayu yang merupakan etnis minoritas di Kamboja. Sedangkan situs internet voa-islam menyebut angka yang jauh lebih tinggi, menurut mereka muslim Kamboja mencapai 6% dari total 11,4 juta jiwa penduduk Kamboja atau setara dengan 680.000 jiwa.


Sejarah Islam di Kamboja

Kamboja seringkali di identikkan dengan Kerajaan Islam Champa, meskipun fakta sejarah menunjukkan bahwa Kerajaan Champa berkuasa di wilayah yang kini kita kenal sebagai Vietnam, di sebelah timur Kamboja. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai dua kerajaan yang bertetangga interaksi antara penduduk dua negara ini terjadi sangat intensif dan sejarah Islam di Kamboja memang tak bisa dilepaskan dengan sejarah kebesaran Kerajaan Islam Champa yang berpusat di Vietnam tersebut. 

Interaksi antara dua kerajaan ini memang terjalin dengan baik. Manakala kerajaan Champa mengalami kemunduran di penghujung abad  ke 17 akibat serangan kerajaan Vietnam dari dinasti Nguyen, banyak muslim Champa yang mengungsi ke Kamboja. Terlebih lagi setelah status Champa sebagai sebuah wilayah otonom bawahan Vietnam dibubarkan paksa di awal abad ke 19.

Muslim Champa diterima dengan baik di Kamboja, beberapa sumber bahkan menyebutkan beberapa petinggi kerajaan Champa yang turut mengungsi kemudian juga mendapatkan jabatan terhormat di kerajaan Kamboja. Selain muslim Champa, Muslim Melayu dari kepulauan Indonesia dan semenanjung Malaysia juga memasuki Kamboja sejak masa kejayaan Champa disekitar abad ke 15 masehi.  Muslim Arab, imigran dan Anak Benua India, dan pribumi yang masuk Islam juga menjadi bagian dari komunitas Muslim di Kamboja saat ini. Mereka tersebar di seluruh wilayah Kamboja, terutama di sepanjang sungai Mekong. Muslim Kamboja rata-rata bekerja di bidang perdagangan, pertanian, dan perikanan.

Masjid Nurul Ikhsan atau Lebih dikenal sebagai International Dubai Phnom Penh Mosque di tepian Danau Boeng Kak, kota Phnom Penh.
Sebelum terjadinya tragedi pembantaian oleh Khmer Merah di tahun 1975 di perkirakan terdapat 150 ribu hingga 200 ribu muslim di Kamboja beberapa sumber lain bahkan menyebut angka hingga 700 ribu jiwa. Di sekitar tahun 1962 di terdapat sekitar 100 masjid di Kamboja dan meningkat di tahun 1975 terdapat 120 masjid, 200 musholla dan 300 madrasah serta satu sekolah penhafal Al’qur’an serta ratusan guru agama dan 300 khatib. Banyak di antara guru-guru tersebut yang belajar di Malaysia dan universitas-universitas Islam di Kairo, India atau Madinah.

Mereka membentuk komunitas muslim Kamboja dibawah kendali empat jabatan tokoh masyarakat muslim yang terdiri dari mupti, tuk kalih, raja kalik, dan tvan pake. Sementara tokoh di tiap kampung muslim di kepalai oleh hakim dan beberapa khatib, bilal, dan labi. Ke empat jabatan tokoh masyarakat tersebut termasuk Hakim turut menjadi bagian kerajaan Kamboja dan senantiasa turut serta sebagai undangan Negara dalam setiap perhelatan resmi kerajaan.

Ketika Kamboja Merdeka dari Prancis di tahun 1953, komunitas muslim berada dibawah kendali lima anggota majelis yang berisikan perwakilan dari masing masing komunitas muslim dengan fungsi yang resmi serta keterikatan dengan komunitas muslim yang lain. Masing masing komunitas muslim memiliki seorang Hakim yang memimpin Masjid masing masing komunitas, beliau juga bertindak sebagai Imam di masjid komunitasnya masing masing. Kegiatan ke-Islam muslim Kamboja berpusat di semenanjung Chrouy Changvar di dekat kota Phnom Penh yang sekaligus menjadi tempat tinggal beberapa petinggi muslim Kamboja.

Setiap tahun beberapa muslim Champa ini berangkat ke Kelantan di Malaysia untuk melanjutkan pendidikan Al-Qur’an. beberapa diantara mereka setiap tahun juga melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekah. Hingga penghujung tahun 1950-an diperkirakan 7 persen dari Muslim Champa di Kamboja ini telah menunaikan ibadah Haji. Dan dalam kehidupan kesehariannya mereka biasa menggunakan sorban ataupun semacam kopiah berwarna putih sebagai penanda bahwa mereka telah ber-haji.***

Bersambung ke bagian 2

Referensi

id.wikipedia – kontingen garuda
en.wikipedia.org -  history_of_vietnam
en.wikipedia.org - Religion_in_Cambodia
CIA world fact book - cambodia

Artikel Terkait

Rabu, 17 Oktober 2012

Masjid Azhar, Vientiane - Laos

Masjid Kamboja ::: Masjid Azhar Vientiane, Laos. Atau biasa disebut sebagai Masjid Kamboja Merujuk kepada muslim Champa dari Kamboja yang membangun Masjid ini.

Masjid Azhar di Vientiane, merupakan salah satu dari dua masjid yang ada di Republik Demokratik Rakyat Laos, setelah Masjid Jami Vientiane. Masjid ini lebih dikenal dengan nama masjid Kamboja, karena memang dibangun oleh muslim etnis Champa dari Kamboja yang hijrah ke Laos meninggalkan kampung halaman mereka di Kamboja pada era tahun 1975-1979 untuk menyelamatkan diri dari kekejaman rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot.

Berdiri di distrik Chantabouly, yang merupakan jantung kawasan indah dan bersejarah kota Vientiane, ibukota Laos. Masjid ini menjadi tumpuan bagi komunitas muslim di distrik tersebut yang memang mayoritas adalah muslim Champa, mereka terdiri dari sekitar 300 jemaah dari 70 keluarga muslim. Saat ini masjid Azhar bersama masjid Jami Vientiane menjadi salah satu tujuan wisata Rohani bagi muslim mancanegara yang berkunjung ke Laos.

Lokasi dan Alamat Masjid Azhar, Vientiane

Masjid Azhar,
Banphon Sawattay, Chantabouly District, P.O Box 5062
Vientiane, People Democratic Republic of Laos
            Telepon : +856 2022 636666
Fax : +856 2055 662925


Muslim Champa dan Masjid Kamboja di Laos

Perjalanan sejarah muslim Kamboja di Laos memang cukup panjang. Etnis Champa yang kini menjadi bagian dari Laos ini merupakan kaum Muhajirin dari Kamboja yang masuk ke Laos, Seiring dengan runtuhnya kerajaan Islam Champa yang berkuasa di bagian selatan dan tengah Vietnam, akibat kekalahan mereka melawan serbuan Kerajaan Vietnam dari dinasti Nguyen di penghujung abad ke 17 hingga ahirnya dibubarkan pada paruh pertama abad ke-19, sebagian dari muslim Champa mengungsi ke Kamboja, Thailand, Malaysia hingga ke Pulau Hainan (China).

Kerajaan Champa telah berdiri di bagian tengah dan selatan kawasan yang kini kita kenal sebagai Negara Vietnam sejak tahun 192 masehi sebagai sebuah kerajaan Hindu. Islam baru masuk dan mengubah kerajaan tersebut menjadi sebuah kerajaan Islam di abad ke 9 Masehi dan berkembang pesat hingga abad ke 10 masehi. Kerajaan Champa mulai diserang oleh Kerajaan Dai Viet (Cikal Bakal Vietnam) di abad ke 15 masehi.

Azhar ::: meskipun sebenarnya nama masjid ini tertulis dalam aksara Arab di atas serambi utama nya sebagai masjid Al-Azhar, namun penulisan namanya dalam hurup latin di gerbangnya hanya ditulis Masjid Azhar, tanpa kata Al.
Tahun 1471M Kerajaan Dai Viet yang beribukota di Hanoi menyerbu wilayah utara kerajaan Champa dan berhasil menguasai Ibukota negara di Vijaya. Menyusul kemudian tahun 1697 wilayah Champa di Panduranga juga di caplok oleh Dai Viet, sampai kemudian sisa sisa wilayah negara Champa tak bersisa di tahun 1832M.

Arus pengungsi muslim Champa ke berbagai negara tetangganya tak terbendung, termasuk ke Kamboja yang merupakan negara terdekatnya. Di Kamboja mereka diterima dengan baik, beberapa dari mereka merupakan bekas para petinggi di kerajaan Champa dan mendapatkan tempat cukup terhormat di kerajaan Kamboja. Namun perjalanan sejarah memaksa muslim Champa di Kamboja mengungsi untuk kedua kalinya manakala rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pol melakukan pembantaian massal terhadap rakyat Kamboja termasuk muslim disana di tahun 1975 hingga tahun 1979.

Eksterior masjid Azhar Vientiane
Arus pengungsi muslim Champa dari Kamboja ini tiba di Laos pada tahun 1975, mereka diterima dengan baik dan kemudian menetap dan menjadi bagian dari Laos. Sebagian besar mereka menetap di kawasan pemukiman kelas para pekerja di Chantabouli, disebelah barat laut pusat kota Vientiane. Ditahun 1976 atau setahun setelah mereka tiba di Laos, Muslim Champa dari Kamboja ini mendirikan sebuah masjid kecil bernama Masjid Azhar atau lebih terkenal dengan sebutan Masjid Kamboja dengan imamnya, Imam Musa Abu Bakar, tokoh tertua muslim Champa di Laos.

Saat ini komunitas Muslim Champa di Vientiane ada sekitar 70 keluarga. Sebagian dari mereka merupakan para pekerja dan pedagang obat obatan herbal tradisional yang mereka datangkan dari Kamboja. Kebanyakan dari Muslim Champa dari Kamboja ini menetap di tak jauh dari kawasan pecinanan di pusat kota Vientiane, tempat berdirinya Masjid Azhar yang mereka bangun.

Eksterior masjid Azhar Vientiane
Bangunan Masjid yang kini berdiri adalah hasil pembangunan dan dibuka secara resmi pada tanggal 10 Oktober 1982. Bangunan masjidnya berukuran sekitar 300 meter persegi menjadi pusat peribadatan komunal bagi muslim setempat baik muslim maupun muslimah. Masjid ini juga dilengkapi dengan ruang serbaguna, ruang kelas sebagai ruang belajar bagi sekitar 50 an anak anak untuk belajar agama Islam dan Al-Qur’an, dapur dan ruang kantor. Jemaah tetap masjid ini diperkirakan sekitar 270 orang dari sekitar 70 keluarga.

Lembaga lembaga Islam dari Malaysia cukup aktif mendukung program program muslim Laos, seperti yang terjadi pada hari Jum’at tanggal 4 November 2011 lalu, Yayasan Salam Malaysia, berkontribusi dengan menyumbang Laptop, DVD player, Iqra multimedia and Buku buku Islam ke Masjid Azhar ini.

Referensi

vietnamtourinformation.com- laos religion
islamicfinder.org - Vientine Jamia Masjid
wikimapia.org - Vientiane-Jamia-Mosque
wikimapia.org - Vientiane-Jamia-Mosque
saudiaramcoworld.com - The Crescent in Laos

Artikel Terkait