Minggu, 10 Desember 2017

Mayotte, Prancis yang tak Prancis

Muslimah berjilbab di Mayotte, salah satu pemandangan sehari hari di Mayotte yang notabene adalah wilayah Prancis di Samudera Hindia, namun sama sekali tak bercita rasa Prancis.

Dari sudut pandang manapun Mayotte sama sekali tak terlihat seperti Prancis. Semua orang mengenal Prancis sebagai Negara nya Napoleon Bonaparte, ber-ibukota di Paris dan berpandangan politik Sekuler. Khusus bagi ummat Islam, mendengar nama prancis boleh jadi langsung membayangkan fakta yang kontradiktif.

Bahwa prancis adalah Negara Eropa dengan penduduk Islam terbesar namun gelombang “penistaan terhadap Islam” sempat mencuat ke permukaan sebagai akibat kebijakan pelarangan penggunaan symbol agama di tempat umum, namun justru lebih menyudutkan wanita berjilbab sebagai sasaran empuk. Namun semua fakta itu terjungkir balik di Mayotte yang notabene secara de jure maupun de fakta adalah bagian dari Prancis. Kok Bisa.


Tentu saja bisa. Mayotte adalah salah satu wilayah seberang lautan Prancis, lokasinya berada di Samudera Hindia bagian selatan, tetangga terdekatnya adalah republik kepulauan Comoro yang sama sama berada di selat Mozambik yang memisahkan antara pulau Madagaskar dan benua Afrika.  Luas Mayotte tak lebih dari 374 meter persegi dan 97 persen penduduknya beragama Islam.

Di tahun 1974 referandum yang diselenggarakan di Mayotte untuk menentukan nasib Negara tersebut. Secara meyakinkan penduduk kepulauan tersebut memilih untuk tetap bergabung sebagai bagian dari Prancis. Berbeda dengan tetangganya Commoro yang memilih merdeka dari Prancis. 

Salah satu sudut kota di pulau Mayotte. Sangat khas sebuah pulau dengan penduduk muslim. tampak di kejauhan menara salah satu masjid besar di Mayotte.

Referendum yang sama dilakukan lagi tahun 2009 lalu dan nyatanya 95.2% penduduknya bersikukuh untuk tetap menjadi bagian dari Prancis.  Maka jadilah Mayotte sebagai bagian dari wilayah seberang lautan Prancis hingga kini, dan menjadi wilayah Uni Eropa dengan lokasi paling jauh dari benua Eropa.

Jadi, dengan fakta bahwa 97% penduduknya beragama Islam, maka wajar bila pemandangan di Mayotte sama sekali tak-prancis. Hampir diseluruh penjuru kota terlihat muslimah berjilbab bahkan bermukena tanpa ada gangguan apapun. Tak ada salju di Mayotte dan tak ada pencakar langit apalagi pusat mode dunia disana. Karena Mayotte memang tidak berada di Eropa tapi di lepas pantai timur Afrika. Jaooooooh banget dari Benua Eropa***.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 09 Desember 2017

Islam di Guyana (Republic of Guinea)

Peta Republik Guyana di Afrika Barat

Dimanakah letak Guyana ?

Guyana atau dalam bahasa Inggris disebut Guinea, adalah sebuah negara di pantai barat benua Afrika bekas jajahan Prancis dengan nama resmi the Republic of Guinea, dalam bahasa Prancis disebut République de Guinée. Sebelum merdeka dikenal dengan nama French Guinea atau Guinée française, sejak merdeka hingga saat ini seringkali disebut sebagai Guinea-Conakry untuk membedakan dengan negara tetangganya yang sama sama bernama Guenea yakni Guinea-Bissau dan the Republic of Equatorial Guinea.

Negara berpenduduk 10,057,975 jiwa dengan luas wilayah 246,000 kilometer persegi ini membentuk seperti bulan sabit diantara negara negara tetangganya. Hampir keseluruhan wilayahnya membentang di daratan Afrika hanya bagian baratnya saja yang menghadap ke samudera Atlantik. Conarki, ibukota negara ini merupakan salah satu kota yang menghadap ke Samudera Atlantik.

Guyana berbatasan dengan Samudera Atlantik di sisi barat, disebelah utara dengan Guinea-Bissau, Senegal, dan Mali, disebelah selatan bertetangga dengan Sierra Leone, Liberia, dan Pantai Gading (Côte d'Ivoire). Sungai Gambia yang membelah negara Senegal dan Gambia serta Sungai Niger yang mengalir hingga ke Siera Leone, berasal dari pegunungan pegungan di Guyana.


Islam di Guyana

Penduduk Guyana Mayoritas beragama Islam, menjadikan negara ini sebagai salah satu negara berpenduduk muslim mayoritas di dunia. Penduduk di negara ini terdiri dari 24 (dua puluh empat) etnis dan suku terbesarnya dalah suku Fula (40%), Mandingo (30%), dan suku terbesar ketiganya adalah suku Susu (20%), nama suku yang terdengar aneh untuk orang Melayu, karena sama dengan nama minuman.

Merujuk kepada data statistik  tahun 2005 yang lalu, pemeluk Islam di Gyana mencapai 85% dari total penduduk negeri tersebut. Sebagian besar muslim Guyana merupakan muslim Suni bermazhab Maliki dan aliran sufi Qodiri dan Tijanu. Guyana merupakan bekas negara jajahan Francis sejak 1891 namun pengaruh Perancis di negara ini sangat lemah.

Guyana merdeka dari Prancis tahun 1958, Ahmed Sékou Touré, seorang muslim yang beraliran Marxist naik menjadi presiden pertama Guyana namun sama sekali tidak berpihak kepada Islam. Baru ketika popularitasnya merosot tajam di tahun 1970-an, dia mulai merapat ke berbagai institusi Islam untuk melegatimasi kekuasaannya. Touré's wafat di tahun 1984 dan jalinan kerjasama antara komunitas Islam yang merupakan mayoritas di negara tersebut terus terjalin hingga hari ini.

Masjid Agung Conarky di Kota Conarky ibukota Republik Guyana

Masjid Agung Conarky

Di kota Conarky, Ibukota Guyana berdiri sebuah masjid agung bernama The Conakry Grand Mosque, Grande mosquée de Conakry, Mosquée Fayçal atau Masjid Agung Conarky yang merupakan masjid terbesar di Afrika Barat. Masjid ini berdiri di pusat kota Conarky bersebelahan dengan Rumah Sakit Donka Hospital di sisi timur Conakry Botanical Garden.

Masjid Agung Conarky dibangun semasa pemerintahan Ahmed Sékou Touré, dengan dana hibah dari Raja Fahd, Raja Saudi Arabia. Diresmikan dan dibuka untuk umum tahun 1982 sebagai masjid terbesar ke empat di benua Afrika dan terbesar di Afrika barat, mampu menampung 2500 (dua ribu lima ratus) jemaah di lantai atas untuk jemaah wanita dan 10,000 (sepuluh ribu) jemaah pria di lantai dasar, serta masih ada area di esplanade yang dapat menampung hingga 12,500 (dua belas ribu lima ratus) jemaah. Di taman masjid ini juga berdiri bangunan mausoleum (makam) bagi pahlawan nasional Guyana yakni Samori Ture, Sékou Touré (mantan presiden pertama) dan Alfa Yaya.

Wajah kota Conarky, Ibukota Guyana dari udara

Sayangnya, masjid megah ini kurang mendapatkan perawatan yang memadai dari pemerintah Guyana. Meskipun sempat mendapatkan dana hibah sebesar 20 juta Found Guyana dari pemerintah Saudi Arabia di tahun 2003 lalu. Lebih mirisnya lagi masjid ini sempat menjadi saksi pembantaian terhadap para demonstran tanggal 2 Oktober 2009 yang menjadi sejarah kelam negara itu di masa merdeka.

2 Oktober 2009 terjadi demonstrasi besar besaran di negara tersebut oleh sekitar 50 ribu masa menentang pemerintahan Junta militer yang naik tahta setelah melakukan kudeta militer tahun 2008. Namun aksi demonstrasi yang memang dilarang oleh junta militer tersebut disambut dengan berondongan gas air mata dari aparat keamanan dan tak sampai disitu berondongan peluru tajam menewaskan 58 jiwa di area esplanade Masjid Agung Conarky ini. sementara lainnya tewas di stadion utama negara tersebut.*** (dari berbagai sumber, data diolah).

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca juga



Minggu, 03 Desember 2017

Dome of the Rock Palestina, Masjid Berkubah Pertama di Dunia

Dome Of The Rock / Kubah Batu / kubah emas. adalah salah satu masjid di dalam komplek Masjidil Aqso di Jerusalem Timur, Palestina. Masjid yang sering disalah arti sebagai Masjidil Aqso ini merupakan Masjid berkubah pertama di dunia sekaligus sebagai Masjid Berkubah emas pertama.

Kubah Batu atau Dome of The Rock adalah salah satu bangunan suci umat Islam. Masjid berkubah pertama itu berada di tengah kompleks Al-Haram asy-Syarif yang terletak di sebelah timur di dalam Kota Lama Yerusalem (Baitul Maqdis).

Masjid itu berkubah keemasan. Sedangkan Masjid Al-Aqsa yang berkubah biru berada pada sisi tenggara Al-Haram asy-Syarif menghadap arah kiblat (kota Mekkah). Pembangunan masjid itu dimulai ketika Yerusalem jatuh ke dalam kekuasaan Islam pada era Khalifah Umar bin Khattab. Tak heran, jika masjid itu disebut Masjid Umar.

Adalah Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang memprakarsai pembangunan Kubah Batu pada tahun 66 H/685 M dan selesai tahun 72 H/691 M. Pembangunan masjid itu sepenuhnya dikerjakan dua orang arsitek Muslim yakni Raja' bin Hayat dari Bitsan dan Yazid bin Salam dari Yerusalem. Keduanya dari Palestina.

Di foto di atas terlihat dengan jelas, bangunan dengan kubah warna emas ditengah komplek tersebut adalah Dome Of The Rock atau Masjid Kubah Batu sedangkan Masjid Al-Aqso adalah Masjid dengan kubah bewarna Abu Abu pada bagian selatan komplek tersebut.

Bangunan Kubah Batu terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama dan kedua tingginya mencapai 35,3 meter. Secara keseluruhan, tinggi masjid itu mencapai 39,3 meter. Keadaan ruang di dalamnya terdiri tiga koridor yang sejajar melingkari batu (sakhrah). Koridor bagian dalam merupakan lantai thawaf yang langsung mengelilingi batu seperti tempat thawaf di Masjidil Haram.

Di dalamnya dipenuhi ukiran-ukiran model Bizantium. Di dalamnya terdapat mihrab-mihrab besar jumlahnya 13 buah dan masing-masing mihrab terdiri dari 104 mihrab kecil. Untuk memasukinya ada empat pintu gerbang besar yang masing-masing dilengkapi atap. Bentuk kubahnya banyak dipengaruhi arsitektur Bizantium. 

Sejarawan Al-Maqdisi menuturkan bahwa biaya pembangunan masjid itu mencapai 100 ribu koin emas dinar. Di dalam masjid itu terdapat batu atau sakhrah berukuran 56 x 42 kaki. Di bawah sakhrah terdapat gua segi empat yang luasnya 4,5 meter x 4,5 meter dan tingginya 1,5 meter.

Pada atap gua terdapat lubang seluas satu meter. Batu tersebut disebut sakhrah mukadassah (batu suci). Di batu tersebut Nabi Muhammad melakukan mi'raj dan sebagai saksi peristiwa tersebut maka dibangunlah Kubah Sakhrah di atasnya. Menurut literatur Islam, nilai kesucian sakhrah sama dengan Hajar Aswad (batu hitam).*** (Dari berbagai sumber).

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 02 Desember 2017

Blue Mosque, Yerevan, Armenia

Masjid Biru atau Blue Mosque Of Yerevan

Masjid biru atau The Blue Mosque atau‎ Masjed-e Kabud atau Göy məscid, adalah masjid di tua dari abad ke 18 di kota Yerevan, Armenia. bangunan masjid ini merupakan masjid utama di kota Yerevan. Masjid tua ini diperkirakan dibangun di tahun 1764-1768 meskipun berbagai sumber catatan mengenai masjid ini menyatakan tahun yang berbeda beda meskipun masih di abad yang sama. Disebut dengan masjid biru atau Blue Mosque karena kubahnya yang dilapisi dengan ornament berwarna biru.

Selama masa kekuasaan Uni Soviet bangunan masjid ini alih fungsi oleh penguasa saat itu menjadi Musium sejarah Yerevan. Seiring dengan kemerdekaan Armenia, masjid ini di renovasi dengan bantuan dari pemerintah Iran dan dikembalikan fungsinya sebagai masjid. Dan kini, Masjid biru ini merupakan satu satunya masjid yang masih berfungsi di Armenia.

Blue Mosque, Yerevan
12 Mashtots Avenue, Yerevan, Armenia
Coordinates: 40.1781°N 44.5056°E
yerevanmasjed.ir


Sejarah Masjid Biru Yerevan

Wilayah Kota Yerevan telah menjadi wilayah yang bergonta ganti penguasa muslim sepanjang sejarah seiring dengan serangan dari Kaisar Timur di abad ke 14 masehi. Dari awal abad ke 16 dan yang menentukan dengan Perdamaian Amasya 1555, sampai abad ke-19, secara bergantian telah menjadi provinsi Iran (yang dipimpin berturut-turut oleh Safawi, Nadir Shah, Karim Khan Zand dan Dinasti Qajar Iran) , sebelum kemudian jatuh ke negara tetangganya, Kekaisaran Rusia sebagai akibat perang Russo-Persian War (1826-1828) dan berahir dengan perjanjian Treaty of Turkmenchay tahun 1828.

Sejarah Masjid Biru Yerevan ini sendiri terdapat beberapa perbedaan tahun pembangunannya di berbagai literature yang ditemukan. laporan dari abad ke 19 yang ditulis oleh seorang penjelajah H.F.B. Lynch, disebutkan bahwa masjid Biru Yerevan dibangun oleh Husayn Ali Khan pada masa Persia dibawah kekuasaan Nadir Shah (1736–47).

George Bournoutian menyebutkan nama  Husain Ali Khan sebagai pelindung bangunan tersebut, dan menyatakan masa kekuasaanya pada periode tahun 1762-83. Menurut Vladimir M. Arutyunyan pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1760 dan selesai di tahun 1764-1768 dimasa Husayn Ali Khan. Namun demikian plakat yang ada dimasjid ini menyebutkan bahwa masjid ini dibangun tahun 1765 oleh Hussein Ali Khan, Gubernur Yerevan.

Masjid Biru Yerevan dengan area pelataran tengah nya

Pada saat kota Yerevan jatuh ke tangan Rusia di tahun 1827 dan semasa perang Rusia-Persia tahun 1826-1828 tercatat bahwa di kota Yerevan terdapat delapan masjid berukuran besar dan Masjid Biru ini merupakan masjid terbesar diantara yan glainnya.

Dan pada masa kekuasaan Uni Soviet, semua aktivitas peribadatan dihentikan dan dilarang oleh penguasa Soviet, masjid masjid ditutup termasuk Masjid Biru Yerevan. Di tahun 1931 Masjid Biru Yerevan digunakan oleh Penguasa Soviet sebagai Musium Kota Yerevan.

Restorasi Masjid Biru Yerevan

Di penghujung tahun 1990-an Masjid Biru Yerevan di restorasi oleh pemerintahan baru Republik Armenia merdeka dengan bantuan dana dari pemerintah Iran dan selesai pada tahun 1999.

Staff dari kantor departemen urusan luar negeri A.S. Brady Kiesling menyebut proyek restorasi tersebut memang dibutuhkan secara structural namun dari sudut pandang estetika terkesan terlalu ambigu. Proses restorasi tersebut telah mengundang keprihatinan dari beberapa pejabat tinggi di Azerbaijan, karena masjid tersebut telah di sebut sebagai masjid iran, sementara Azerbaijan mengkalimnya sebagai warisan budaya komunitas muslim Azerbaijan yang pernah ada di Armenia.

Blue Mosque Of Yerevan in Snow White

Namun pemerintah Kota Yerevan justru menyerahkan kepemilikan masjid tersebut kepada pemerintah Iran di tahun 1995 dan pada bulan Desember 2015 yang lalu, pemerintah Armenia bahkan telah memperpanjang kepemilikan Iran atas masjid tersebut selama 99 tahun.

Aktivitas peribadatan dan lainnya telah kembali di masjid ini sejak Armenia merdeka dari Soviet, dan faktanya hingga kini masjid Biru Yerevan merupakan satu satunya masjid yang berfungsi sebagaimana mestinya di Armenia. Musium kota Yerevan yang sempat menggunakan masjid ini telah dipindahkan ke gedung lain yang memang dibangun untuk keperluan tersebut.

Arsitektur Masjid Biru Yerevan

Bangunan masjid biru Yerevan terdiri dari ruang sholat utama, perpustakaan dan madrasah yang terdiri dari 28 ruang kelas, kesemuanya bejejer di sekitar pelataran tengah masjid ini. keseluruhan komplek masjid ini menempati lahan seluas 7000 meter persegi.

Ada satu menara tunggal setinggi 24 meter di samping gapura masjid ini seperti halnya pada bangunan masjid masjid kontemporer dan tidak ditemukan tanda tanda adanya bekas bangunan menara lain selain menara tunggal tersebut.

250 tahun Masjid Biru Yerevan

Pada bulan Oktober tahun 2015 yang lalu, masjid Biru Yerevan merayakan peringatan 250 tahun berdirinya masjid tersebut yang dihadiri oleh Perdana Menteri Armenia Hovik Abrahayan dan Wakil Presiden pertama Iran Eshaq Jahangiri.

Masjid Biru Yerevan dan plakat pembangunannya.

Perdana Menteri Armenia dalam kesempatan itu menekankan bahwa dua bangsa (Armenia dan Iran) telah di ikat dalam kedekatan budaya sepanjang millennium yang panjang dan akan terus bertahan berabad abad mendatang. Hovik Abrahamyan juga menyuarakan keyakinannya bahwa Masjid Biru akan tetap menjadi jaminan ikatan budaya dan persahabatan antara kedua bangsa tersebut.

Kunjungan Pejabat Indonesie ke Masjid Biru Yerevan

Fadli Zon selaku wakil ketua DPR RI dan rombongan anggota DPR lainnya terdiri dari Bambang Haryo Soekartono dari Fraksi Partai Gerindra, Fadhlullah dari Fraksi Partai Gerindra, dan Ermalena dari Fraksi PPP,  berkunjung ke masjid ini pada suasana Idul Adha 1 September 2017 pukul 7.45 pagi waktu setempat.

Dalam kunjungan tersebut didampingi oleh Duta Besar RI untuk Ukraina, Georgia, dan Armenia, yakni Yuddy Chrisnandi dan disambut oleh Imam Blue Mosque, Syekh Muhammad Ali Saj'an. Kunjungan ke Blue Mosque ini dilakukan di sela-sela kegiatan Muhibah ke Armenia dari 29 Agustus sampai 3 September.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga



Minggu, 26 November 2017

Masjid Al-Nur Christchurch Selandia Baru

Masjid Al-Nur Christchurch Selandia Baru

Masjid Al-Nur adalah masjid di kota Christchurch, Selandia Baru (New Zealand) lokasinya berada di 101 Deans Avenue in Riccarton berseberangan dengan taman Hagley Park South. Masjid ini merupakan masjid pertama dengan fasilitas lengkap yang berfungsi penuh di wilayah selatan pulau Selandia Baru.

Masjid Al-Nur tak pelak lagi menjadi pusat aktivitas ke-Islaman bagi komunitas muslim di Chrustchurch dan lebih luas lagi di kawasan Canterbury dengan jumlah anggota komunitas yang cukup besar dan terus berkembang.

Masjid Al Noor  
Masjid di Christchurch, Selandia Baru
Alamat: 101 Deans Ave, Riccarton, Christchurch 8011, Selandia Baru
Telepon: +64 3-348 3930



Masjid ini terbuka bagi semua kalangan baik muslim maupun non muslim di Selandia Baru, baik untuk beribadah atau sekedar berkunjung hingga maupun untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang Islam dan muslim.

Selama lebih dari 20 tahun masjid Al-Nur melayani kunjungan dari berbagai komunitas termasuk kunjungan dari murid murid sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama bersama guru guru mereka, para mahasiswa dari berbagai universitas, peneliti, aktivitis kampus, civitas akademika, turis maupun dari lembaga pemerintahan dengan berbagai keperluan.

Masjid Al-Nur Christchurch Selandia Baru

Aktivitas Masjid Al-Nur

Masjid Al-Nur menjadi pusat aktivitas muslim di Christchurch untuk pelaksanaan sholat lima waktu berjamaah, sholat jum’at, shokat idul fitri dan Idul Adha, termasuk juga penyelenggaraan kelas pendidikan Islam, hingga aktivitas aktivitas sosial seperti pernikahan, penyelenggaraan jenazah dan sebagainya. 

Pengelolaan Masjid Al-Nur

Masjid Al-Nur Christchurch dikelola oleh Asosiasi Muslim Cantenbury (The Muslim Association of Canterbury-MAC) yang merupakan induk organisasi bagi berbagai organisasi Islam di Selandia Baru. The Muslim Association of Canterbury (MAC) pertama kali dibentuk tahun 1977 dii Christchurch, Selandia Baru (New Zealand) sebagai sebuah organisasi nirlaba bagi semua muslim di Selandia Baru.

Tujuan utama pembentukan MAC ini tentu saja adalah untuk mengajak seua muslim di Selandia Baru bersama sama beribadah kepada Allah sebagaimana tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rosulullah S.A.W. Serta memfasilitasi saling pengertian dan kerjasama yang baik antara kaum muslim dengan masyarakat luas.

Masjid Al-Nur Christchurch Selandia Baru

Untuk itu, MAC senantiasa memperbaiki dan mempromosikan pemahaman Islam yang lebih baik kepada kaum muslimin maupun kepada kalangan non muslim serta berkontribusi bagi masa depan yang lebih baik serta kemanusiaan.

Bank Details
Muslim Association Canterbury Bank of New Zealand  
Account number 02-0800-0041468-01
Postal Address
Muslim Association Canterbury 101 Deans Avenue
Riccarton Christchurch 8011 03 3483930

Referensi


Baca Juga


Sabtu, 25 November 2017

Masjid Djama’a al-Djedid Aljir, Aljazair

Masjid Al-Jadid Aljir, Aljazair

Masjid Al-Jadid dalam bahasa Inggris disebut dengan nama The Djama’a al-Djedid, sedangkan dalam bahasa setempat disebut dengan nama Jamaa al-Jadid sedangkan dalam bahasa Turki disebut dengan nama Yeni Camii yang berarti Masjid Baru, adalah masjid kuno di kota Aljir, ibukota negara Aljazair.

Masjid ini dibangun pada tahun 1660 Masehi atau 1770 Hijriah dan Pada masa penjajahan Prancis di Aljazair masjid ini disebut dengan nama Mosquée de la Pêcherie atau Masjid di dermaga nelayan (the Mosque of the Fisherman's Wharf).

Kubah utama masjid ini dibangun cukup tinggi hingga mencapai ketinggian 24 meter di topang dengan empat pilar penyangga dengan dasar bundar besar dan dilengkapi dengan tatakan seperti umpak. Di ke empat penjuru masjid di tutup dengan empat kubah setengah bundar berdenah dasar octagonal.


Tarikh pembangunan masjid ini disebutkan dalam sebuah plakat yang ditempatkan diatas pintu masuk utama masjid ini, disebutkan disana bahwa masjid ini dibangun pada tahun 1770 Hijriah atau tahun 1660 Masehi, oleh Haji Habib yang merupakan Gubernur Aljazair, yang ditunjuk oleh pemerintahan Dinasti Usmaniyah yang berpusat di Istanbul, Turki.

Pada masa itu, wilayah Aljazair merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Usmaniyah. Haji Habib sendiri merupakan anggota pasukan khusus Infanteri Dinasti Usmaniyah yang disebut Janissary atau Yanisari atau dalam bahasa Turki disebut yeniçeri, yang berarti Pasukan Baru.

Pasukan ini merupakan pasukan elit pertama di Eropa yang dibentuk dimasa kekuasaan Sultan Murad I (1362–89) sebagai pasukan pengawal pribadi Sultan dan memang dilatih berkemampuan khusus sebagai pasukan yang memiliki loyalitas tinggi dan hanya patuh kepada perintah Sultan.

Eksterior Masjid Al-Jadid

Pembangunan masjid Al-Jadid ini dibangun dengan gaya arsitektur masjid masjid Usmaniyah baik dari bentuk struktur bangunan maupun ornamen nya namun mengingat lokasi pembangunannya yang berada di wilayah Afrika utara, budaya lokal turut mempengaruhi seni bina masjid ini.

Hasilnya adalah sebuah masjid yang cukup unik dengan penggabungan beberapa tradisi seni bina bangunan masjid, termasuk juga penggunaan beberapa elemen dari gaya arsitektur Andalusia dan Italia yang pada saat itu juga berpengaruh di kawasan Afria Utara.

Lokasi masjid ini berada di ujung barat dari Place des Martyrs, sedangkan sisi kiblatnya bersebelahan dengan sisi utara dari Boulevard Amilcar Cabral, tempat dimana Masjid Agung Almoravid Aljazair (The Almoravid Grand Mosque of Algiers) juga berada terpaut hanya sekitar 70 meter ke arah timur dari Masjid Al-Jadid ini.

Sisi tenggara masjid ini tak seberapa jauh dari ruas jalan pelabuhan nelayan kota Aljir, itu sebabnya masjid ini juga seringkali secara tak resmi juga disebut dengan the Mosque of the Fisherman's Wharf atau masjid di pelabuhan nelayan, dan faktanya masjid ini memang banyak digunakan oleh para nelayan yang beraktifitas di lokasi tersebut.

Interior Masjid Al-Jadid

Seperti halnya dengan Masjid Ketchaoua (1612), Masjid Al-Jadid ini sesungguhnya juga berada di dalam wilayah Casbah Almohad kota Aljir yang sebagian besar mengalami kehancuran dimasa penjajahan Prancis di Aljazair di abad ke 18.

Secara umum masjid ini berukuran lebar 27 meter (timur barat) dan panjangnya 48 meter (utara-selatan), arah bangunannya sendiri sedikit miring hingga 28 derajat terhadap kutub utara selatan menyesuaikan dengan garis kiblat, sisi kiblat masjid ini berada di sisi selatan bangunan, mengingat bahwa lokasi Ka’bah di kota Mekah berada di selatan negara Aljazair.

Jejeran tiang tiang penyangga atap di dalam masjid ini membentuk tiga lorong memanjang dan lima lorong sejajar dengan garis shaf masjid. Lorong bagian tengah masjid ini menjadi titik tengah tempat pintu masuk utama berada segaris dengan mihrab.

Ada delapan tiang besar di dalam masjid ini masing masing tiang berukuran sekitar dua meter persegi, masing masing tiang dihubungkan dengan lengkungan beton sekaligus menjadi penopang struktur atap diatasnya. Masing masing lengkungan ini mencapai ketinggian sekitar 9 meter dari permukaan lantai pada bagian lengkungan tengahnya yang merupakan bagian tertinggi.

Kubah utama masjid ini berdiameter sekitar 10 meter, dasar kubahnya menjulang sekitar 8 meter dari penopang tertingginya bertumpu di atas tiang tiang masjid. Puncak tertinggi kubah utama masjid ini mencapai 24 meter. Struktur penopang kuba masjid ini juga berbentuk bundar dilengkapi dengan empat jendela di empat sisi untuk penerangan di siang hari.

Mimbar dan mihrab masjid ini ditempatkan tepat dibawah kubah utama masjid. Karena letak kubah utama masjid ini tidak berada di tengah tengah bangunan, namun lebih berada di atas lorong shaf terdepan pada sumbu tengah bangunan, dan bukan pada sisi tembok sisi kiblat di bagian terdepan masjid.

Masjid Al-Jadid di malam hari

Seiring dengan pembangunan kota Aljir berakibat pada semakin tingginya permukaan jalan raya di sekitar masjid ini menyebabkan lantai masjid ini lebih rendah dari permukaan jalan raya dan karenanya kemudian pintumasuk masjid ini dilengkapi dengan beberapa anak tangga untuk masuk ke masjid. Saat ini lantai bawah masjid ini sudah berada lima meter lebih rendah dari permukaan jalan raya.

Hampir keseluruhan tembok luar masjid Aljadid di cat dengan warna putih dari tembok hngga kubah nya kecuali sedikit saja beberapa bagian diberikan sedikit ornament dengan warna berbeda. Satu hal yang menarik dari Masjid Al-Jadid ini adalah bahwa meskipun secara umum bangunan masjid ini dibangun dengan gaya Usmaniyah namun teramat berbeda dengan bangunan menaranya.

Bangunan menara masjid ini justru dibangun dengan gaya Afrika Utara, berupa bangunan menara berdenah segi empat, tidak seperti gaya menara Usmaniyah yang bundar, tinggi dan lancip. Pada mulanya menara masjid ini hanya setinggi 13 meter saja, namun kemudian dibangun lebi tinggi hingga 25 meter dari permukaan tanah Place des Martyrs seiring dengan semakin tingginya permukaan jalan raya.

Bangunan menara ini terdiri dari tiga lantai yang dihubungkan dengan tangga tertutup di dalam menara. Pada tingkat ke tiga nya ditempatkan sebuah jam berukran besar. Jam ini ditempatkan oleh Bournichon, yang diambil dari Palais Jénina. Menara masjid ini juga dilengkapi dengan balkoni yang ditempatkan di bagian teratasnya. Bentuk menar seperti ini memang tidak lazim bagi sebuah bangunan masjid dari era dinasti Usmaniyah dan itu justru menjadi salah satu keunikan dari masjid Al-Jadid di Kota Aljir, Aljazair ini.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi

dan berbagai sumber dari internet

Baca Juga

Minggu, 19 November 2017

Masjid Ketchaoua Aljazair

Masjid Ketchaoua landmark kota tua Casbah, Aljir. 

Masjid Ketchaoua adalah masjid tua di kota Aljir (Algiers), Ibukota Aljazair (Algeria), masjid ini berdiri di daerah Casbah di dalam kota Aljir dan dibangun dimasa kekuasaan dinasti Usmaniyah di abad ke 17 masehi, dan telah terdaftar oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Masjid ini berdiri di bagian anak tangga pertama Casbah yang memang memiliki banyak anak tangga, yang secara logistik dan simbolis merupakan titik perhatian pada masa pra-kolonial bagi kota Aljir. Bangunan masjid ini dikenal luas keunikannya karena memadukan gaya arsitektur Bangsa Moor (Maroko) dan gaya arsitektur Byzantium (Romawi Timur).

Bangunan asli masjid ini awalnya dibangun tahun 1612, namun kemudian di ubah fungsi menjadi Katedral St Philippe di tahun 1845 pada masa penjajahan Prancis di Aljazair hingga tahun 1962, dan di tahun 1962 juga dikembalikan lagi fungsinya sebagai masjid.


Meskipun telah melewati rentang waktu begitu lama hampir selama empat abad dan sempat dialih fungsi menjadi gereja, masjid ini masih menunjukkan kemegahannya yang asli dan menjadi salah satu objek wisata sejarah paling penting di Aljazair.

Casbah, tempat masjid ini berdiri, merupakan bagian paling bersejarah di Aljir, letaknya berada di sisi utara kota, terpaut sekitar 250 meter sebelah barat dari Masjid Agung Aljazair, tempatnya berdiri juga berdekatan dengan istana uskup Aljazair dan gedung perpustakaan Nasional.

Sejarah Masjid Ketchaoua

Sejarah Masjid Ketchaoua tak dapat dipisahkan dari sejarah kota kuno Casbah yang Dibangun di situs bekas tempat berdirinya Icosium, pemukiman orang orang Phoenisia di masa lalu. Pada saat pembangunannya oleh dinasti Usmaniyah di abad ke 17 masehi, Casbah merupakan bagian inti kota.

Eksterior Masjid Ketchaoua

Lokasinya sangat strategis, berdiri megah di anak tangga pertama Casbah yang mengarah ke lima gerbang kota di distrik-nya para aristokrat, yang merupakan tempat tinggalnya orang orang kaya dan keluarga kerajaan, para tokoh politik dan para pelaku bisnis terkemuka pada masa itu.

Casbah sendiri berarti benteng, berdiri di tepian laut mediterania. Sebuah kota islam yang unik yang memposisikan Masjid Ketchaoua di tengah tengah nya. Posisi masjid ini juga menjadi titik temu dari persimpangan jalan dari bagian bawah Casbah menuju ke 5 gerbang kota Aljir, seperti telah disebutkan tadi.

Masjid ini terlihat jelas dari pulau tempat berdirinya pos dagang orang orang Charthaginia di abad ke 6. Sedangkan kota kota Aljazair sendiri baru dibangun oleh orang orang Zirid pada abad ke 10, dan selama berabad abad setelah itu penguasa tempat ini silih berganti dari bangsa Birbir, Romawi, Romawi Timur (Byzantium), Arab dan Spanyol pun meninggalkan pengaruhnya disini

Ada juga yang menyatakan bahwa masjid ini telah dibangun pada abad ke 14 masehi, namun dokumen dokumen resmi yang ditemukan menunjukkan bahwa masjid ini baru dbangun di tahun 1612 (abad ke 17). Namun demikian memang ada proses pembangunan kembali oleh Hasan Pasha, merujuk kepada inskripsi peringatan di abad ke 18 (tahun 1900-an) pada saat masjid ini disebut sebagai sebuah “keindahan tak tertandingi”.

Interior Masjid Kechaoua

Di ubah menjadi Katedral lalu menjadi Masjid Lagi

Di tahun 1838 masjid ini di ubah menjadi Katedral St. Philippe oleh penjajah Prancis yang pada saat itu menjajah Aljazair dan pada tahun 1840 secara resmi lambang salib di letakkan di puncak bangunannya oleh Marshal Sylvain Charles Valée, seiring dengan jatuhnya kota Constantin ke tangan Prancis.

Dan ketika Aljazair memperoleh kemerdekaannya di tahun 1962, bangunan ini dikembalikan lagi ke fungsinya semula sebagai Masjid Ketchaoua, dan dinyatakan sebagai bangunan penting bagi budaya dan agama, serta telah memperkaya khasanah catatan sejarah tentang masjid ini yang disebut sebut sebagai ‘masjid yang di ubah menjadi gereja dan menjadi masjid kembali”.

Pengembalian fungsinya sebagai masjid dilaksanakan di tahun pertama kemerdekaan Aljazair dalam sebuah upacara resmi yang dipimpin oleh Tawfiq al Madani, selaku Menteri urusan pelabuhan, dan diselenggarakan di Ben Badis Square (sebelumnya disebut dengan Lavigere).

Momemtum tersebut digambarkan sebagai “Penaklukkan kembali keaslian Aljazair sebagai simbol tertinggi dari pemulihan integritas nasional”. Terpisah dari masjid Ketchaoua, Casbah juga masih memiliki sisa reruntuhan Citadel, bangunan masjid tua yang lainnya, istana bergaya Usmaniyah serta reruntuhan perkotaan tradisional masa lalu.

Arsitektur

Pintu masuk utama masjid ini dilengkapi dengan 23 anak tangga. Pada pintu masuknya terdapat portico berornamen, yang ditopang oleh empat kolom dari batu marmer bercorak hitam. Didalam masjid terdapat jejeran arcade yang dibangun menggunakan kolom kolom batu marmer putih. Keindahan ruangan masjid ini, menara dan langit langitnya di aksentuasi dengan sentuhan seni plester semen bergaya Moor.

Masjid Kethaoua di abadikan dalam salah satu seri perangko Aljazair

Masjid ini kini terlihat jelas dari lapangan terbuka di Casbah, dengan pemandangan laut di sisi depan dan memiliki dua menara berdenah oktagonal yang mengapit pintu masuknya. Dengan sentuhan gaya Moor dan Byzantium menghadirkan pemandangan yang memukau.

Sebagian besar dari kolom kolom marmer putih masjid ini memang berasal dari bangunan asli. Dan uniknya di dalam salah satu ruangan masjid ini terdapat makam dari San Geronimo, dari masa penjajahan Prancis saat masjid ini dijadikan Katedral.

Restorasi

Restorasi terhadap masjid ini dilaksanakan pada tahun 2009 oleh Departemen Warisan Budaya Aljazair, meliputi perbaikan terhadap menara masjid, ruang tengah dan pembatas tangga di dalam masjid. Proyek restorasi tersebut direncakan akan rampung dalam waktu 12 bulan. Hal tersebut cukup mendesak karena salah satu dari menara masjid ini terancam runtuh sebagian.

Restorasi tersebut dijalankan dalam tiga tahap termasuk restorasi terhadap Casbah nya sendiri secara umum. Rencana tersebut telah diluncurkan sejak September 2008 meliputi renovasi sejumlah masjid kuno di Aljir serta mengubah beberapa rumah rumah tua di Casbah menjadi perpustakaan umum dengan dana awal yang dikucurkan mencapai 300 juta Dinar Aljazair.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sabtu, 18 November 2017

Masjid Jamia Cape Town

Masjid Jamia atau Jamia Mosque atau juga seringkali disebut Masjid Ratu Victoria di Cape Town, Afrika Selatan 

Masjid Jamia atau Jamia Mosque atau juga disebut dengan Masjid Ratu Victoria adalah salah satu masjid tua di Afrika Selatan, dan merupakan bangunan kedua yang dibangun dari awal dengan peruntukan sebagai masjid setelah Masjid Awwal, serta merupakan masjid ke-empat di Boo Kap, Cape Town dan Afrika Selatan setelah Masjid Auwal (1794-1798), Masjid Palm Tree (1825) dan Masjid Nurul Islam (1844). 

Pembangunan masjid ini tak lepas dari angina kebebasan dari perbudakan yang semakin berhembus kencang di wilayah Capetown sejak wilayah itu diambil alih oleh Inggris dari tangan Belanda. Hal tersebut berdampak positif bagi perkembangan Islam dan masjid di seluruh wilayah Cape Town. Termasuk kemudian berdirinya Masjid Jamia ini dipertigaan jalan  Chiappini Street dan Castle Streets. Pembangunan masjid ini diperkirakan sudah dilaksanakan sebelum tahun 1850 dan sudah selesai dan digunakan sejak tahun tersebut.

Jamia Masjid
0A Chiappini St, Schotsche Kloof
Cape Town, 8001, Afrika Selatan



Hal ini berdasarkan kepada fakta bahwa ada beberapa laporan tertulis dari para pengelana Eropa yang menuliskan catatan perjalanan mereka mengunjungi masjid ini, salah satunya adalah kunjungan dari Mayson di tahun 1854 yang menerangkan bahwa masjid tersebut sudah berdiri sebagai sebuah masjid besar dengan menara dibangun dengan persetujuan dan dukungan yang baik dari pemerintah kota.

Dia juga menyatakan bahwa pembangunan masjid itu ditujukan bagi semua ummat Islam tanpa memandang perbedaan pandangan diantara kaum muslimin. Sebelumnya ditempat tersebut juga sudah ada masjid dengan ukuran lebih kecil. Dia juga menambahkan bahwa pada saat itu di Cape Town sudah terdapat 12 tempat yang difungsikan sebagai masjid, baik yang berlokasi di rumah para ulama maupun bangunan masjid sebenarnya.

Dan disetiap tempat yang difungsikan sebagai masjid tersebut dilengkapi dengan satu tempat yang disebut mihrab yang menandakan arah ke Mekah dan semuanya sangat bersih, imbuhnya. Masjid ini juga yang dikunjungi oleh Lady Duff Gordon pada hari Jum’at 21 Maret 1862. Catatannya menceritakan tentang indahnya masjid ini dan keramahan pengurus masjid menyambut kedatangannya menjelang pelaksanaan sholat Jum’at, serta menceritakan pengalamannya menyaksikan pelaksanaan sholat Jum’at di masjid ini.

Masjid Jamia Cape Town berada di persimpangan jalan Chiappini Street dan Castle Streets. (foto dari IG @rumin0) 

Hadiah Ratu Victoria

Lahan tempat masjid ini berdiri merupakan pemberian dari pemerintah Inggris di Afrika Selatan sebagai imbalan dari dukungan muslim Cape Town dalam perang perbatasan tahun 1846 melawan pasukan Xhosas. Ratu Victoria menunaikan janjinya memberikan lahan kepada kaum muslimin untuk membangun masjid termasuk juga ha katas lahan di Faure dekat dengan makam Sheikh Yusuf (Al-Makasari).

Lahan tersebut tadinya merupakan lahan milik pemerintah kota Cape Town dan diserahkan secara resmi kepemilikannya kepada Imam Abdul Wahab mewakili muslim Cape Town di tahun 1857. Dua bidang lahan tersebut diserahkan kepada Komunitas Muslim dan dipercayakan melalui Imam Abdul Wahab.

Karena lahan masjid ini merupakan hadiah dari pemerintah Inggris, tak heran bila di masjid ini ada lambang kebesaran kerajaan Inggris yang ditempatkan di atas mihrab masjid, dan ini merupakan masjid satu satunya masjid di dunia yang memiliki lambang kebesaran Prince of Wales di atas mimbar nya.

Tahun pembangunan dan renovasi masjid 

Itu sebabnya masjid ini juga seringkali disebut dengan Masjid Ratu Victoria (Queen Victoria Mosque). Imam pertama masjid ini dijabat oleh Imam Abdulbazier, namun beliau memgang jabatan tersebut hanya beberapa bulan saja dan kemudian diserahkan kepada Imam Abdul Wahab di tahun 1852.

Imam M. Nacerodien selaku imam masjid ini di tahun 1976 menjelaskan bahwa beberapa bagian dari masjid ini masih asli sejak masjid dibangun, termasuk mimbar dan mihrabnya. Beliua juga menjelaskan bahwa masjid ini diresmikan pada tanggal 9 Nopember 1857. Menurut beliau hal tersebut sesuai dengan salah satu pasal di dalam Cape Argus bertanggal 9 November 1957 pada saat perayaan ke 100 tahun berdirinya masjid tersebut.

Mirip Gereja

Masjid masjid di Cape Town dibangun dengan bentuk yang tak jauh berbeda dengan masjid masjid di negara negara Islam di seluruh bagian dunia lainnya. Meskipun memang ada sedikit kemiripan dengan bentuk bangunan gereja. Belanda sendiri bahkan seringkali menyebut bangunan masjid dengan istilah ‘Islamsche Kerk’ (gereja orang Islam).

Perhatikan bentuk bangunannya dengan seksama, denah bangunannya memanjang dengan satu pintu akses di bagian depan ditambah satu beranda seperti layaknya sebuah gereja.

Beberapa sejarawan memberikan penjelasan sederhana untuk hal tersebut adalah karena memang para arsitek pembangun masjid tersebut atau para paenggambar rancangan masjid masjid tersebut kemunginan adalah orang orang non muslim yang bisa jadi bahkan belum pernah melihat masjid seumur hidup mereka, dan mereka merancang bangunan utama masjid seperti bangunan yang biasa mereka buat dengan penyesuaian segala sesuatunya sebagai sebuah masjid.

Masjid Untuk Semua Muslim

Seperti sudah disebutkan di awal tulisan ini, bahwa masjid Jamia ini dibangun dengan penekanan “untuk semua muslim” tanpa memandang mazhab dan perbedaan pandangan diantara kaum muslimin. Hal tersebut terjadi karena memang pada masa itu sedang terjadi semacam perselisihan diantara kaum muslimin disana terutama tentang perbedaan mazhab.

Jemaah muslim di Cape Town yang notabene merupakan muslim dari dan keturunan Indonesia menganut Mazhab Syafi’i dan kemudian terjadi ketidaksepahaman dengan para penganut mazhab Hanafi. Perselisihan tersebut mereda, konon setelah ditengahi oleh Ratu Victoria, salah satunya dengan membangun Masjid Jamia ini.

Dikemudian hari muslim bermazhab Hanafi membangun masjid mereka sendiri di sekitar tahun 1855 di Claremont, yang kini dikenal dengan nama Masjid Hanafi. Yang Insya Allah akan kita bahas pada tulisan berikutnya.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga