Minggu, 26 Februari 2017

Mesjid Besar Bujang Salim Krueng Geukuh, Aceh Utara

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh benar benar menorehkan bentuknya di Masjid Besar Bujang Salim di Krueng Gekeuh, ibukota kabupaten Aceh Utara ini.

Masjid Besar Bujang Salim merupakan masjid pertama yang dibangun dikawasan yang kini dikenal dengan kecamatan Dewantara, kabupaten Aceh Utara. Pembangunan masjid ini diprakarsai dan dibangun di atas tanah seorang bangsawan kerajaan Nisam, Teuku Rhi Bujang alias Teuku Bujang Slamat bin Rhi Mahmud yang kemudian dikenal dengan nama Bujang Salim. Semasa hidupnya beliau juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, dan nama masjid ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada beliau.

Masjid Besar Bujang Salim ini seringkali disebut sebagai kembarannya Masjid Raya Baiturrahman di Kutaraja Banda Aceh karena kemiripan diantara keduanya. Namun demikian kedua masjid ini tidaklah benar benar serupa meski memang pembangunan masjid Bujang Salim ini meniru gaya masjid Raya Baiturrahman. Sekilas pandang kedua masjid ini memanglah tampak serupa. Namun demikian, bila Masjid Raya Baiturrahman memiliki tujuh buah kubah, Masjid Besar Bujang Salim ini hanya memiliki lima kubah saja.

Masjid Budjang Salim
Jl. Ramai Keude Krueng Geukueh
Ds. Beringin Dua, Kec. Dewantara, Kab. Aceh Utara
Provinsi Aceh, Indonesia


Masjid Percontohan Nasional 2016

Masjid Besar Bujang Salim meraih penghargaan sebagai juara satu lomba masjid percontohan kategori Ri’ayah (pembangunan/pemeliharaan) tingkat nasional tahun 2016 yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) RI. Pada awal 2016, Masjid Besar Bujang Salim terpilih menjadi masjid besar percontohan di Aceh, menjadikannya sebagai wakil provinsi Aceh untuk mengikuti lomba masjid tingkat nasional yang diadakan Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.

Proses penilaian diawali dengan verifikasi oleh tim Kemenag RI pada September 2016. Tim yang turun langsung ke lokasi masjid ini, menilai idarah (manajemen), imarah (kemakmurah/peribadatan), dan ri’ayah. Aspek penilaian bukan hanya dalam bentuk fisik, tapi juga sarana dan kegiatan di masjid. Hasil verifikasi lapangan ini diperiksa kembali dalam sidang yang melibatkan Dewan Majelis Indonesia (DMI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), panitia lomba, serta organisasi masyarakat Islam.

Pada 13 Desember 2016, Kabid Imarah Bujang Salim Tgk M Katsir Syamsyuddin memenuhi undangan panitia untuk mempresentasikan profil masjid tersebut di hadapan para guru besar dari berbagai universitas dan unsur lainnya, yang menjadi dewan juri, di Lumire Hotel Pasar Senen, Jakarta Pusat. Setelah melewati proses panjang dan perbandingan dengan masjid-masjid lain dari seluruh Indonesia, dewan juri sepakat menetapkan Masjid Besar Bujang Salim sebagai juara satu masjid percontohan untuk kategori Ri’ayah (pembangunan/pemeliharaan). Sementara juara kedua diraih oleh Masjid Asmaul Husna Banten dan juara tiga Masjid Baitul Makmur, Kepulauan Riau.

Fitur interior Masjid Besar Bujang Salim

Tropi dan piagam penghargaan yang diteken Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin, diserahkan Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof Dr Muhammadiyah Amin. Tropi itu diterima Ketua Badan Kesejahteraan Masjid Besar Bujang Salim Tgk Jalaluddin Ibrahim, didampingi Tgk M Katsir Syamsyuddin dan Kasi Kemasjidan Kantor Wilayah Kemenag Aceh Rizal Mulyadi MA, di Lumire Hotel, Jakarta. Selain tiga masjid tersebut, juga diberikan piagam penghargaan kepada 9 masjid lain di Indonesia dalam kategori percontohan iradah, imarah, dan paripurna.

Sejarah Masjid Bujang Salim

Masjid Bujang Salim dibangun pada tahun 1921 dengan semangat memperkuat persatuan dan kesatuan. Kala itu, belum ada masjid di kawasan yang kini masuk wilayah Kecamatan Dewantara, sehingga masyarakat setempat harus melaksanakan shalat jamaah di rumah masing-masing atau di meunasah dengan kondisi yang terbatas. Kondisi ini mendapat perhatian serius dari bangsawan kerajaan Nisam Teuku Rhi Bujang alias T Bujang Slamat bin Rhi Mahmud. Pria pemberani yang kerap menentang kolonial Belanda ini merupakan pahlawan perintis kemerdekaan RI yang berasal dari Nisam.

Teuku Bujang Slamat memprakarsai pembangunan masjid, di atas tanahnya yang berada pusat Keude Krueng Geukueh dengan ukuran 20 x 15 meter. Namun, sebelum dapat meletakkan batu pertama pendirian masjid tersebut, tahun 1921 Teuku Bujang diasingkan ke Papua, karena menentang Kolonial Belanda. Bahkan, untuk menghilangkan pengaruhnya dari negeri ini, Bujang Slamat diasingkan hingga ke Australia. Kendati demikian, pembangunan masjid yang digagasnya terus dilanjutkan oleh masyarakat setempat.

Jemaah sholat jum'at di dalam Masjid Besar Bujang Salim

Pembangunan masjid ini dilanjutkan Uleebalang asal Dewantara, Ampon Hanafiah. Hingga kemudian berhasil dibangun masjid sederhana dengan ukuran 20x15 meter. Dalam perjalanannya, masyarakat setempat sepakat menambalkan nama Teuku Bujang Slamat menjadi nama masjid Jamik tersebut, yaitu dengan nama Bujang Salim.

Tahun 1980 dibawah pimpinan tokoh masyarakat, Tgk H A Gani masjid ini diperluas dari ukuran 20 x 15 meter menjadi 40 x 30 meter. Tahun 1990 statusnya menjadi Masjid Besar Bujang Salim, karena selain karena masjid pertama yang didirikan di Dewantara juga karena lokasinya berada di pusat kecamatan serta sudah banyak masjid jami lainnya di sekitar kawasan tersebut.

Perluasan masjid tersebut kembali dimulai pada 1996 atas usulan masyarakat yang dipimpin Camat Dewantara kala itu, Drs H Marzuki M Amin. Masjid yang sebelumnya berukuran 40 x 30 meter menjadi 60 x 30 m. Perluasan juga dilakukan untuk pekarangan masjid, dari ukuran 50 x 30 meter menjadi 95 x 80 meter dan pembangunan menara, Taksiran dana yang digunakan untuk membangun masjid itu sudah mencapai Rp 12 miliar.

Mimbar dan Mihrab Masjid Besar Bujang Salim

Aktivitas Masjid Besar Bujang Salim

Masjid Besar Bujang Salim tidak saja memiliki ukuran yang besar namun juga memiliki keindahan tersendiri baik ekterior maupun interiornya. Masjid Bujang Salim memiliki luas 1650 meter persegi dan mampu menampung hingga 2500 jemaah sekaligus. Pembangunannya di danai oleh masyarakat muslim setempat serta bantuan dari beberapa perusahaan seperti PT AAF, PT PIM, PT Arun, Pemda Aceh Utara, dan Pemerintah Aceh.

Tak hanya salat lima waktu dan salat Jumat, Masjid Bujang Besar Salim juga digunakan untuk pengajian rutin saban malam yang diasuh sejumlah ulama. Kecuali Senin malam dan Jumat malam karena pada Senin malam pengurus masjid masjid ini mengikuti pengajian di Abu Paloh Gadeng (Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh Utara, pimpinan dayah di Paloh Gadeng). Di masjid ini, ada pula majelis taklim dari kelompok pemuda, pengajian kaum ibu, dan pengajian anak-anak. Selain dari semua itu, masjid Besar Bujang Salim ini juga memiliki aula dan Stasiun Radio sendiri.

Genset di masjid ini memiliki cerita unik tersendiri. Adalah Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf atau Mualem, dalam satu kesempatan ber i’tikaf dalam masjid tersebut seusai Magrib, tiba-tiba listrik padam. Dan sebulan kemudian di awal tahun 2013 beliau memberikan bantuan generator set (genset) otomatis berukuran besar untuk masjid Besar Bujang Salim.

Teuku Bujang bin Teuku Rhi Mahmud (1891-1959) Pahlawan Pergerakan Kemerdekaan asal Aceh yang belum menjadi Pahlawan Nasional.

Siapakah Bujang Salim ?

Bujang Salim (1891-1959) atau Teuku Rhi Bujang Selamat atau Bujang Salim Bin Rhi Mahmud dikenal sebagai salah seorang Pahlawan Perintis Pergerakan Kebangsaan / Kemerdekaan). Beliau dilahirkan pada tahun 1891 di Nisam, Kecamatan Keude Amplah, Kabupaten Aceh Utara. Putra Uleebalang Nanggroe Nisam.

Pada tahun 1912 beliau menyelesaikan kelas 5 (lima) Kweekschool dan Osvia di Bukit Tinggi (Sumatera Barat) dan kemudian kembali ke Aceh. Tahun 1913 menjabat sebagai Zelfbsrtuurdier Nanggroe Nisam, namun pada tanggal 8 Februari 1920 beliau dipecat dan dibuang ke Mearuke (Papua) akibat dari aktifitasnya di bidang politik dan keagamaan, yang mengundang kekhawatiran pihak penjajah Belanda.

Selama di sana, Bujang Salim juga melakukan aktifitas pendidikan dan keagamaan yang merupakan suatu kegiatan bertentangan dengan kebijakan Belanda ketika itu dan lagi lagi beliau dibuang ke Tanah Merah (Digul) pada 5 April 1935. Semasa penjajahan Jepang, pada 11 Mei 1942, Bujang Salim diungsikan ke hutan Bijan, kemudian dikembalikan lagi ke Meurauke. Pada 3 November 1942, ia kembali dibawa pulang ke Tanah Merah. Pertengahan tahun 1943, atas anjuran Van Der Plas pemerintahan interniran Belanda, mengangkut semua orang buangan untuk diungsikan ke Australia, termasuk Bujang Salim. Tiba di Mackay, Australia, 5 Juni 1943.

Masjid Besar Bujang Salim. 

Akhir tahun 1945, pemerintah interniran Belanda memerdekakan orang-orang buangan tersebut dan dijanjikan akan dipulangkan ke masing-masing tempat asal. Pada 7 Oktober 1946, Bujang Salim dan rombongan eks buangan diberangkatkan dengan kapal barang tentara sekutu dan tiba di Jakarta, 14 Oktober 1946. Ia dimasukkan ke kamp Chause Complex, satu bulan kemudian, anggota rombongan lainnya diberangkatkan ke Cirebon dan diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Sedangkan Bujang Salim, karena anaknya sakit keras, tidak jadi diberangkatkan sampai empat bulan lamanya.

Bujang Salim kemudian berhubungan sendiri dengan pemerintah Indonesia di Pegangsaan Timur dan dibolehkan berangkat ke Purwokerto. Pada 15 Februari 1947 oleh Kementrian Dalam Negeri di Purwokerto, dipekerjakan di sana sementara menunggu kapal yang berangkat dari Cilacap menuju Sumatera. Karena Agresi I Belanda pada 31 Juli 1947, ia dan keluarga terpaksa mengungsi ke lereng-lereng gunung Slamet (Jawa Tengah) selama enam bulan.

Pada Maret 1948, ia ditangkap oleh satu pasukan patroli Belanda dan ditahan untuk diperiksa. Dua hari kemudian ia dilepaskan dan dengan dasar janji Belanda di Australia dulu, ia dibawa ke Medan (Sumatera Utara), tiba 20 April 1948. Pada Februari 1950 dengan bantuan Gubernur Aceh ketika itu, Bujang Salim diberangkatkan ke Kutaradja (Banda Aceh). Lalu, 31 Juli 1950 ia pulang ke Krueng Geukuh, yang saat itu merupakan bagian dari Nanggroe Nisam. Bujang Salim meninggal dunia pada Rabu, 14 Januari 1959 dan dikebumikan di Krueng Geukuh, di dekat Masjid Besar Bujang Salim yang beliau prakarsai pembangunannya. Selama hidup, beliau dikaruniai 8 (delapan) orang putra dan putri.

Referensi



Sabtu, 25 Februari 2017

Masjid Zagan Pasha Balikesir, Turki

Batu alam kotak kotak menjadi material utama pembangunan gedung masjid Zagan Pasha, memberikan keindahan alami tersendiri pada salah satu masjid tua di Republik Turki ini..

Masjid Zagan Pasha  atau dalam Bahasa Turki disebut sebagai Zağnospaşa Camii, adalah masjid bersejarah dan terbesar di Balıkesir, yang berada di bagian Barat Laut Turki. Diberi nama sebagai Masjid Zagan Pasha karena memang pertama kali dibangun tahun 1461 oleh Zagan Pasha (1446–1462/1469). Beliau merupakan tokoh penting di masa pemerintahan Muhammad Al-Fatih / Sultan Mehmed II / Mehmed The Conqueror / Sang penakluk Konstantinopel.

Zagan Pasha pernah menjabat sebagai Panglima tertinggi tentara sekaligus sebagai pejabat tinggi setingkat perdana menteri yang pada masa itu disebut dengan Grand Vizer pada tahun 1453 – 1456 dan kemudian menjabat sebagai Kapudan Pasha pada periode 1463–1466 sebuah jabatan tertinggi di angkatan laut dinasti Usmaniyah.Beliau juga pernah menjabat sebagai Gubernur di Thessaly dan Macedonia. Masjid ini dikenal luas sebagai masjid tempat Mustafa Kemal Atatürk menyampaikan khutbah-nya yang terkenal dengan "Balıkesir Khutbah" di tahun 1923.

Zagan Pasha Mosque  
Karesi, 10100 Balıkesir Merkez/Provinsi Balıkesir, Turki
Telepon: +90 266 239 40 44
Koordinat : 39.6486°N 27.8797°E



Siapakah Zagan Pasha ?

Zagan Pasha yang namanya diabadikan sebagai nama masjid ini merupakan tokoh sentral dalam keberhasilah Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel di tahun 1453. Dia merupakan seorang perwira militer yang begitu ambisius untuk manklukkan pusat pemerintahan Romawi Timur tersebut.

Dia memiliki loyalitas tinggi kepada Al-Fatih sejak Al-Fatih masih berstatus sebagai pangeran. Bahkan ketika Al-Fatih diasingkan tahun 1446, Zagan turut menyertainya. Sekembalinya Al-Fatih dari pengasingan dan kembali ke tampuk pimpinan Negara, Zagan Pasha mampu menunjukkan ketangguhan dan prestasinya nya sebagai perwira tinggi.

Dalam penaklukkan Konstantinopel pasukan Zagan Pasha yang pertama kali menerobos tembok benteng Konstantinopel. Anggota pasukan Zagan yang bernama Ulubatlı Hasan menjadi pasukan Usmaniyah pertama yang berhasil mencapai menara pengawas di benteng kota Konstantinopel. Selama pengepungan begitu banyak tugas zeni tempur dan penyapu ranjau yang dibebankan di bawah tanggung jawab Zagan Pasha. Dan memang Al-Fatih memposisikan saran dari Zagan Pasha secara ekslusif.

Kokoh dan masih terawat baik hingga kini.

Zagan Pasha kemudian tidak saja menjadi Panglima tertinggi Angkatan laut namun juga sekaligus menjadi Penasihat, Mentor, tutor, konselor dan pelindung Sultan. Beliau kemudian menjabat sebagai Gubernur Thessaly dan Macedonia. Al-Fatih sendiri memberikan penghargaan kepada Zagan Pasha dengan mengabadikan nama Zagan Pasha sebagai nama salah satu dari tiga menara Rumeli Hisari bersama dengan Vizer yang lain yakni Halil Pasha dan Sarica Pasha.

Tentang jatidiri Zagan Pasha termasuk daerah asalnya, hingga kini para sejarawan belum sepakat tentang dari mana dia berasal, namun bila menjejak perjalanan karir militernya sejak dia mengikuti program pelatihan tahap dini, besar kemungkinan beliau berasal dari daerah semenanjung Balkan ataupun dari Anatolia, meskipun cakupan dua daerah tersebut terlalu luas untuk dapat menelusur daerah asal beliau karena memang tak pernah muncul dalam catatan sejarah.

Di Balikesir, Zagan Pasha menikmati hari tuanya bersama keluarga, membangun Masjid disana dan setelah wafat pun beliau di makamkan di pekarangan masjid ini, begitupun anggota keluarganya. Di tahun 1897 masjid beserta bangunan makamnya sempat mengalami kerusakan parah dan kemudian dilakukan perbaikan pada tahun 1908 oleh Mutasarrıf (Gobernur) Ömer Ali Bey. Di komplek Masjid ini, selain terdapat kompek pemakaman, mausoleum Zagan Pasha dan hammam (pemandian umum khas Turki).

Beberapa fitur masjid Zagan Pasha. Kanan atas : serambi masjid, kanan bawah : salah satu tempat wudhu masjid Zagan Pasha, kiri bawah : Makam Zagan Pasha.

Arsitekrural Masjid Zagan Pasha

Bangunan Masjid Zagan Pasha dibangun dalam arsitektur masjid masjid Usmaniyah. Masjidnya berdenah segi empat dibangun dengan seni pertukangan batu Ashlar yakni seni pengolahan batu alam yang secara umum dibentuk kota kotak sangat presisi.

Bangunan masjid dilengkapi dengan satu kubah utama dikelilingi empat kubah samping. Akses ke masjid ini melalui pintu dengan masing masing dua daun pintu di sisi utara, timur dan barat. Sisi selatan masjid merupakan sisi kiblat tempat mihrab dan mimbar masjid.

Pada tiga sisi masjid di depan pintu, dilengkapi dengan tiga beranda tertutup dengan jendela jendela dan pintu kaca beratap joglo yang merupakan atap kayu di tutup dengan lapisan tembaga di topang menggunakan dua tiang batu pualam segi empat.

Interior Masjid Zagan Pasha

Bangunan masjid Zagan Pasha dilengkapi dengan satu menara tinggi dan lancip yang diletakkan di sudut barat laut masjid, menara ini merupakan sumbangan Hacı Hafız Efendi dari Arabacıoğulları, seorang anggota keluarga terhormat di kota Balıkesir.

Di pelataran masjid terdapat dua bangunan tempat wudhu berupa gazebo beratap kubah yang disebut shardivans dan makam. Diluar pelataran masjid di sudut barat laut, terdapat shadirvan ketiga berdenah pentagonal yang merupakan bangunan makam Zagan Pasha. Disekitarnya juga terdapat makam anggota keluarga beliau yang terawatt dengan baik hingga kini, di tengah kota Balikesir yang sudah bertransformasi menjadi sebuah kota yang maju dan modern.

Satu hal yang unik di masjid ini adalah adanya jama matahari, berupa sebuah meja yang diletakkan sebuah kolom berukuran pendek berada d sudut selatan pelataran masjid, jarum perunjuknya di lindungi dengan kotak kaca. Pada masa kini jam tersebut tentu saja sudah tidak difungsikan lagi, namuntetap dirawat dengan baik sebagai konservasi warisan sejarah.

Balkesir Khutbah

Dalam sejarah Turki sebagai sebuah Republik, Masjid ini lebih dikenal dalam kaitannya dengan Mustafa Kemal Atatürk tokoh pembaharuan Turki. Dalam sebuah kunjungan singkat-nya ke Balikesir pada tanggal 7 Februari 1923 tak lama setelah berahirnya perang kemerdekaan Turki (9 Mei 1919 hingga 7 Februari 1923), Mustafa Kemal Attaturk yang kemudian dikenal dengan nama Gazi Mustafa Kemal Pasha, menyampaikan khutbah yang kemudian dikenal sebagai "Balıkesir Khutbah".***

Referensi


Minggu, 19 Februari 2017

Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Madrid, Spanyol

Bangunan masif berdinding marmer di pusat kota Madrid ini adalah sebuah masjid dan juga sekaligus sebagai pusat kebudayaan Islam. 

Spanyol yang kini beribukota di Madrid, salah satu Negeri yang pernah menjadi pusat kekuasaan Islam di Eropa semasa kekuasaan Khalifah Bani Umayah yang berkuasa di Andalusia selama 700 tahun sejak penaklukan Tariq Bin Ziyad di tahun 711M. Keruntuhan kekuasaan Islam di Andalusia menjadi titik balik masa keemasan tersebut ketika Raja Ferdinant dan Ratu Issabel memberi dua pilihan kepada ummat Islam Andalusia : tetap tinggal di Andalusia menjadi Kristen atau pergi meninggalkan negeri itu. Dua bangunan mahakarya kejayaan Islam Spanyol masih berdiri kokoh hingga kini Masjid Cordoba dan Istana Alhambra, meski sudah di alihfungsi oleh pemerintah Spanyol.

Kini seiring perjalanan waktu, ummat Islam di Spanyol pelan tapi pasti terus tumbuh, salah satunya disebabkan oleh terus bertambahnya muslim migran dari Negara Negara Islam kawasan Afrika Utara ke Negara tersebut. Saat ini Ada dua Masjid Besar di pusat Kota Madrid yang menjadi pusat Islam di kota yang menjadi markas klub bola Real Madrid tersebut, Yaitu masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Madrid (yang akan kita ulas dalam artikel ini) dan Madrid Central Mosque atau Masjid Abu Bakar, Insya Allah kita bahas dalam artikel berikutnya.

Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Madrid, dalam bahasa Spanyol disebut Centro Cultural Islámico de Madrid atau warga kota Madrid lebih popular menyebutnya dengan Mezquita M.30 (Masjid M-30). Disebut Mezquita M.30 karena lokasi masjid ini yang bersebelahan dengan jalur M-30 kota Madrid. Masjid M-30 merupakan salah satu masjid dan pusat kebudayaan Islam terbesar di Eropa saat ini.

Mezquita M-30 / Centro Cultural Islámico y Mezquita de Madrid
Calle Salvador de Madariaga, 7, 28027 Madrid, Spanyol
centro-islamico.es
+34 913 26 26 10




Sejarah Masjid M-30

Komplek masjid ini dirancang oleh tiga arsitek Polandia dan di danai oleh Pemerintah Saudi Arabia. Diresmikan pada tanggal 24 Rabiul Awal 1413H bertepatan dengan tanggal 21 September 1992M. Peresmian Masjid M-30 dihadiri oleh Raja Spanyol Juan Carlos I dan Pangeran Salman Bin Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia.

Pembangunan Masjid M-30 ini merupakan wujud dari komitmen pemerintah Kerajaan Saudi Arabia bagi syiar Islam terutama penyediaan sarana ibadah bagi kaum muslimin yang tinggal di negeri negeri non muslim serta komitmen pemerintah Kerajaan Spanyol bagi penyediaan fasilitas peribadatan bagi warganya termasuk warga muslim Spanyol yang kini menjadi minoritas di negeri tersebut.

Arsitektural Masjid M-30

Masjid M-30 dirancang dalam gaya modern dengan tidak meninggalkan ciri khas sebuah masjid universal dengan tetap dilengkapi dengan bangunan menara dan balkon. Tanpa bangunan menara dan tulisan besar di fasad depannya akan sulit mengenali bangunan ini sebagai masjid. Dengan bentuknya yang massif dan tak jauh berbeda dengan kebanyakan bangunan disekitarnya.

Interior Masjid Madrid

Hampir keseluruhan dinding bangunan ditutup dengan batu pualam. Interior masjid inipun dihias dengan batu pualam. Jendela jendela di Masjid M-30 di tutup dengan kaca patri warna warni, dengan sentuhan Islami. Satu sisi bangunan masjid yang menghadap ke halaman tengah dilengkapi dengan jendela kaca berukuran besar dengan sentuhan seni Islami. Mozaik islami juga dapat ditemui pada beranda masjid, tampilan luar jendela jendela masjid terutama pada bangunan mihrab sisi luar, serta pada bangunan menara.

Pilar pilar pualam yang ramping penyangga lengkungan lengkungan besar mendomonasi interior masjid ini, layaknya masjid Cordoba dan Istana Alhambra namun lebih sederhana tanpa ukiran seperti di dua bangunan legenda peninggalan dinasti Ummayah tersebut. Lampu lampu Kristal turut memperindah interior masjid ini. halaman tengah Masjid M-30 dirancang terbuka berlantai pualam warna terang dengan sedikit pola sederhana berwarna gelap. Halaman tengah yang dapat difungsikan untuk berbagai perhelatan termasuk sebagai area tambahan bagi jemaah.

Mihrab masjid M-30 dirancang berbentuk setengah lingkaran dengan lengkungan berukir di bagian atasnya. Pualam hijau muda dan merah hati mendominasi mihrab Masjid M-30. Ukiran geometris diaplikasikan di sisi kiri dan kanan mihrab. Kaligrafi alqur’an menghiasi sisi atas mihrab. Sementara mimbar di masjid ini cukup unik, dibuat dari kayu dengan bentuk podium setengah lingkaran.

Pelataran tengah di Masjid Madrid

Satu satunya kubah yang ada di Masjid M-30 ini berada di puncak menaranya. Di ujung tertinggi kubah menara ini dipasang lambang bulan sabit, lambang universal Islam sedunia. sedangkan bangunan utama masjid dan bangunan penunjangnya menggunakan atap genteng tanpa kubah. Masjid M-30 dilengkapi dengan gedung perkuliahan, bangunan tempat wudhu, gymnasium, kafe serta restoran halal (Arabian restaurant) bernama Zahara.

Teror bom Madrid pada 11 Maret 2004 sempat membuat warga muslim Spanyol dan pengurus Masjid M-30 was was. 11 warga muslim turut menjadi korban tewas dalam teror bom tersebut diantara 200 korban tewas lain nya. Meski polisi menduga teror tersebut dilakukan oleh separatis Basque ETA. Namun keterkaitan 3 muslim Maroko yang diduga turut terlibat dalam teror Madrid dan serangan di Cassablanca (Maroko) tak urung membuat warga muslim Spanyol khawatir atas keselamatan diri dan keluarganya.***

Referensi

sacret-destinations.com – madrid mezquita

Sabtu, 18 Februari 2017

Masjid Eyüp Sultan, Istanbul

Penghormatan untuk Sahabat Ayub Al-Anshari. Masjid dan Maosoleum Eyup dibangun oleh Muhammad Al-Fatih sebagai bentuk penghotmatan kepada sahabat Rosulullah, Ayub Al-Anshari yang gugur dalam perang penaklukan Konstantinopel hampir delapan abad sebelum ahirnya Konstantinopel berhasil ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih.

Masjid Eyüp atau Eyüp Sultan Cami merupakan salah satu masjid tertua di Republik Turki dan dalam sejarahnya merupakan masjid pertama yang dibangun setelah Emperium Usmaniyah menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 dan mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul. Pembangunan-nya merupakan bentuk penghormatan kepada Sahabat Rosulullah, Ayub Al-Anshari r.a.

Masjid Eyüp pertama kali dibangun tahun 1458 oleh ‘Sang penakluk Konstantinopel”, Sultan Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmet II. Bangunan tersebut sempat mengalami kerusakan parah akibat gempa dan kemudian dibangun ulang oleh Sultan Selim III yang merupakan penguasa Usmaniyah ke 28 pada sekitar tahun 1800 dengan gaya Baroque.

Masjid Eyüp Sultan
Merkez Mh., Kalenderhane Cd. No:1, 34050 Eyüp/İstanbul, Turki
+90 212 417 70 40



Penghormatan Untuk Abu Ayub Al-Anshori r.a.

Masjid Eyüp memiliki arti teramat penting bagi Muslim Turki, karena faktor sejarahnya yang mengulur jauh hingga ke masa Rosulullah S.A.W. Nama masjid ini dinisbatkan kepada Abu Ayub Al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar, salah seorang sahabat Rosulullah S.A.W, beliau gugur dalam penyerbuan pertama ke ibukota Romawi Timur (Byzantium) di Konstantinopel tahun 668 dimasa dinasti Bani Umayyah. Lalu siapa sebenarnya Abu Ayub Al-Anshari r.a.?

Kisah bermula pada peristiwa Bai’at Aqobah kedua, pada saat itu utusan dari Madinah pergi ke Makkah untuk berbaiat. Ai Aqobah, Abu Ayub Al-Anshari termasuk di antara 70 orang Mukmin yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela.

Hari Jum'at 16 Rabiul Awal / 28 September 622 Nabi Muhammad S.A.W Hijrah dari Mekah ke Madinah. Ketika Rasulullah memasuki kota Madinah, Muslim Madinah berebutan menawarkan rumah mereka sebagai kediaman Rosulullah, namun sejarah menjelaskan kepada kita, saat itu Rosulullah menyatakan beliau akan tinggal di rumah, dimana untanya berhenti.

Dan Allah menentukan pada saat itu, unta baginda Rosulullah berhenti di depan rumah Bani Malik bin Najjar. Salah seorang Muslim tampil dengan wajah berseri-seri karena kegembiraan yang membuncah. Ia maju lalu membawa barang muatan dan memasukkannya, kemudian mempersilakan Rasulullah masuk ke dalam rumah. Nabi SAW pun mengikuti sang pemilik rumah. Siapakah orang beruntung yang dipilih sebagai tempat persinggahan Rasulullah dalam hijrahnya ke Madinah ini, Dialah Abu Ayub Al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar.

Interior. Masjid Eyup dibangun begitu megah dengan sentuhan gaya Baroque setelah diperbaiki dan dibangun ulang pada masa pemerintahan Sultan Selim III. foto kanan bawah adalah makam Ayub Al-Anshari

Sejarah juga mencatat bahwa, bangunan pertama yang dibangun Rosulullah di Madinah adalah Masjid, dan selama proses pembangunan masjid dan sebuah bilik sebagai tempat kediaman Rosulullah disamping masjid berlangsung selama itu pula beliau tinggal di rumah keluarga Abu Ayub Al-Anshori r.a.

Sejak Kafir Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang Madinah, sejak itu pula Abu Ayub r.a. mengalihkan aktifitasnya dengan berjihad di jalan Allah bersama Rosullulah. Ia turut bertempur dalam Perang Badar, Uhud dan Khandaq. Di tiap medan tempur, ia tampil sebagai pahlawan yang siap mengorbankan nyawa dan harta bendanya. Hampir dalam setiap pertempuaran beliau tampil sebagai pengusung panji panji Islam di garda terdepan.

Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang, dengan suara keras atau perlahan adalah firman Allah SWT, "Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun waktu sempit..." (QS At-Taubah: 41). Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali Bin Abu Thalib dan Muawiyah, Abu Ayub berdiri di pihak Ali Bin Abu Thalib tanpa sedikit pun keraguan. Dan kala Khalifah Ali bin Abi Thalib syahid, dan khilafah berpindah kepada Muawiyah dari Bani Umayyah, Abu Ayub menyendiri dalam kezuhudan. Tak ada yang diharapkannya dari dunia selain tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang dalam barisan kaum Muslimin.

Ketika diketahuinya balatentara Islam tengah bergerak ke arah Konstantinopel, ia segera menunggang kuda dan membawa pedangnya, memburu syahid yang sejak lama ia dambakan. Dalam pertempuran inilah ia menderita luka berat. Ketika komandannya datang menjenguk, nafasnya tengah berlomba dengan keinginannya menghadap Ilahi. Maka bertanyalah panglima pasukan waktu itu, Yazid bin Muawiyah, "Apakah keinginan anda wahai Abu Ayub?"

Maosoleum Ayub Al-Anshori di tahun 1855

Abu Ayub meminta kepada Yazid, bila ia telah meninggal agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh jarak yang dapat ditempuh ke arah musuh, dan di sanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, sehingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda kaum Muslimin di atas kuburnya, dan diketahuinya bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan.

Meskipun pasukan muslimin dari Bani Umayyah gagal menaklukkan Konstantinopel dalam perang tahun 668-669 tersebut, pengepungan terhadap konstantinopel tersebut berahir dengan perjanjian damai selama 40 tahun antara Byzantium dengan Bani Umayyah. Namun wasiat Abu Ayub berhasil ditunaikan, jazad beliau dimakamkan di samping tembok kota Konstantinopel, di Jantung pertahanan Romawi Timur (Byzantium). Dan kisah perang tersebut meleganda melewati zaman, tidak saja dikalangan kaum Muslimin namun juga dikalangan orang orang Romawi.

Jatuhnya Konstantinopel dan Pembangunan Masjid Eyup

Sekitar 784 tahun setelah gugurnya Abu Ayub dalam pengepungan Konstantinopel oleh Bani Umayyah,  di tahun 1453 Emperium Usmaniyah dibawah Sultan Muhammad Al-Fatih (Sultan Mehmet II) berhasil menaklukkan Konstantinopel, mengganti nama kota itu menjadi Istanbul sekaligus menutup sejarah Byzantium. Paska penaklukan Konstantinopel Sultan Muhammad Al-Fatih menjadikan Istanbul sebagai ibukota baru bagi pemerintahan Emperium Usmaniyah, membangun kota tersebut menjadi pusat peradaban Islam dan dari sana pula wilayah Usmaniyah kemudian melebar hingga ke Azerbaijan di ujung timur dan Al-Jazair di ujung barat.

Di tahun 1485 atau sekitar 32 tahun setelah jatuhnya Konstantinopel Sultan Muhammad Al-Fatih (Sultan Mehmet II) membangun Maosoleum di atas kubur Ayub Al-Anshari sekaligus membangun Masjid Eyup Sultan di lokasi yang sama, sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang Sahabat Rosulullah Ayub Al-Anshari r.a, pahlawan perang Islam dalam perang pengepungan Konstantinopel di masa dinasti Bani Umayyah.

Masjid masjid dari dinasti Usmani memang terkenal dengan kemegahan-nya, seperti Masjid Eyup Sultan ini yang kini menarik perhatian wisatawan dari dalam negeri Turki dan juga dari mancanegara.

Nilai penting masjid Eyup semakin meningkat sepanjang waktu. Disebutkan bahwa masjid ini menjadi tempat penobatan dan pengambilan sumpah para Sultan Emperium Usmaniyah, tidak hanya itu beberapa dari para penguasa Usmaniyah-pun meninggalkan wasiat untuk dimakamkan di komplek Masjid Eyup. Beberapa diantara mereka adalah Sokollu Mehmet Paşa, Ziya Osman Saba, dan Fevzi Çakmak, dengan demikian, Masjid Eyup ini kemungkinan juga merupakan satu satunya komplek masjid di Istanbul yang berhimpitan dengan Maosoleum dan Pemakaman yang membentang disekitarnya di tengah kota Istanbul.

Objek Wisata

Masjid Eyup Sultan kini menjadi salah satu objek wisata menarik di kota Istanbul, berbagai kalangan mengunjungi masjid dan mausoleum ini baik dari kalangan muslim maupun non muslim. Kunjungan untuk umum ke masjid terbuka setiap hari kecuali pada waktu waktu pelaksanaan sholat fardu. Kunjungan ke komplek ini gratis alias tidak ada biaya tiket masuk, namun donasi untuk measjid akan diterima dengan baik.

Salah satu fitur menarik di masjid ini yang menjadi paforit para pengunjung adalah cetakan telapak kaki Nabi Muhammad yang tercetak di batu marmer dilindungi dengan bingkat perak. Di komplek ini juga seperti masjid masjid tua bersejarah di Turki lainnya selalu diramaikan oleh aneka warna burung merpati yang berterbangan dengan bebas di seantero komplek ditambah dengan kawanan kucing kucing khas Turki turut meramaikan komplek masjid dan pamakaman ini.

Interior Masjid Eyup sangat elegan dengan dekorasi ke-emasan, lampu gantung elegan menjuntai dari kubah besarnya dan karpet oriental menghampar menutupi seluruh lantai ruangan. Dinding makamnya di hias dengan keramik hias dari beragam periode. Empat ratus keping keramik ini menjadi keindahan tersendiri. Sebuah teralis yang dipasang di depan kuburan Abu Ayub r.a. di dalam mausoleum terbuat dari perak murni merupakan pemberian dari Sultan Selim III.

Berlatar laut 

Selain diabadikan sebagai nama masjid dan kompleknya, nama Abu Ayub r.a. juga di abadikan sebagai nama Distrik tempat masjid dan makam ini berada yang disebut distrik Eyup. Secara tradisi pada musim semi dan musim panas ada banyak anak anak berpakaian khusus sebelum mereka mengikuti prosesi di masjid ini dan pada hari Jum’at masjid ini dipadati oleh ribuah Jemaah sholat Jum’at.

Legenda Seputar Masjid dan Maosoleum Eyup Sultan

Kisah yang beredar menyebutkan bahwa pembangunan Masjid Eyup dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih atas nasihat gurunya Seyh ül-Islam Akshemsuddin, untuk menemukan makam sang pejuang. Setelah diketemukan, Al-Fatih kemudian mengurus makam tersebut, membangun Maosoleum diatasnya dan juga membangun masjid besar sebagai penghormatan kepada Abu Ayub Al-Anshari r.a.

Disebutkan bahwa Seyh ül-Islam, Akshemsuddin turut membantu pencarian makam tersebut, Setelah seminggu pencarian tak menemukan hasil, Akshemsuddin menggelar sajadahnya disekitar tembok Konstantinopel memohon petunjuk dari Allah S.w.t sampai tertidur disana. Saat beliau terbangun sontak berteriak bahwa makam Abu Ayub berada tak jauh dari tempatnya menggelar sajadah.

Ditemani tiga orang pendampingnya, Akshemsuddin melakukan penggalian ditempat tersebut dan menemukan sekeping batu bertulisan antik menggunakan aksara sufik “inilah makamnya Abu Ayub”. Legenda ini juga menyatakan bahwa Jenazah Abu Ayub r.a. ditemukan masih dalam keadaan utuh seperti baru saja dimakamkan, meski sudah dimakamkan disana hampir delapan abad lamanya.

Interior Masjid Eyup Sultan

Legenda lainnya  menyebutkan bahwa, sebelum penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih, bahkan orang orang Romawi dan penduduk Konstantinopel-pun memandang Abu Ayub di makamnya itu sebagai orang suci. Dan yang mencengangkan, para ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata, "Orang-orang Romawi sering berkunjung dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka mengalami kekeringan.

Seiring perjalanan sejarah selama berabad abad, Istanbul tidak saja menjadi sebuah kota Metropolitan tapi juga menjadi pusat komplek pemakaman tua. Kekuasaan Kristen di Konstantinopel meninggalkan pemakaman tua yang berada di sisi bukit di luar tembok kota, seiring dengan penguasaan muslim atas kota tersebut, pemakaman Muslim hadir bersebelahan dengan pemakaman Kristen, berdiri diam di salah satu sisi kota Istanbul menghadirkan suasana yang seakan akan menghentikan waktu.***

Referensi


Minggu, 12 Februari 2017

Masjid Hijau (Yesil Cami) Bursa, Turki

Masjid Yesil atau Masjid Hijau di kota Bursa, Turki, merupakan salah satu masjid tertua di Turki. Denah masjidnya tidak umum digunakan dengan denah seperti hurup T terbalik. Ekteriornya menggunakan batu marmer sedangkan interiornya dipenuhi dengan keramik hias buatan tangan.

Tentang kota Bursa tempat masjid ini berdiri telah di ulas dalam posting terdahulu berjudul “Masjid Agung Bursa”. Di bekas ibukota Negara Emperium Usmaniyah ini juga terdapat sebuah masjid tua bersejarah bernama Yesil Cami, atau dalam Bahasa Indonesianya “Yesil” berarti “Hijau”, sedangkan “Cami” (dibaca Jami’) secara harfiah bermakna “Masjid Jami’” karena untuk bangunan mushola atau masjid kecil biasa disebut dengan “Mescid”. Sehingga Yesil Cami secara harfiah dalam Bahasa Indonesia bermakna “Masjid HIjau” atau dalam Bahasa Inggris disebut “Green Mosque”.

Penyebutan Yesil Cami atau Masjid Hijau atau Green Mosque ini berkaitan dengan warna interior masjid ini yang di dominasi warna hijau dan toska. Sama halnya dengan Masjid Sultan Ahmad di Istanbul yang lebih kenal dengan sebutan sebagai Blue Mosque karena langit langit interiornya yang di dominasi warna biru. Yesil Cami atau Green Mosque berdiri di atas sebuah bukit di kota Bursa, di tempat yang kini juga dikenal dengan kawasan Yesil atau kawasan Hijau. Meski demikian, masjid ini juga kerap kali disebut sebagai Masjid Mehmet I merujuk kepada nama pembangunnya.

Meski ukurannya tak sebesar Masjid Agung Bursa (Uu Cami), Green Mosque menghadirkan keindahan tersendiri, masjid ini menampilakn peralihan seni bina bangunan dari era Seljuk Turki ke Era Usmaniyah-Turki dengan kubah besar dan menara tinggi yang dikemudian hari menjadi ciri khas bangunan masjid Emperium Usmaniyah. Green Mosque mulai dibangun tahun 1419 dan selesai tahun 1421 dimasa pemerintahan Sultan Celebi Mehmet.

Green Mosque (Yesil Cami)
Yeşil 16360 Yıldırım/Bursa, Turki


Pembangunan Masjid Yesil (Green Mosque) Bursa

Yesil Cami dibangun oleh arsitek Hacı Ivaz Pasha atas perintah dari Sultan Celebi Mehmet antara tahun 1419 hingga tahun 1421. Bangunan masjid Yesil dihias dengan beraneka ragam ornament yang dibuat secara hand made oleh para pelukis ternama dimasanya termasuk pelukis Haci Ali, Ilyas Ali. Serta seorang seniman ternama bernama Mehmet Mecnun yang melengkapi keindahan masjid ini dengan kemegahan karya keramik lukisnya yang dibuat khusus untuk masjid ini. Selain masjid dikomplek masjid Yesil juga terdapat Maosoleum (bangunan makam) yang berada diseberang jalan dari masjid, lalu juga ada Bangunan Madrasah dan Hamam (pemandian khas Turki)

Keramik Hias Buatan Tangan

Seperti disebutkan di awal tadi bahwa penamaan masjid ini terkait dengan ornamen interior nya yang didominasi warna hijau dari ribuan keeping keramik buatan tangan dari para seniman ternama pada masa itu. Mihrab Masjid Yesil cukup tinggi hingga mencapai 10 meter, rancangan nya sudah menggunakan bentuk cerukan ke dalam tembok dengan ornamen Muqornas (sarang lebah menggantung seperti staklaktit) di sisi atasnya, namun tanpa dilengkapi dengan dua pilar besar di sisi kiri dan kanannya seperti pada masjid masjid Usmaniyah yang dibangun kemudian.

Interior serba hijau di masjid ini yang kemudian menjadi namanya. ada seperangkat pancuran dari terbuat dari batu granit ditengah ruangan masjid ini.

Mihrab Masjid Yesil menampilkan salah satu contoh terbaik dari keindahan keramik hias buatan tangan, sama halnya dengan sebagian besar dari masjid ini juga dihias dengan keramik sejenis sehingga keramik keramik ini menjadi sesuatu yang istimewa dan pembeda masjid ini dengan masjid masjid tua era Usmaniyah lainnya. Area khusus untuk Muazin (Mehfil) termasuk juga area khusus untuk Sultan juga dihias dengan keramik buatan tangan. pada area khusus untuk Sultan keramik yang digunakan bermotif bunga. Dengan begitu banyaknya keramik buatan tangan dimasjid ini menjadikannya sebuah mahakarya dari para seniman keramik pada masa itu.

Berdenah Hurup “T” Terbalik

Keunikan lainnya dari Masjid Yesil di Bursa ini adalah denah bangunannya yang tak biasa. Denah bangunan masjid Yesil berbentuk hurup “T “ terbalik, sehingga secara artifisial membagi ruang sholat di dalam masjid ini menjadi tiga bagian, yakni ruang utama disekitar mihrab dan mimbar kemudian ruangan di sayap kiri dan ruangan di sayap kanan. sedangkan di bagian tengahnya ditempatkan satu pancuran yang berfungsi sebagai tempat berwudhu dari bahan baru pualam.

Mihrab dan mimbar Masjid Yesil Cami Bursa

Untuk penerangan ruangan masjid di sisi mihrab dilengkapi dengan empat pintu yang dibuat menjorok jauh ke dalam tembok dan dilengkapi dengan teralis. dua jendela disisi kiri dan kanan mihrab sedangkan dua jendela lainnya diletakkan di sisi kiri dan kanan ruangan. Jendela jendela ini dihias dengan ukiran batu marmer yang menyajikan ukiran seperti tulisan tulisan tangan yang belum selesai.

Perlu di ingat bahwa arah kiblat sholat dinegara negara Eropa termasuk Turki, arah kiblat sholatnya tidak mengarah ke barat seperti kita di Indonseia tapi mengarah ke selatan, karena wilayah Turki berada di sebelah utara Ka’bah. Dengan demikian fasad atau sisi depan masjid ini berada di sebelah utara bangunan sedangkan sisi mihrabnya berada di sisi selatan. Fasad Masjid Yesil dibuat dari batu batu pualam.

Khusus untuk pintu masuk utamanya dibangunsebagai sebuah gapura besar berbentuk cerukan ke dalam dari bahan marmer dengan ukiran Muqornas di sisi atasnya. Butuh waktu hingga tiga tahun untuk menyelesaikan seluruh ukiran muqornas yang begitu rumit dan ornament lainnya pada gapura di pintu masuk utama Masjid Yesil ini.

Ukiran dan muqornas pada gapura pintu masuk masjid Yesil Cami Bursa.

Tidak ada komunitas masyarakat ataupun perkantoran pemerintahan dari era Usmaniyah ditempat masjid ini berdiri, konon hal tersebut terjadi karena masjid ini sendiri sempat terbengkalai pembangunannya karena wafatnya Sultan Celebi Mehmet pada saat pembangunan masjid sedang berjalan dan belum selesai. Menaranya sendiri baru dibangun pada abad ke 19. Ada juga yang menyatakan bahwa Masjid ini kemudian dijadikan semacam Masjidl Konsul Negara Usmaniyah pada masa itu.

Masjid Yesil sempat mengalami kerusakan akibat gempa bumi di tahun 1855 namun sudah diperbaiki dimasa Gubernur Bursa dijabat oleh Ahmet Vefik Pasha, beliau menunjuk seniman Prancis Léon Parvillée, untuk memulihkan masjid tersebut sesuai aslinya meskipun tidak seratus persen dari bangunan awal, namun Léon Parvillée yang memang terkenal sangat memahami arsitektur Usmani berhasil memulihkan sebagian besar bangunan masjid Yesil ke kondisi aslinya sebelum terjadi kerusakan. 

Maosoleum, Madrasah dan Hamam

Di komplek Masjid Yesil ini selain masjid juga terdapat komplek Makam Sultan Sultan Çelebi Mehmet dan keluarganya di dalam sebuah Maosoleum lokasi berada di seberang jalan dari Masjid Yesil. Seperti masjidnya, mausoleum ini pun di dominasi warna hijau sehingga disebut sebagai Green mausoleum dan sama sama dirancang oleh arsitek is skilful artist Haci Ivaz Pasha. Bangunannya berdenah octagonal di bagian dalamnya juga dihias dengan satu mihrab berukuran kecil, mungkin sekedar penunjuk arah kiblat dan penghias ruangan, karena toh mausoleum bukanlah tempat sholat.

Pintu masuk utama masjid Yesil Cami. butuh waktu 3 tahun untuk menyelesaikan ukiran rumit pada gerbang pintu masuk ini.

Maosoleum ini memang dibangun untuk Sultan dan keluarganya sehingga proses pembangunannya sangat detik dan apik termasuk semua fitur seni nya memiliki keindahan yang menawan. Di dalam area utama Maosoleum ini terdapat makam dari Sultan Çelebi Mehmet, kemudian makam putranya Mustafa, Mahmud dan Yusuf serta makam putrinya yang bernama Selçuk Hatun, Sitti Hatun dan Ayse Hatun serta makam pengasuh Sultan Çelebi Mehmet yang bernama Daya Hatun.

Masjid Yesil juga dilengkapi dengan Madrasah yang letaknya sekitar 100 meter dari masjid, Madrasah Sultaniye begitu namanya. bangunan madrasahnya dikelilingi dengan pelataran dan gazebo berkubah. Madrasah ini dilengkapi dengan pusat pembelajaran dan ruangan untuk para siswa. di tengah tengah halaman-nya terdapat sebuah kolam dengan pancuran yang dibuat dari batu marmer. Dulunya disekitar masjid Yesil juga terdapat pemandian umum khas Turki (Hamam) namun kini sudah tidak ada lagi berganti menjadi pusat perdagangan. Seperti halnya masjid Agung Bursa, Masjid Yesil Cami atau Green Mosque ini juga menjadi salah satu destinasi wisata pavorit di Bursa.

Paralelisasi Sejarah

Tahun 1419, Bila sejajarkan dengan sejarah Indonesia, Usia Masjid Yesil (Blue Mosque) di kota Bursa ini lebih muda 5 tahun dibandingkan dengan Masjid Tua Wapauwe yang sudah lebih dulu dibangun tahun 1414 di Maluku. Pada saat pembangunan masjid Yesil ini dimulai tahun 1419, bersamaan dengan tahun wafatnya Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim di Jawa Timur. Sementara di wilayah barat pulau Jawa sedang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran dengan Prabu Siliwangi sebagai Maharajanya.

Ruangan dalam Masjid Yesil Cami ke arah pintu masuk utama.

Di tahun 1420 pada saat masjid Yesil di Bursa menjelang penyelesaian ahir, di pelabuhan Muara Jati (kini Cirebon) datanglah serombongan pedagang Islam dari Baghdad yang dipimpin Syekh Idlofi Mahdi. Oleh Ki Surawijaya penguasa disana kala itu, Syekh Idlofi diijinkan menetap dan tinggal di kampung Pasambangan yang terletak di Gunung Jati. Disana beliau mulai berdakwah, dan ajaran Islam berkembang begitu cepat.

Itulah awal mula Gunung Jati sebagai Pangguron Islam. Muridnya diantaranya adalah Raden Walangsungsang dan adiknya, Ratu Rarasantang, serta istrinya Nyi Endang Geulis. Raden Walangsungsang dan Ratu Rara Santang adalah anak dari Prabu Siliwangi dari Istrinya yang bernama Subang Larang.***

Referensi


Hasan Basari, Sekitar Komplek Makam Sunan Gunung Jati dan Sekilas Riwayatnya

Sabtu, 11 Februari 2017

Ulu Cami, Masjid Agung Bursa, Turki

Masjid dua puluh kubah. Masjid Ulu Cami atau Masjid Agung Bursa di Turki ini dibangun dengan dua puluh kubuh merepresentasikan dua puluh masjid yang dijanjikan oleh Sultan.

Apa dan dimanakah Bursa

Bursa adalah salah satu kota tua di Turki yang memiliki perangan teramat penting badi sejarah Turki, sekaligus juga merupakan kota terbesar ke 4 setelah Istanbul, Ankara dan Izmir. Bursa, adalah kota tempat Turki Usmani atau Dinasti / Emperium / Kekaisaran / Ke-Khalifahan Usmaniyah berawal. Lokasi Bursa yang cukup dekat dengan Konstantinopel (kini Istanbul), telah menjadi pilihan lokasi yang strategis oleh para penguasa baik dari bangsa Arab maupun Seljuk yang memang berlomba-lomba untuk bisa menaklukan Konstantinople saat itu.

Tahun 1075 bangsa Muslim Seljuk telah menguasai kota ini. 22 tahun setelahnya Pasukan Perang Salib (Crusaders) yang pertama datang, merebut kota ini. Setelah itu Bursa selalu menjadi perebutan silih berganti. Baik oleh Crusaders maupun Muslim Seljuk. Bangsa Turki mengalami perpindahan ke daerah Anatolia sepanjang abad ke 12 dan 13 kemudian menumbuhkan  entitas entitas pemerintahan kecil dipimpin kepala suku atau panglima perang mereka. Termasuk Ertugrul Gazi yang mendirikan pemerintahan kecil di dekat Bursa.

ULU CAMI tertulis pada dinding depan pintu utama masjid utama di kota Bursa ini, dalam bahasa Indonesia mungkin sepadan dengan Istilah Masjid Jami'. Foto bawah adalah pancuran, tempat wudhu yang tersedia di halaman masjid. Pancuran seperti ini dapat ditemukan di semua masjid dari era dinasti Usmaniyah.

Pada tahun 1317, Osman atau Usman (anak dari Ertugrul Gazi) mengepung Bursa hingga jatuh ke dalam kekuasaannya pada tahun 1326 dan menjadikan kota ini sebagai ibu kota. Osman inilah yang selanjutnya mendirikan Emperium Usmaniyah yang oleh orang Eropa disebut dengan Kekaisaran Otoman karena ketidakmampuan menyebutkan dengan baik Nama Osman atau Usman. Selama 39 tahun Bursa menjadi Ibukota Usmaniyah sampai tahun 1365.

Ibukota Emperium Usmaniyah kemudian dipindahkan ke kota Edirne dan bertahan hingga 90 tahun, namun ahirnya dipindahkan lagi ke Istanbul setelah Sultan Mehmet II atau Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Byzantium di Konstantinopel tahun 1453.  Istanbul menjadi ibukota terahir Emperium Islam Usmaniyah selama 469 tahun hingga dibubarkannya Emperium tersebut di tahun 1922 oleh Kemal Attaturk lalu mendirikan Republik Turki yang kini kita kenal sekaligus memindahkan lagi Ibukota negara ke Ankara hingga hari ini.

Grand Mosque of Bursa  
Murat Aklar Nalbantoğlu Mahallesi
Ulucami Caddesi No:2, 16010 Osmangazi
Bursa, Turki
Telepon: +90 224 220 21 66
Geographic coordinates: 40.183841°N 29.061960°E



Bursa terletak di Turki bagian barat, ditepian laut Marmara yang memisahkannya dengan Istanbul. Bursa juga merupakan wilayah Turki yang berada di tanah Benua Asia. Selain dikenal sebagai kota bersejarah, Bursa juga merupakan kota industry dan sudah menjadi semacam sentranya industry otomotif bagi berbagai merek mobil Eropa. Dari Istanbul yang dikenal luas sebagai “ibukotanya Turki” di Eropa, Bursa dapat dicapai melalui perjalanan darat dan ferry penyeberangan sekitar 4 jam perjalanan.

Bursa juga menjadi destinasi favorit turis karena menyimpan banyak peninggalan sejarah Islam. Kota Bursa, Banyak tempat-tempat bersejarah yang bisa dikunjungi disana. Seperti mesjid-mesjid yang menjadi tujuan wisata, seperti Masjid Agung Bursa (Ulu Cami) yang merupakan mesjid terbesar di Turki, Green Mosque, Emir Sultan Ildirim Bayezit Cami, dan Orhan Cami. Selain dari itu, kota Bursa konon juga merupakan asal muasal dari Kebab Turki yang terkenal itu. Dan di Kota Bursa ini juga, menjadi tempat peristirahatan terahir pendiri Emperium Usmaniyah, Osman dan putranya Orhan Gazi.

Masjid Agung Bursa (Ulu Camii)

Masjid Agung Bursa atau Bursa Grand Mosque atau Bursa Ulu Cami adalah masjid tua yang berada di kota Bursa. Lokasi masjid ini berada di Atatürk Boulevard di kawasan kota tua Bursa. Dibangun dengan perpaduan gaya Seljuk - Usmaniyah, pada tahun 1396 hingga tahun 1399, atas perintah dari Sultan Yıldırım Bayezid I. Rancangan dan pembangunan masjid ini dilaksanakan oleh Arsitek Ali Neccar di tahun 1396–1399. Pembangunan masjid ini merupakan janji dari Yıldırım Bayezid I pada saat memenangkan perang Battle of Nicopolis in 1396.

SISI UTARA. Kiblat atau arah sholat di Turki kira kira mengarah ke selatan karena letak Ka'bah di kota Mekah berada di selatan wilayah Turki, sehingga pintu masuk utama Masjid Agung (Ulu Cami) Bursa berada di sisi utara, Mimbar dan Mihrabnya di sisi selatan. Sisi utara Masjid Agung Bursa ini ditandai dengan dua menaranya yang mengapit pintu utama.

Cerita yang beredar disana menyebutkan bahwa masjid Agung Bursa atau Ulu Cami ini dibangun dengan dua puluh kubah berhubungan dengan Janji dari Yıldırım Bayezid I yang akan membangun 20 masjid apabila berhasil memenangkan perang melawan Pasukan Salib di  Perang Nicopolis. Namun rencana ini akhirnya diubah menjadi membangun masjid dengan 20 kubah. Para pengamat seni bina arsitektur masjid menyebutkan bahwa masjid Agung Bursa ini sebagai masjid dengan gaya  arsitektur murni Bangsa Seljuk.

Masjid Agung Bursa merupakan masjid terbesar di Bursa sekaligus merupakan landmark arsitektur Seljuk karena memang menggunakan begitu banyak elemen dari arsitektur dinasti Seljuk yang sangat kental, dan pembangunannya pada Era awal emperium Usmaniyah. Badan dunia UNESCO telah memasukkan Masjid Agung Bursa (Ulu Cami) ke dalam daftar warisan budaya dunia di tahun 2014 dengan menyebut Masjid Agung Bursa sebagai salah satu masjid terpenting dalam sejarah Islam.

Bangunanya berdenah persegi panjang dengan luas mencapai 2200 m2. Ada dua puluh kubah dibagian atapnya yang menjadi ciri khas masjid ini. kubah kubah tersedbut terdiri dari empat baris, masing masing baris terdiri dari lima kubah, ditopang oleh 12 tiang persegi empat yang juga berukuran sangat besar. Jejeran tiang tiang besar tersebut menghasilkan lorong lorong dan ruang yang tercipta diantara jejerannya, dibawah masing masing kubah. Hal ini menciptakan privasi tersendiri bagi Jemaah. Selain dua puluh kubah besar, masjid ini juga dilengkapi dengan dua Menara.

KOLEKSI KALIGRAFI. Masjid Agung Bursa memiliki begitu banyak karya kaligrafi dari 41 Kaligrafer ternama di masa-nya. kaligrafi kaligrafi tersebut di lukis di dinding, tiang hingga pada lempengan panel berukuran besar dan kecil. 

Bagian yang cukup unik dari masjid Agung Bursa ini adalah, adanya tempat wudhu di dalam masjid, yang dalam Bahasa setempat disebut şadırvan. Letaknya setelah melewati pintu utama dibawah kubah kaca yang juga menjadi sumber cahaya matahari yang lembut ke dalam ruangan masjid. Interiornya yang serba horizontal dan pencahayaan yang tidak terlalu terang benderang memang sengaja dibuat demikian untuk menghadirkan suasana tenang dan damai serta kontemplatif.

Kaligrafi
                                                      
Di dalam masjid ini terdapat 192 inskipsi yang ditulis tangan oleh 41 ahli penulis kaligrafi ternama di masa itu. Dengan koleksi kaligrafi-nya Masjid Agung Bursa merupakan contoh terbesar kaligrafi di dunia. Kaligrafi kaligrafi tersebut ditulis baik di bagian dinding masjid, tiang tiang besarnya serta lempengan lempengan besar dan kecil. Daun pintu dan Mimbar dibuat dengan apik oleh para pemahat yang memang ahli dibidangnya dari jenis kayu terpilih dan bermutu. Ukiran pada mimbar masjid ini mengambil ukiran dengan model tata surya. Sebuah pintu berumur ratusan tahun yang merupakan pintu Ka’bah di Mekah ditampilkan di masjid ini dalam sebuah kotak kaca.

Pintu Ka’bah dan Legenda Masjid Agung Bursa

Ekterior Masjid Agung Bursa seluruhnya terbuah dari bahan batu. Satu unit pancuran air penuh ornamen ditempatkan di pelataran masjid di depan menara masjid. Menara kembar yang tampak identik satu dengan lain yang mengapit masjid ini sebenarnya dibangun pada waktu yang berbeda. Satu menara di sisi barat merupakan bangunan menara yang dibangun bersamaan dengan pembangunan masjid pada saat awal, sedangkan menara yang berada disebelah timur dibangun kemudian oleh Sultan Mehmet I pada abad ke 15.

FITUR INTERIOR MASJID AGUNG BURSA. Kiri atas : Pancuran tempat berwudhu di dalam Masjid Agung Bursa, Kanan Atas : Mihrab Masjid Agung Bursa, bergaya Seljuk. Kanan bawah : Sisi kiblat Masjid Agung Bursa. Kiri Bawah : Kubah transparan Masjid Agung Bursa.

Sebagaimana bangunan masjid tua yang pekat dengan sejarah, ada sebuah legenda yang tersebar sejak ber-abad lalu. Konon kata legenda yang berkembang disekitar Karagöz dan Hacivat, konon disebutkan bahwa seni pertunjukan bayangan boneka (seperti pertunjukan wayang kulit di Jawa) yang berkembang di kota Bursa para tokohnya itu diambil dari cerita para para pekerja bangunan Masjid Agung Bursa ini.

Diceritakan bahwa dua pekerja bernama Karagöz dan Hacivat mempunyai tabiat buruk suka mengganggu para pekerja lainnya dengan gurauan dan lelucon yang berakibat kepada terlambatnya pekerjaan mereka membangun masjid ini dan mengungang kemarahan dari Sultan dan berbuntut kepada pemberian hukuman kepada mereka.

Legenda lainnya terkait dengan pancuran tempat wudhu yang ada di dalam ruangan masjid. Konon disebutkan bahwa pada saat akan dibangun masjid ditempat tersebut sempat terhambat pada saat proses pembebasan lahan karena ada seorang wanita tua yang tidak mau melepaskan lahan dan rumahnya untuk dibebaskan sebagai lahan pembangunan masjid tersebut.

Namun pada ahirnya belau justru dengan sukarela melepaskan rumah dan lahannya untuk dibeli oleh Sultan bagi keperluan pembangunan masjid tersebut setelah terus terusan bermimpi hal yang sama, nah sebagai bentuk penghormatan kepada wanita tersebut, arsitek masjid ini dengan sengaja membangun sebuah pancuran tempat wudhu di dalam masjid ini di lokasi persis bekas rumah wanita tua tersebut.

Masjid Agung Bursa di malam hari, dengan kemilai cahaya lampu termasuk juga cahaya dari kendaran yang lalu lalang di ruas jalan Attaturk di sebelah selatan masjid ini.

Objek Wisata

Saat ini Masjid Agung Bursa (ulu cami) telah menjadi salah satu objek wisata yang menarik perahtian wisatawan dari mancanegara. Masjid terbuka setiap hari untuk kunjungan wiisatawan di luar waktu sholat, dan para pengunjung diharuskan untuk berpakaian sopan dan sederet aturan lainnya sebagaimana layaknya masuk ke dalam masjid.

Paralelisasi Sejarah Turki Vs Sejarah Indonesia

Pada saat Masjid Agung Bursa dibangun di Turki tahun 1396, di Nusantara sedang berkuasa Kerajaan Majapahit sedangkan di sisi barat pulau Jawa berada dibawah kendali Kerajaan Sunda. Masjid Agung Bursa ini dibangun 13 tahun setelah Deklarasi pendirian Kerajaan Gelgel di Bali (1383), Dalem Ktut Ngelesir didampingi oleh Patih Agung Arya Patandakan dan Kyai Klapodyana (Gusti Kubon Tubuh) menghadap Prabu Hayam Wuruk saat upacara Cradha dan rapat tahunan negeri-negeri vasal imperium Majapahit. 

Beliau (Raja Gelgel) kembali ke Bali dikawal oleh pasukan khusus majapahit yang semuanya beragama islam, menjadi awal masuk-nya Islam ke Pulau Bali. Masjid Agung Bursa di Turki Selesai dibangun tahun 1399, setahun setelah itu, Tahun 1400, di Nusantara, Raja Gelgel pertama, Dalem Ketut Ngulesir wafat.*** 

Referensi