Sunday, March 19, 2017

Masjid Al Alam Cilincing Jakarta Utara

TERTUA. Masjid Al-Alam Cilincing merupakan satu dari dua masjid tertua di Jakarta Bersama dengan Masjid Al-Alam di Marunda.

Masjid ini mungkin tidak setenar "kembaranya" Masjid Al Alam Marunda yang lebih dikenal dengan nama masjid si pitung, namun masjid yang juga didirikan oleh fatahillah saat akan merebut sunda kelapa dari Portugis ini sangat besar nilainya bagi sejarah jakarta dan indonesia. Kini masjid ini sehari hari dikelola oleh  “Yayasan Masjid Al-Alam Cilincing Jakarta Utara”.

Berdasarkan versi sejarah Dinas purbakala DKI Jakarta, masjid ini dibangun pada 22 Juni 1527, persis sama dengan HUT kota Jakarta.  Menjadikannya sebagai masjid tertua yang ada di jakarta bersama dengan masjid Al-Alam Marunda yang dibangun ditahun dan oleh orang yang sama. Letaknya berada di jalan rekreasi cilincing Jakarta utara, tepatnya di sebelah pasar ikan cilincing atau 18 Km dari pusat kota jakarta.

Masjid Al Alam Cilincing Jakarta
JL Cilincing, RT. 005/04, RT.3/RW.4, Cilincing
Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 17131
Indonesia


Untuk menyelamatkan tempat bersejarah ini, pada 1972 dilakukan pemugaran masjid oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, saat masih dipimpin Gubernur Ali Sadikin, dan bangunan ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Pada saat itu dilakukan penggantian dinding bata setinggi 1 meter, namun tetap mempertahankan keaslian bagian atasnya yang terbuat dari dinding bambu. Sedangkan di sisi Selatan dan Barat dibuat pelataran parkir. Pada 1989 dilakukan perluasan serambi Timur dan Utara, serta membuat tempat wudhu dan WC.

Masjid Al Alam Cilincing memiliki lima pintu masuk, masing masing dua pintu di utara dan selatan serta satu pintu di sisi timur. Serambi berada di sisi Selatan, Timur, dan Utara dengan lantai keramik berwarna merah hati. Pada serambi sisi timur terdapat kentongan kayu dan bedug yang ditopang empat kayu penyangga. Serambi terbuka di sisi Utara ditopang oleh 11 tiang.

Masjid Al-Alam Cilincing di malam hari

Ruang utama Masjid Al Alam Cilincing berukuran 10 x 10 m, dengan empat soko guru dari kayu jati, Dilengkapi dengan mihrab yang menjorok ke luar bangunan menyerupai sebuah relung dengan dinding dari keramik putih yang berhiaskan kaligrafi bertuliskan dua kalimat syahadat, Sebuah mimbar berada di relung yang lebih kecil yang juga terbuat dari keramik warna putih.

Atapnya yang berbentuk limas dan tidak memiliki langit-langit tetapi langsung ditutupi dengan papan berplitur coklat. Dindingnya juga setengah tembok dan setengah kayu. Bagian luarnya ditutup genteng berbentuk limas tumpang dua dengan puncak memolo berbentuk mahkota raja.

Dan di salah satu sisi masjid terletak sebuah kayu berukir yang bertuliskan “Wasiat Sunan Gunung Jati” . Di bawahnya tertulis dalam aksara hanacaraka dan Latin “Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin” dengan terjemahan dalam Bahasa Indonesia “Aku Tititpkan Masjid dan Fakir Miskin”.

Interior Masjid Al-Alam Cilincing

Arsitektur masjid merupakan gaya asli masjid masjid Nusantara. Tiang, soko guru, pintu, dan kayu-kayu induk kabarnya masih asli. Empat soko guru melambangkan iman, Islam, ilmu, amal. Sedangkan jendela yang berjumlah 8, melambangkan jumlah surga.

Di bagian luar di sisi timur laut terdapat sebuah ruangan yang dipergunakan untuk kantor Sekretariat Ikatan Remaja Masjid. Di samping ruangan ini terdapat tempat wudhu dan kamar kecil, berupa bangunan baru. Pada dinding bagian luarnya terdapat tujuh buah kran air.
Di bagian belakang masjid juga terlihat deretan kuburan yang sebagian konon sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun.

Sebuah bangunan pendopo ditambahkan di sisi timur bangunan asli. Lantai pendopo berlapiskan keramik warna coklat dengan  tiang tiang berukir dan dicat warna emas. Atapnya berbentuk limas bersusun dua dan kalau diperhatikan mirip dengan atap bangunan utama masjid.  Bangunan masjid yang asli agak sulit dilihat secarah utuh karena sudah ditutupi oleh pendopo tambahan ini yang lebih tinggi.

Interior Masjid Al-Alam Cilincing

Beda ketinggian permukaan  lantai antara pendopo dan bangunan utama ini menyebabkan Jemaah harus menuruni beberapa anak tangga menuju bangunan utama yang sekan-akan tenggelam karena lantainya lebih rendah sekitar satu meter. Karena masjid ini dibangun di kawasan rawa di dekat laut, maka air rob selalu membuat masjid ini rentan  banjir, itu sebabnya bangunan pendopo yang dibangun belakangan dibangun lebih tinggi.

Di Masjid Al-Alam Cilincing ini terdapat sebuah sumur tua yang terletak di samping masjid. Banyak orang menyakini air sumur tersebut memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. meski berukuran kecil, masjid ini juga selalu didatangi oleh banyak orang dari berbagai daerah untuk beribadah.

Pada saat shalat jumat karena terlalu banyaknya jumlah jamaah, beberapa jamaah bahkan ada yang melakukan ibadah shalat jumat hingga ke samping tempat wudhu dan toilet. Sedangkan pada jumat malam, banyak orang yang datang ke masjid ini untuk melakukan istiqosah bersama. Di bulan suci Romadhan Jemaah masjid ini akan lebih ramai lagi, pelaksanaan sholat Tarawih di masjid ini dilaksanakan 20 rekaat ditambah 3 witir 3 rekaat.

Interior area Pendopo di Masjid Al-Alam Cilincing, dibagian depan merupakan bangunan lama.

Sunda Kelapa, Fatahillah & Sunan Gunung Jati

Sama halnya dengan Masjid Al-Alam Marunda, pembangunan masjid ini dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah bagi anggota pasukan gabungan Kesultanan Demak & Kesultanan Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah selama penyerbuan ke Sunda Kelapa yang dikuasai Portugis.

Sebelum bertolak ke Sunda Kelapa, sesuai perintah Sultan Demak, Fatahillah singgah ke Cirebon untuk menggabungkan pasukannya dengan Pasukan Kesultanan Cirebon, baru kemudian bertolak ke Sunda Kelapa setelah mendapat arahan dari Sunan Gunung Jati. Gabungan pasukan dua kesultanan ini kemudian juga mendapatkan dukungan dari Banten.

Meski demikian, cerita turun temurun mengaitkan sejarah Masjid ini dengan para Wali Songo terutama Sunan Gunung Jati alias Syarif Hidayatullah yang kala itu memang sedang memegang kekuasaan sebagai Sultan di Kesultanan Cirebon. Terlebih lagi sebagian dari masyarakat kita terlanjur mengidentikkan Sunan Gunung Jati dan Fatahillah sebagai sosok atau orang yang sama. Meskipun faktanya beliau berdua adalah dua sosok yang berbeda.

Atap limas penutup ruang sholat utama.

Itu sebabnya kemudian terdapat tulisan wasiat Sunan Gunung Jati di Masjid ini. Wasiat yang sama juga akan anda temukan pada saat berkunjung ke Makam Syech Quro di Pulo Bata di Kabupaten Karawang, meskipun tidak ada keterkaitan antara Syech Quro dengan Sunan Gunung Jati karena diantara dua tokoh ini hidup di masa yang berbeda.

Namun demikian, wasiat tersebut merupakan wasiat yang baik dari sorang Wali dan tentu saja sangat pantas ditempatkan di tempat yang ramai dikunjungi masyarakat luas sebagai pengingat dan nasihat. Sunan Gunung Jati dan Fatahillah sama sama wafat dan dimakamkan di Cirebon.

Makam mereka berdua berada di titik tertinggi Astana Gunung Jati di Gunung Sembung kota Cirebon. Namun dengan berbagai pertimbangan, hanya anggota keluarga keraton saja yang diperkenankan masuk ke komplek makam tersebut, sedangkan masyarakat umum disediakan tempat di luar tembok pemakaman.***

Referensi

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1999). Masjid Kuno Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Pusat.


Saturday, March 18, 2017

Masjid Hisardžik Dengan Mushaf Al-Qur’an Tertua di Balkan

Berdiri di tempat yang tak biasa, Masjid desa Hizardik ini menarik wisatawan mancanegara sejak ditemukannya Mushaf Al-Qur'an tertua di semenanjung Bankan yang tersimpan di masjid ini. 

Masjid di lokasi tak biasa satu ini hanyalah sebuah masjid di sebuah kampung bernama Hisardžik di dekat kota Prijepolje di wilayah selatan wilayah Sandžak, Republik Serbia. masjid ini pertama kali muncul dalam catatan seorang penjelajah bernama Evlija Celebija, yang merupakan seorang penulis terkemuka di masa ke-emasan dinasti Usmaniyah.

Kini masjid tua ini hadir sebagai sebuah tempat sakral dari masa lalu bagi muslim setempat. Lokasinya berdiri memang tak biasa, sama seperti Kampung tempatnya berdiri, berada di ketinggian sebuah bukit dibawah Benteng kuno Mileševac. Benteng dan kawasan sekitarnya termasuk masjid ini telah menjadi cagar Budaya Nasional Serbia.

Hisardžik mosque
Hisardžik, Serbia


Sejak berdiri hingga kini masjid ini masih berfungsi sebagaimana mestinya, meskipun tidak memiliki sesuatu yang monumental dan bentuknyapun terbilang masjid sederhana untuk ukuran masjid masjid megah di masa kejayaan Emperium Usmaniyah, namun masjid ini menjadi begitu terkenal karena Mushaf Al-Qur’an kuno yang dimilikinya.

Masjid Hisardžik menyimpan artefak sejarah yang sangat berharga, yakni sebuah mushaf Al-Qur’an tulisan tangan yang diperkirakan telah berumur 400 tahun. Sebuah mushaf Al-Qur’an dengan gaya yang tak ada duanya dan sangat langka dandan tak ternilai, baik bagi muslim setempat maupun bagi Sejarah Serbia dan Semenanjung Balkan.

Nama Hizardzik bagi kampung tempat masjid ini berdiri berasal dari bahasa Turki yang berarti Bendteng Kecil, merujuk kepada benteng yang berdiri atas bukit di atas wilayah desa tersebut.

Pada mulanya, Mushaf Al-Qur’an ini diketahui berumur 300 tahun dari inskripsi yang tertulis disana bertuliskan tahun 1116 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1706 Miladiyah. Namun kemudian hasil penelitian dari Perpustakaan Nasional Beograd justru menunjukkan bahwa Mushaf tersebut setidaknya sudah berumur 400 tahun dan kemungkinan merupakan mushaf tertua di kawasan Semenanjung Balkan.

Mushaf Al-Qur’an kuno ini ukurannya cukup besar, dengan berat mencapai 4,9 kg. pada saat ditemukan kondisinya cukup memprihatinkan, beberapa bagian mengalami kerusakan dan halaman terahirnya telah hilang. Dengan bantuan para professional naskah kuno dari Beograd, mushaf tersebut telah dipulihkan kondisinya dari kerusakan, setelah itu selama 10 hari dipamerkan di Musium kota Prijepolje lalu kemudan dikembalikan ke tempat asalnya di Masjid Kampung Hisardžik.

Desa Hizardzik dari atas benteng

Belum diketahui dengan pasti, kapan persisnya masjid di desa Hizardik ini dibangun. Sejauh ini hanya diketahui bahwa masjid ini dibangun pada masa kekuasaan Emperium Usmaniyah. Seluruh wilayah Serbia pernah menjadi bagian dari Emperium Islam Usmaniyah yang berpusat di Istanbul (Turki) dari abad ke 16 hingga kea bad 19.

Khusus di wilayah Prijepolje sendiri, tak banyak bangunan peninggalan masa Dinasti Usmaniyah yang masih dapat ditemukan, bebeapa diantaranya adalah bangunan Sahat-Kula, dan beberapa bangunan masjid, termasuk masjid tua di desa Hizardik ini, kemudian Masjid Ibrahim Pasha di Šarampov dibangun pada abad ke 16, bangunannya unik beratapkan "cheramida" bahan atap yang populer pada masa itu dan dilengkapi dengan sebuah menara.

Tentang Hisardžik

Hisardžik adalah sebuah desa di dekat kota Prijepolje, District Zlatibor, Republik Serbia. Menurut sensus 2011, ada 220 penduduk di desa ini. Desa Hisardžik berada di bekas pinggiran benteng Mileševac atau Hisardžik yang berada di atas bukit. Nama Hisardžik sendiri berasal dari Bahasa Turki; “Hisar”, yang berarti “Benteng”, dan “Dzik” berarti “Kecil”. Benteng ini mulai digunakan di-abad XVII. Disebutkan bahwa Sultan Mehmed II dari Dinasti Usmaniyah (Turki) pernah berkunjung ke Benteng ini pada 6 Mei 1468 dari sana beliau mengirimkan surat kepada walikota Dubrovnik untuk takluk di bawah kekuasaan-nya.

Mushaf Al-Qur'an tertua di Semenanjung Bankan.

Hisardžik dikenal luas dengan kekayaan alamnya, budaya dan peninggalan sejarahnya. karena subunya ladang pertanian buah, desa ini dikenal sebagai desa penghasil buah. Di desa Hisardžik hidup 223 penduduk dewasa, dan usia rata-rata adalah 39,0 tahun (39,0 untuk pria dan 39,1 untuk wanita). Desa ini memiliki 81 rumah tangga, dan rata-rata jumlah anggota per rumah tangga 3 sampai empat warga. Desa ini terutama dihuni oleh orang orang Bosnia (menurut sensus tahun 2002), dan dalam tiga sensus terakhir, terlihat penurunan populasi.

Kota Prijepolje disebutkan mulai dibangun tahun 1234, bersamaan dengan berdirinya benteng Mileševa. Di Benteng ini pada tanggal 26 October 1377, Tvrtko I dinobatkan sebagai raja pertama bagi kerajaan Serbia. Kemudian seluruh wilayah ini jatuh ketangan kekuasan Islam hingga abad ke 19.***

Referensi


Sunday, March 12, 2017

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim, Gibraltar

Megah sendirian di ujung semenanjung Iberia, Masjid Ibrahim Al-Ibrahim berdiri megah di Europa Point Gibraltar, menandai titik pendaratan Panglima Islam Tariq Bin Ziyad dalam penaklukkannya atas Eropa di tahun 711.

Dimanakah Gibraltar

Gibraltar (dibaca Jibraltar), tak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya Islam ke Eropa, sejarah Negara Negara di Semenanjung Iberia yang pernah menjadi wilayah kekhalifahan Islam di Andalusia (meliputi Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) serta sejarah Kerajaan Maroko.  Gibraltar, kini menjadi Wilayah Seberang Lautan Inggris Raya di ujung Semenanjung Iberia menjorok ke laut Mediterania, berbatasan langsung dengan daratan Spanyol dan berseberangan dengan Kerajaan Maroko di benua Afrika.

Keseluruhan wilayah gunung batu Gibraltar luasnya tak lebih dari 6,5 km persegi. Nama Gibraltar berasal dari kata Jabal Tarik yang di ambil dari nama Tariq Bin Ziyad, panglima Pasukan Islam dari Maroko penakluk Eropa di tahun 711 Miladiyah dan diangkat menjadi Gubernur pertama Andalusia dibawah kekuasaan Khalifah Walid I dari dinasti Umayyah di Damaskus. Lidah orang Eropa yang tak fasih menyebut nama “Jabal Tarik” mengubah nama wilayah gunung batu itu menjadi Gibraltar.

Sekilas Sejarah Gibraltar

Sejak tahun 597 Miladiyah, Spanyol dikuasai bangsa Gotic (Jerman) dibawah kekuasaan Raja Roderick. Ia membagi masyarakat Spanyol ke dalam lima kasta sosial. Kelas pertama adalah keluarga raja, bangsawan, orang-orang kaya, tuan tanah, dan para penguasa wilayah. Kelas kedua diduduki para pendeta. Kelas ketiga diisi para pegawai negara seperti pengawal, penjaga istana, dan pegawai kantor pemerintahan. Mereka hidup pas-pasan dan diperalat penguasa sebagai alat memeras rakyat.



Kelas keempat adalah para petani, pedagang, dan kelompok masyarakat yang hidup cukup lainnya. Mereka dibebani pajak dan pungutan yang tinggi. Dan kelas kelima adalah para buruh tani, serdadu rendahan, pelayan, dan budak. Kelompok terahir ini yang hidupnya paling menderita.

Akibat klasifikasi sosial itu, rakyat Spanyol tidak kerasan. Sebagian besar mereka hijrah ke Afrika Utara yang berada di bawah Pemerintahan Islam dipimpin oleh Gubernur Musa bin Nusair, mereka merasakan keadilan, kesamaan hak, keamanan, dan menikmati kemakmuran. Para imigran Spanyol itu kebanyakan beragama Yahudi dan Kristen. Bahkan, Gubernur Ceuta, bernama Julian, dan putrinya Florinda ikut mengungsi ke wilayah Islam Afrika Utara, setelah putri Florinda dinodai oleh Roderick. Ceuta adalah satu wilayah kecil di pantai utara Afrika yang merupakan bagian dari wilayah Spanyol.

Penaklukkan Eropa Pertama

Melihat kezaliman itu, Gubernur Musa bin Nusair berencana ingin membebaskan rakyat Spanyol sekaligus menyampaikan Islam ke negeri itu. Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memberi izin. Musa segera mengirim Abu Zar’ah dengan 400 pasukan pejalan kaki dan 100 orang pasukan berkuda menyeberangi selat antara Afrika Utara dan daratan Eropa.

Kokoh berdampingan dengan gunung batu Jabal Tarik.

Kamis, 4 Ramadhan 91 Hijriah atau 2 April 710 Masehi, Abu Zar’ah meninggalkan Afrika Utara menggunakan 8 kapal dimana 4 buah adalah pemberian Gubernur Julian. Tanggal 25 Ramadhan 91 H atau 23 April 710 H, di malam hari pasukan ini mendarat di sebuah pulau kecil dekat Kota Tarife yang menjadi sasaran serangan pertama.

Di petang harinya, pasukan ini berhasil menaklukan beberapa kota di sepanjang pantai tanpa perlawanan yang berarti. Padahal jumlah pasukan Abu Zar’ah kalah banyak. Setelah penaklukan ini, Abu Zar’ah pulang. Keberhasilan ekspedisi Abu Zar’ah ini membangkitkan semangat Gubernur Musa bin Nusair untuk menaklukan seluruh Spanyol. Maka, ia memerintahkan Thariq bin Ziyad membawa pasukan untuk penaklukan yang kedua.

Penaklukkan Eropa Kedua

Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau adalah putra suku Ash-Shadaf, suku Birbir, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu bela diri.

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim dan mercusuar tua dikejauhan.....

Senin, 3 Mei 711 M, Thariq membawa 70.000 pasukan menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang menjorok ke laut Mediterania. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki.

Anggota pasukannya kaget dengan perintah aneh tersebut. Mereka bertanya, “Apa maksud Anda?” “Kalau kapal-kapal itu dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?” tanya yang lain. Dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq berkata;

“Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!” “Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan

Taktik dan pidato luar biasa itu berhasil mengobarkan semangat jihad anggota pasukannya. Mendengar pasukan Thariq telah mendarat, Raja Roderick mempersiapkan 100.000 tentara dengan persenjataan lengkap. Ia memimpin langsung pasukannya itu. Gubernur Musa Bin Nusair mengirim bantuan kepada Thariq dengan 5.000 orang. Sehingga total pasukan Thariq hanya 12.000 orang.

Jauh di sudut kiri foto adalah mercusuar tua di Europa Point Gibraltar.

Tak ada pilihan bagi seluruh anggota pasukan, tak ada celah untuk melarikan diri kecuali menang perang. Perang tak seimbang itu terukir indah dalam sejarah dengan kemenangan gemilang pasukan Panglima Tariq bin Ziyad sekaligus menjadi permulaan takluknya Eropa ke dalam kekuasaan pemerintahan Islam selama setidaknya lebih dari 7 Abad.

Bukit batu yang menjorok ke laut Mediterania tempat Tariq bin Ziyad dan pasukannya mendarat itu dikemudian hari disebut dengan nama Jabal Tariq (Bukit Tariq) sebagai penghormatan kepada Panglima Tariq bin Ziyad, namun dilidah orang Eropa nama bukit itu menjadi Gibraltar.

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim - Gibraltar

Titik pendaratan pasukan Tariq bin Ziyad di Gibraltar dikenal dengan nama Europa Point, dan di titik itu kini berdiri masjid megah bernama Masjid Ibrahim Al-Ibrahim, atau biasa juga disebut dengan nama masjid King Fahd bin Abdulaziz al-Saud dan juga disebut Masjid Penjaga Dua Masjid Suci yang merupakan gelar resmi bagi Raja Saudi Arabia. menjadi salah satu masjid di lokasi yang tak biasa di muka bumi. Bukit Batu Gibraltar ini terlihat begitu kekar dari arah laut Mediterania dan selama berabad abad menjadi salah satu mercuar alami bagi para pelaut yang berlayar di laut Mediterania.

Berlatar gunung batu

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim dibangun oleh pemerintah kerajaan Saudi Arabia untuk mengenang sejarah penaklukan Eropa oleh Thariq Bin Ziyad. Lokasi masjid ini berdiri merupakan bagian berpermukaan rata di Europa Point dan ditempat ini juga terdapat Telaga Nun yang  merupakan salah satu sisa warisan kekuasaan Islam di Gibraltar. Telaga Nun adalah bagian dari jaringan penampungan air hujan dibawah tanah yang dibangun oleh dinasti Abas selama berkuasa di Eropa, Instalasi air tersebut merupakan solusi untuk memenuhi kebutuhan air warga disana karena kondisi wilayahnya yang merupakan bukit batu tanpa sumber air tanah, dan masih berfungsi dengan baik hingga kini.

Sejarah Pembangunan Masjid Ibrahim Al-Ibrahim

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim merupakan hadiah dari Raja Fahd Bin Abdul Aziz Al-Saud Raja Saudi Arabia, dibangun selama dua tahun dan menghabiskan dana sekitar £5 (lima) juta Pondsterling. Pembangunan Masjid Ibrahim Al-Ibrahim dimulai tahun 1995, diresmikan pada tanggal 8 Agustus 1997. Media media Eropa menyebutkan bahwa pada saat peresmian masjid ini dilaksanakan, pengamanan ketat luar biasa diberlakukan disekitar lokasi dan ada lebih dari enampuluh kendaraan mewah berjenis sedan Limosin berjejer disana.

Sebuah prosedur standar, karena upacara peresmian tersebut dihadiri oleh saudara dari mendiang Raja Fahd yang juga merupakan sponsor pembangunan masjid ini, Pangeran Salman Bin Abdul Aziz Al Saud (kini menjadi Raja Saudi Arabia) dan putra bungsu Raja Saudi Arabia (saat itu), Pangeran Abdul Aziz Bin Fahd Bin Abdul Aziz, bersama sama dengan begitu banyak anggota keluarga Kerajaan Saudi Arabia dan para tamu undangan.

Bunga bersemi di Gibraltar

Masjid Ibrahim al-Ibrahim ini merupakan satu satunya bangunan masjid bagi sekitar 2000 muslim Gibraltar. Muslim di Gibraltar kini memang menjadi umat minoritas atau sekitar 7% dari total populasi Gibraltar. Sebelum masjid ini berdiri muslim Gibraltar sebenaranya sudah memiliki sebuah bangunan kecil yang difungsikan sebagai masjid dengan nama Masjid Tariq Bin Ziyad yang berada di areal pelabuhan laut Gibraltar, namun bangunannya hanya berupa sebuah bangunan sederhana yang sama sekali tidak mirip dengan sebuah bangunan masjid, sampai kini masjid tersebut masih berfungsi.

Masjid Pemegang Tiga Rekor

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim ini memegang tiga rekor sekaligus; yakni dari biaya pembangunan-nya,  lokasi dan keberadaannya yang istimewa. Pembangunan masjid Ibrahim Al-Ibrahim ini menghabiskan dana sekitar £5 (lima) juta Pundsterling, dan disebut sebut sebagai bangunan masjid dengan biaya termahal per-meter perseginya yang pernah di bangun di daratan Eropa.

Ditinjau dari lokasinya berdiri, Masjid Ibrahim Al-Ibrahim ini juga merupakan Masjid yang berada di lokasi paling selatan di daratan Eropa karena Gibraltar memang merupakan sebuah tanjung kecil ujung dari Semananjung Iberia yang menjorok ke Laut Mediterania.

Interior Masjid Ibrahim Al-Ibrahim

Masjid ini juga merupakan masjid terbesar yang pernah dibangun di negara non muslim dengan penduduk muslimnya minoritas. Selain daripada itu, Masjid ini juga menjadi salah satu dari 1500 lebih masjid berukuran besar yang telah dibangun oleh pemerintah kerajaan Saudi Arabia.

Arsitektur Masjid Ibrahim Al-Ibrahim Gibraltar

Masjid Ibrahim-al-Ibrahim dirancang dengan menggabungkan berbagai seni bina bangunan masjid yang tampak pada kaligrafi dan rancangannya yang cukup rumit, beragam gaya rancangan termasuk gaya Usmani (Turki) dan arsitektur moderen di aplikasikan di masjid ini. Masjid Ibrahim Al-Ibrahim menjadi simbol keanekaragaman sejarah dan masyarakat Gibtaltar.

Konsep rancangan masjid ini dibuat oleh Zakarias Alhkury. Pembangunannya dilaksanakan diatas lahan seluas 985 meter2 yang terdiri dari bangunan utama masjid, rumah kediaman imam masjid, perumahan bagi para pengurus masjid, enam ruang kelas, ruang pertemuan, bangunan untuk pengurusan jenazah, perpustakaan umum, kantor pengurus masjid, dapur dan fasilitas tempat wudhu dan toilet yang terpisah untuk jemaah laki laki dan jemaah wanita.

Gibraltar kini menjadi Wilayah seberang lautan Inggris Raya. 

Lantai dasar merupakan ruang sholat utama di masjid ini dihias dengan dekorasi yang sangat indah dan halus. Luas area sholat utama ini sekitar 480m2 dan mampu menampung hingga 400 jemaah sekaligus. Sembilan lampu gantung ditempatkan diatas area ini berbahan kuningan dan dipesan langsung langsung dari pengrajin profesional di Mesir. Delapan lampu gantung tersebut dipasang mengelilingi satu lampu gantung utama seberat sekitar 2 (dua) ton menggantung dibawah kubah utama masjid.

Keramik dari marmer di masjid ini didatangkan langsung dari Carrara di Italia, digunakan untuk menutup tembok luar bangunan termasuk tiang tiang kekar yang menopang struktur atap di dalam ruang utama masjid dan dan sisi mihrab. Ruang mihrab di masjid ini juga di hias dengan hiasan dari plester semen.

Keseluruhan lantai area sholat ditutup dengan karpet yang merupakan satu lembar karpet utuh tanpa sambungan yang dipesan khusus, begitu juga dengan lantai di area sholat jemaah wanita juga ditutup dengan karpet jenis yang sama yang ditempah khusus dari pengrajin karpet di Saudi Arabia. Motif hiasan pada karpet di dua area sholat ini senada dengan motif hias pada lampu gantungnya.

Sama dengan ruang sholat utama, ruang sholat khusus jemaah wanitanya juga dihias dengan lampu gantung yang serupa dan sama sama dipesan dari Mesir. Sebuah lift disediakan untuk menghubungkan area berwudhu menuju ke ruang khusus jemaah wanita di area mezanin yang juga dilengkapi dengan ruang khusus untuk ibu ibu menyusui. Jemaah wanita dari area mezanin dapat melihat langsung ke ruang sholat utama meski di tutup dengan pembatas kayu yang disebut dengan Masharabia screen.

Interior Masjid Ibrahim Al-Ibrahim

Seluruh daun pintu di masjid ini berbahan kayu sejenis kayu jati. Dihias dengan berbagai ornamen indah dari kuningan dan dibuat di Mesir. Panel pintu di lantai dasar dibuat dari kayu solid setebal 5 sentimerter. Sementara kaca kaca jendelanya dilengkapi dengan kaca hias yang dipesan khusus dari Madrid (Spanyol).

Bagian lain dari masjid ini yang dibuat di Mesir adalah ornamen bulan sabit di puncak kubah bangunan masjid dan di puncak menaranya. Ornamen bulan sabit ini terbuat dari kerangka baja dan kemudian di lapis dengan kuningan. Sebuah menara yang dibangun terpisah dari bangunan utama di masjid ini dibangun setinggi 71 meter menjulang tinggi melampaui tinggi mercusuar tua yang berdiri tak jauh dari masjid ini.

Ornamen Bulan sabit di puncak menara ini begitu besar dengan ukuran tingginya mencapai enam meter. Keseluruhan ruang dalam masjid ini dilengkapi dengan sistem tata udara moderen yang memungkinkannya terasa sejuk di musim panas dan terasa hangat di musim dingin yang membeku.***

Referensi


Saturday, March 11, 2017

Masjid Bajrakli Beograd, Serbia

Masjid Bajrakli Beograd, Serbia

Masjid Bajrakli merupakan satu satunya masjid yang tersisa, masih berdiri dan masih berfungsi di kota Beograd. Pertama kali dibangun pada tahun 1575 dimasa Emperium Usmaniyah berkuasa di wilayah Serbia. Masjid ini sempat di ubah menjadi gereja Katholik pada masa kekuasaan singkat kekaisaran Austria di Serbia diantara tahun 1717-1739. Namun kemudian dikembalikan fungsinya sebagai masjid pada tahun 1741 seiring dengan kembalinya kekuasaan Emperium Usamniyah di wilayah itu.

Bertahan melewati masa berat di perang dunia kedua, masa kekuasaan Uni Soviet, era Yugoslavia, hingga ke masa Serbia saat ini paska runtuhnya Negara Yugoslavia yang bekas wilayahnya kini masing masing berdiri sendiri sebagai Negara merdeka, Terdiri dari Republik Serbia, Slovenia, Croasia, Bosnia & Herzegovina, Macedonia, Montenegro dan Kosovo.

Bajrakli mosque, Belgrade
Gospodar Jevremova 11, Beograd 105402, Serbia
Telepon: +381 11 2622428, 3031-284
Tel/faks: +381 11 3031-285
Web site: www.izs.org.yu
e-mail: jus@beotel.yu
Mufti of the Islamic Community, tel. 2622-337, 3283-195
Council of the Islamic Community, tel. 2622-337, 2622-428



Kota Beograd yang kini menjadi ibukota Negara Serbia pernah menjadi bagian dari wilayah Emperium Usmaniyah (Turki) pada paruh pertama abad ke 16 hingga paruh kedua abad ke-19. Salama masa itu kota Beograd menjadi pusat kebudayaan utama bersama dengan beberapa kota lainnya di kawasan semenanjung Balkan, seperti Sarajevo dan Skoplje di Bosnia, dengan sekitar 160 masjid dari 273 masjid diseluruh Serbia, 7 pemandian umum khas Turki dan sekitar 7000 gedung kamar mandi dan 21 caravan-saray.

Namun dari sekian banyak bangunan tersebut telah mengalami kerusakan ataupun pengrusakan sejak masa kekuasaan Kekaisaran Austria hingga ke masa pemerintahan Serbia. Dari sekian banyak masjid yang ada di kota Beograd hanya tersisa Masjid Bajrakli sebagai satu satu nya masjid di kota Beograd hingga hari ini yang masih berdiri di kawasan tertua di kota Beograd.

Masjid Bajrakli berdiri kokoh di tepian ruas jalan Gospodar Jevremova yang lenggang namun kaya dengan sejarah masa lalu di kota Beograd di sekitar sudut jalan Kralja Petra Street, berdekatan dengan bekas Sinagog Yahudi yang kini sudah beralih fungsi menjadi Galeri dan sebuah Gereja Ortodok, di wilayah yang bernama Dorcol.

Bendera di menara Masjid Bajrakli

Nama Dorcol bagi kawasan ini berasal dari Bahasa Turki yang berarti “Empat jalan”. Pada masanya kawasan ini merupakan salah satu harmoni kehidupan di pusat kota Beograd, ditempat ini menjadi rumah bagi tiga pemeluk agama berbeda. Namun keharmonisan tersebut ternoda oleh sebuah kerusuhan massa pada tahun 2004 pada saat masjid tersebut dibakar oleh sekelompok masa akibat sentiment anti Kosovo yang dianggap melakukan tindakan disintegrasi.

Dari nama dan gaya arsitektunya, kawasan Darcol di kota Beograd ini mencerminkan sejarah masayarakat sekaligus kota Beograd. Khusus tentang kawasan Dorcol ini, seorang penulis dan pelukis ternama setempat pernah menulis “Bila saya hanya diberi waktu satu jam untuk menunjukkan seperti apa Serbia kepada pelancong yang datang, maka saya akan membawanya ke Kralja Petra street. Laksana sebuah pelangi, ruas jalan ini menghubungkan dua peradaban, dua budaya dan dua sungai sekaligus yakni Sungai Sava dan Sungai Danube”.

Satu Masjid Tiga Nama

Pada awal di bangun tahun 1575 masjid ini bernama Masjid Čohadži mengambil nama dari pendirinya yang bernama Hadzi Alija. Beliau adalah seorang muslim pedagang kain (tekstil). Pada masa itu pedagang kain dipanggil Coha, sehingga beliau lebih dikenal dengan nama panggilan CoHadzi dan nama itu pula yang kemudian dilekatkan kepada masjid ini.

Bendera yang serupa di dalam masjid Bajrakli

Serbia sempat jatuh ke tangan kekaisaran Austria tahun 1717 hingga tahun 1739 dan masjid ini sempat di ubah menjadi Gereja Katholik. Namun kemudian dikembalikan fungsinya sebagai masjid pada tahun 1741 seiring dengan kembalinya kekuasaan Emperium Usamniyah di wilayah itu

Masjid Bajrakli kemudian di diperbaiki dan dikembalikan ke bentuk dan fungsinya semula sebagai masjid oleh Hussein-bey, yang merupakan chehaya (wakil) dari komandan pasukan Usmaniyah Turki, Ali-pasha. Dan oleh Karena itu pula masjid ini sempat juga disebut sebagai Masjid Hussein-Bey atau Masjid Hussein-chehaya.

Pada ahir abad ke 18 Masjid ini menjadi masjid utama di Beograd dan masjid masjid lainnya akan mengikuti aba aba dari masjid ini untuk mengumandangkan azan. Aba aba yang digunakan adalah dengan mengibarkan Bendera bulan sabit bewarna hijau di atas menara masjid, setelah melihat bendera tersebut baru masjid lainnya mengikuti menyuarakan azan.

Bangunan asli Masjid Bajrakli, terlihat sedikit di sisi kanan foto bangunan tambahan di belakang bangunan asli.

Bendera dalam Bahasa Turki disebut Bajrak, dan sejak saat ini masjid ini lebih dikenal dengan Nama Bajrakli atau secara harfiah bermakna sebagai masjid berbendera. Hingga kini bendera bulan sabit hijau senantiasa dipasang di menara masjid ini. Namun demikian tak ada lagi suara azan bersahutan dan berkelanjutan dari masjid masjid lain-nya karena memang Masjid Bajrakli merupakan satu satunya masjid yang masih berdiri di kota Beograd.

Masjid ini pernah di restorasi pada abad ke 19 oleh seorang bangsawan Serbia. Di tahun 2004, masjid ini sempat mengalami kerusakan parah akibat kebakaran dalam rusuh masa, namun kemudian kembali diperbaiki dan dikembalikan ke bentuknya semula. Peristiwa berawal dari pemisahan diri Kosovo sebagai Negara merdeka dari Federasi Yugoslavia yang ditentang oleh pemerintah pusat di Beograd.

Pertentangan tersebut berujung kepada ikut campurnya dunia internasional. Di tahun 1999 kota Beograd digempur oleh pasukan NATO dalam upaya menekan Yugoslavia (Negara kesatuan sebelum terpecah belah) yang melakukan intimidasi kejahatan kepada rakyat Kosovo. Berbagai gedung strategis militer dan pemerintahan di bombardir oleh tentara NATO. Sebagai salahsatu bentuk perlawanan, Masjid ini kemudian dibakar oleh masyarakat Serbia sebagai bentuk protes dan kekesalan warga terhadap sikap disintegrasi Kosovo yang notabene berhaluan Islam.

Interior Masjid Bajrakli ke arah pintu masuk dan mezanin

Arsitektur Masjid Bajrakli

Bangunan masjid ini menjadi tumpuan satu satunya bagi muslim kota Beograd yang merupakan bagian dari muslim Serbia yang kini hanya tersisa sekitar 3% dari total penduduk Negara tersebut. Bangunan yang dilengkapi dengan satu kubah utama dan satu menara terpisah dari bangunan utama.

Masjid Bajrakli kini sudah dilengkapi dengan bangunan masjid tambahan yang berada di belakang bangunan asli tanpa mengubah bentuk bangunan asalnya. Bangunan tambah ini selain berfungsi sebagai area sholat, juga merupakan bagian dari pusat aktivitas ke-Islaman muslim Beograd, termasuk tempat bekantornya Mufti dari Komunitas Muslim Serbia serta Konsul Komunitas Muslim Serbia.

Bangunan asli masih dengan bentuk dan fitur aslinya, Bangunan utamanya terdiri dari dua lantai, lantai dua-nya berupa lantai mezanin dari kayu yang dikhususkan untuk jemaah wanita. Lantai dasar atau area sholat utamanya khusus untuk jamaah laki laki. Ruangan dalam-nya tidak dilengkapi dengan peralatan pengatur suhu ruangan sehingga pada musim dingin suhu dalam ruangan masjid ini akan terasa alami dinginnya, berbeda dengan bangunan tambahannya yang merupakan bangunan baru dan sudah dilengkapi dengan perangkat penghangat ruangan.

Masjid Bajrakli saat dibakar tahun 2004
Ditahun 2014, Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Indonesia di Beograd turut andil memantu muslim Serbia membangun kembali masjid ini dan turut menyampaikan harapan dari umat Islam Serbia, kepada Presiden Serbia, Nikolic, kiranya berkenan melimpahkan tanah dan bangunan di komplek Masjid "Bajrakli" di Beograd, menjadi milik umat Islam Serbia dan membantu rencana pendirian Islamic Center di kota Beograd. Atas dukungan dan upaya upaya tersebut, Dubes Indonesia mendapatkan penghargaan tertinggi dari Komunitas Muslim Serbia.

Masjid ini mengamalkan Islam Sunni, dan banyak dipengaruhi oleh pengaruh kultur Turki dan Bosnia. Khutbah jumat dilakukan dalam 3 bahasa, yakni Inggris, Serbia dan Arab. Jamaah masjid ini umumnya adalah warga keturunan dan para ekspatriat asing yang ada di Beograd. Warga muslim Serbia sendiri sudah banyak yang memilih mengungsi dan menetap di Albania, Bosnia, atau Kosovo.***

Referensi