Sunday, August 13, 2017

Masjid “Taj Mahal” di Kota Kuwait

Seperti Taj Mahal, tapi ini bukan Taj Mahal, melainkan sebuah masjid yang memang sengaja dibangun mirip seperti Taj Mahal, lokasinya berada di Kuwait City, Ibukota Negara Kuwait.

Warga Kuwait yang ingin menyaksikan keindahan bangunan Taj Mahal, kini tidak perlu jauh jauh ke India. Pemerintah Kuwait telah membangun sebuah masjid dengan meniru bentuk bangunan Taj Mahal di India. Taj Mahal – nya Kuwait itu diberi nama Masjid As-Sadiqa Fatimatul Zahra di kota Kuwait.

Masjid bergaya Taj Mahal ini merupakan salah satu tujuan wisata religi paling populer di Kuwait selain Masjid Agung Kuwait yang merupakan Masjid Nasional. Lokasi nya berdiri tak jauh dari Bandara Internasional Kuwait, menjadikannya sebagai salah satu pemandangan indah bagi para penumpang pesawat yang melintas.

Fatima Zahra mosque
Abdullah Al-Mubarak Block 6 Street 10
Abdullah Al-Mubarak, Kuwait



Tampilan luar masjid ini memang dibangun meniru Taj Mahal namun bagian dalamnya sama sekali berbeda. Taj Mahal dibangun sebagai Maosoleum (makam) bagi Mumtaz Mahal, Istri dari Shah Jehan (Raja dari Kerajaan Islam Mughal) tahun 1632 sebagai bentuk cintanya yang mendalam, namun Taj Mahal di Kuwait ini adalah sebuah Masjid, di dalamnya tentu saja berupa ruang sholat lengkap dengan mihrab dan mimbar.

Taj Mahal di India memang dilengkapi dengan bangunan masjid di sebelah barat-nya sebagai fasilitas penunjang dari Maosoleum tersebut. Masjid Taj Mahal di komplek Taj Mahal – India, dibangun kembar dengan bangunan istana peristirahatan kerajaan yang berada di sisi timur komplek Taj Mahal

Pembangunan Masjid ini memang menjiplak bentuk Taj Mahal di India dan atas se-izin pemerintah India melalui Kedutaan nya di Kuwait.

Sisi dalam Masjid Taj Mahal di Kuwait ini dilengkapi dengan ukiran kaligrafi Al-Qur’an. Bangunan masjid nya sendiri berdiri di atas lahan seluar 3.316 meter persegi, dibangun atas ide dari anggota Majelis Al-Umma (parlemen) Kuwait, Hassan Johar. Menggunakan berbagai material bangunan yang di-datangkan dari Mesir dan Iran. Hasan Johar merupakan salah satu tokoh parlemen dari kelompok Islam Syiah Kuwait.

Masjid Seperti Taj Mahal di Kuwait ini bukanlah satu satunya bangunan yang menjiplak Taj Mahal India, sejumlah gedung di Las Vegas (Amerika Serikat), Dubai (Uni Emirat Arab) dan Shenzen (China) juga meniru bangunan Taj Mahal.  Sementara di Bangladesh seorang milioner setempat juga tengah membangun bangunan yang mirip dengan Taj Mahal di kota Dhaka, Ibukota Negara tersebut. Pembangunan Masjid seperti Taj Mahal di Kuwait ini dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan dari Kedutaan Besar India di Kuwait. (source)

Baca Juga :


Saturday, August 12, 2017

Masjid “Taman Surga” Hamidiye Kırşehir


Interior Masjid Hamidiye di  Kota Kirsehir, Turki

Masjid di Turki yang satu ini saat ini sedang menjadi perbincangan di media sosial karena keunikan rancangan interiornya yang tak biasa dan bisa jadi dikemudian hari akan menjadi trend baru interior masjid masjid di dunia ataupun di Indonesia.

Interior masjid ini sengaja dirancang mirip dengan sebuah taman, di alam terbuka dengan pepohonan yang tinggi dan hamparan rumput yang menghijau serta tak lupa pemandangan langit yang membiru dengan awan putihnya yang berarak.

Hamidiye Cami
Yenice Mahallesi, Atatürk Cd. No:107
40200 Kırşehir Merkez/Kırşehir, Turkey



Dalam Bahasa Turki Masjid ini bernama Hamidiye Camii atau Masjid Hamid, nama tersebut mengabadikan nama Khalifah Islam terahir di Turki,Sultan Hamid II lokasinya berada di lingkungan Yenice di dalam wilayah kota Kırşehir, Turki.

Sejarah Masjid Hamidiye

Masjid Hamidiye ini sebenarnya sudah berdiri dan dibangun ditempatnya saat ini pada tahun 1910 pada saat Ke-khalifahan Islam Usmaniyah masih berkuasa dan berpusat di Istambul., dan sejak awal dibangun memang sudah dinamai dengan nama Masjid Hamidiye.

Namun setelah beberapa dekade berlalu masjid ini mengalami kerusakan disana sini, terabaikan dan tak terurus sampai ahirnya bangunan lama masjid tersebut dirobohkan dan dibangun ulang dalam bentuknya saat ini setahun yang lalu.

Masjid ini dibangun dua lantai dengan nuansa yang sama, perhatikan mimbarnya yang dibuat dari susunan kayu kayu bulat.

Ekterior (penampakan luar) bangunan masjid ini biasa saja, sama hal nya dengan bangunan masjid masjid di Turki lainnya, berupa bangunan tinggi besar dengan kubah besar di atapnya dan menara yang tinggi menjulang. Yang berbeda pada bagian ekteriornya hanyalah adanya lafazd ALLAH dalam aksara arab berukuran besar pada dinding masjid ini.

Insfirasi Surah Albaqoroh

Sebagaimana dijelaskan oleh “Sefa Ekinci” selaku imam masjid ini, pada saat akan membangun ulang masjid ini beliau mengumpulkan semua informasi yang dibutuhkan terkait dengan sejarah masjid tersebut di masa lalu dan pada perkembangan berikutnya beberapa orang yang terlibat di dalam proyek pembangunannya ter-insfirasi dari surah Al-Baqoroh ayat 22 yang berbunyi :

“(DIA lah) yang menjadikan Bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan DIA lah yang menurunkan air (hujan) dari langit. Lalu DIA hasilkan dengan (hujan) itu buah buahan sebagai rezeki untuk-mu karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan tandingan bagi ALLAH, padahal kamu mengetahui”.

Eksterior Masjid Hamidiye, biasa saja kan

Seorang warga setempat yang juga merupakan mantan Imam masjid ini sebelumnya, Yılmaz Akçakaya, juga menyuarakan hal yang senada. Beliau menambahkan bahwa masjid Hamidiye sebelumnya selain sudah rusak parah juga sudah terlalu kecil dan tidak lagi mampu untuk menapung jema’ah yang sudah membludak.

Ter-infirasi dari ayat tersebut lah kemudian lahir ide untuk membangun interior masjid ini seperti layaknya sebuah taman surga. Bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atapnya. Maka jadilah langit langit masjid ini hingga bagian atas dindingnya di lukis sedemikian rupa menyerupai pemandangan langit yang sedang cerah.

Lantai nya di lapis dengan karpet yang mirip dengan rumput sebenarnya, semacam rumput sintetis yang lembut. Dinding dinding masjid di lukis dengan pemandangan bentangan alam dan pepohonan yang tinggi menjulang, ruangannya dikelilingi dengan pagar dari kayu setinggi lutut seperti pagar taman.

Dua pilar masjid dibagian depan sebelah kanan di gunakan sebagai mimbar dengan membangun tempat seperti pondok kayu yang menempel di sebatang pohon besar, sedangkan pilar masjid disebelah kiri juga dibangun tempat yang serupa dalam ukuran lebih kecil sebagai tempat muazin mengumandangkan azan dan iqomah.

Pintu utama Masjid Hamidiye, Kirsehir

Bagian lain dari masjid ini yang begitu menarik perhatian adalah bagian mihrabnya yang dilukis hingga menyerupai sebuah air terjun dengan pemandangan alami. Lampu gantung di bawah kubah yang biasanya menggunakan bahan Kristal pun berganti rancangan seperti layaknya daun daunan kering.

Sebagaimana disampaikan oleh Imam masjid ini, pembangunan interior masji ini memang sengaja sedapat mungkin mengimplementasikan apa yang dijelaskan dalam Ayat ke 22 surah ke 2 (Albaqoroh) tersebut. Sehingga siapapun yang sholat di dalam masjid ini merasakan seolah olah sedang berada di taman ataupun di alam terbuka.

Beberapa Jemaah masjid ini begitu terkesan sejak pertama kali sholat di masjid ini dan mengatakan pengalaman sholat disini seakan akan sholat di taman surga. Interior apik masjid Hamidiye ini dilukis oleh arsitek sekaligus pelukis dari Azerbaizan.

Dan benar saja, sejak pertama kali dibuka untuk umum , masjid ini telah menarik perhatian Jemaah tidak saja dari lingkungan Yenice dan kota Kırşehir, namun juga menarik perhatian Jemaah dari luar kota dan mancanegara termasuk anda toh walaupun baru melalui media sosial.

Begitu banyak pihak yang berkontribusi pada pembangunan masjid ini secara finansial dan pengurus masjid ini termasuk imam dan mantan imamnya mengucapkan terima kasih atas semua kontribusinya dan medo’akan semoga ALLAH Swt memberikan berkah-Nya kepada mereka semua.

Referensi


Sunday, August 6, 2017

Masjid Negeri Arau, Perlis

Masjid Negeri Arau, Perlis

Perlis atau negeri Perlis, merupakan negara bagian Malaysia yang berada di posisi paling utara semenanjung Malaya, sekaligus negeri dengan wilayah paling kecil di dalam Federasi Malaysia dengan luas keseluruhan hanya seluas 810 km persegi. Bila di Indonesia, luas tersebut lebih luas sedikit dibandingkan DKI Jakarta (664 km persegi) atau kira kira seperempat luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (3133 km persegi).

Hingga kini Negeri Perlis masih berbentuk kesultanan, bagian Kerajaan Federal Malaysia. Pada mulanya Perlis merupakan kerajaan bawahan dari Kesultanan Kedah, kemudian dicaplok oleh Negeri Siam (kini menjadi Thailand). Pencaplokan tersebut menimbulkan kemarahan rakyat Kedah yang kemudian bahu membahu melakukan perlawanan atas penindasan Siam, menjadi awal terbentuknya Negeri Perlis yang di kemudian hari bergabung dengan 11 Negeri lainnya di semenanjung Malaya membentuk Negara Federasi Malaysia.

Tiap tiap negeri/kesultanan di Malaysia memiliki satu masjid Negeri yang menjadi masjid sentral di masing masing negeri, semacam masjid raya propinsi di Indonesia. Begitu pula dengan Negeri Perlis dengan Masjid Negeri Perlis. Masjid Negeri Perlis pertama kali dibangun tahun 1873 di masa pemerintahan Raja Syed Ahmad Jamalullail. Masjid lama tersebut kemudian digantikan dengan masjid baru di tahun 1973 dimasa pemerintahan Raja Syed Putra Jamalullail.

Masjid Negeri Arau
Jalan Besar Arau, Arau, 02600 Arau, Perlis, Malaysia



Sejarah Negeri Perlis

Seiring wafatnya Sultan Kedah, Sultan Dhiauddin Mukarram Shah, kesultanan Kedah mulai dibayangi sengketa dengan kerajaan Siam. Kerajaan Siam telah melakukan penyerangan dan menduduki Negeri Kedah dan jajahan-jajahannya pada tahun 1821. Meski berhasil mencaplok wilayah wilayah kedah di utara, kerajaan Siam tidak benar benar berkuasa di wilayah tersebut akibat dari sikap rakyat di negeri ini yang masih kukuh berpegang teguh kepada institusi Kesultanan Kedah.

Tindakan kekejaman oleh Siam ke atas penduduk di sini seperti menyiksa, membakar rumah dan bahan makanan serta merampas harta benda akhirnya mencetuskan perlawanan besar-besaran yang didukung oleh sukarelawan dari seluruh pelosok negeri-negeri Islam di Nusantara. Gelombang serangan dikomado oleh Tengku Muhammad Akib, Datuk Wan Mohamad Ali dan seorang ulama terkenal dari tanah Palembang, Assyahid Syeikh Abdul Samad Palembang pada tahun 1838. Serangan balik oleh rakyat Kedah ini bahkan bergerak jauh masuk ke wilayah Siam hingga ke Pattani, Hat Yai dan Singgora, tetapi akhirnya dipukul mundur oleh Siam dengan bantuan Inggeris yang bersikap dua muka ketika itu.

Kerasnya perlawanan rakyat memaksa kerajaan Siam mengubah sikap,.Raja Besar Siam saat itu, Raja Nag Klau (Rama III), akhirnya memanggil pulang gubernur Siam di Alor Ganu, Kedah yang semula dilantik membawahi Negeri Kedah dan diganti dengan mengangkat penguasa dari para pembersar setempat di penghujung tahun 1839.

Interior Masjid Negeri Arau

Perlantikan ini dilaksanakan setelah Negeri Kedah dan jajahannya dibaagi menjadi empat negeri yaitu Perlis, Setul, Kubang Pasu dan Kedah. Keempat-empat negeri ini dibawahi oleh masing masing gubernur. Bagi Negeri Perlis diangkat Raja Long Krok (Paduka Seri Maharaja Lela) sebagai gubernur dan Syed Hussin Jamalullail sebagai wakil gubernur. Dan momentum tersebut menjadi titik awal berdirinya Negeri Perlis dari statusnya semula sebagai jajahan menjadi sebuah Negeri yang memiliki pemerintahan sendiri. Upacara Penyerahan kekuasaan Negeri Perlis oleh kerajaan Siam kepada kerajaan Negeri Kedah diadakan di Balairung, Istana Kedah.

Masjid Negeri Perlis

Masjid Negeri Perlis terletak di Arau. Peletakan batu pertama pembangunannya dilaksanakan oleh Tuanku Syed Putra Ibni Almarhum Syed Hasan Jamalullail, pada tanggal 2 Safar 1392 Hijriah bertepatan dengan tanggal 18 Maret 1972 Miladiyah, bersamaan dengan hari ulangtahun beliau yang ke 54.

Peresmian masjid ini dilaksanakan pada tanggal 6 Safar 1396 Hijriah bertepatan dengan tanggal 6 Februari 1976 Miladiyah oleh Tuanku Syed Putra Ibni Almarhum Syed Hasan Jamalullail bersamaan dengan ulangtahun beliau yang ke-58, kira-kira empat tahun setelah upacara peletakan batu pertama pembangunannya. Sebelum pembangunan masjid ini selesai, Masjid Alwi yang terletak di Kangar merupakan masjid pertama yang pernah dijadikan sebagai Masjid Negeri bagi negeri Perlis.

Mimbar antik Masjid Negeri Arau, Perlis

Masjid ini berkonsepkan seni bina klasik Arab Moor (Maroko). Bercirikan atap yang datar dan kubahnya menjadi salah satu elemen yang dapat dilihat dari jauh. Kubah ini terletak pada ketinggian kira-kira 20 meter dari permukaan tanah. Bentuknya setengah bundar berwarna biru yang disesuaikan dengan warna dinding masjid.

Terdapat dua kubah kecil dibangun dibagian depan. Ujung menara masjidini dibangun dengan reka bentuk menyerupai bentuk kubah Masjid Negara di Kuala Lumpur berupa bentuk payung yang sedang kuncup. Dibagian dalam masjid ini dihias dengan kaligrafi Al-Qur’an pada tiang pintu mimbar, serta penggunaan warna warna emas sebagai warna kebesaran.

Referensi


Baca Juga


Saturday, August 5, 2017

Masjid Kaca Laban India

Masjid Kaca, Laban, Shilong, Meghalaya, India di malam hari

Sebenarnya majid ini bernama Masjid Madinah atau Madina Mosque namun karena bahan pembuatnya mayoritas menggunakan kaca maka lebih dikenal sebagai masjid kaca atau Glass Mosque, dan karena lokasinya yang berada di daerah Laban maka juga seringkali disebut dengan nama Laban Glass Mosque. Dan dikenal sebagai masjid kaca pertama di India, sekaligus menjadi masjid terbesar di wilayah India bagian timur. Masjid Kaca Meghalaya dikelola oleh Persatuan Muslim Shilong atau "Shillong Muslim Union”.

Meski disebut sebagai masjid kaca, tapi tenang saja brow-sanak, struktur masjid ini tetap saja menggunakan beton bertulang begitupun dengan pondasinya, seperti bangunan bertingkat pada umumnya. Hanya saja memang seluruh bahan kaca atau gelas digunakan secara menyeluruh menutupi bagian luarnya sehingga dari luar tampak benar benar seperti sebuah bangunan yang seluruhnya dari kaca, terutama di malam hari pada saat lampu lampunya dinyalakan, masjid ini tampak seperti sebuah lampion berukuran besar bewarna hijau.

Madina / Laban Glass Mosque
Laban, Shillong, Meghalaya 793004, India


Dimanakah lokasi Masjid Kaca Maghalaya

Laban adalah nama daerah di dalam Kota kota Shillong, dan kota Shilong merupakan ibukota negara bagian Meghalaya, India. Patut di ingat bahwa negara India merupakan negara Republik Federasi yang wilayah negaranya terdiri dari berbagai negara bagian, nah Meghalaya ini adalah salah satu negara bagian di India yang lokasinya berada di bagian timur, dan juga merupakan negara bagian dengan luas wilayah terkecil di India.

Negara bagian Meghalaya ini berada begitu jauh dari ibukota India – New Delhi- diantara kota New Delhi ke Shilong sebagai ibukota negara bagian Meghalaya ini terpaut jarak sekitar 1.965 Km dengan jarak tempuh penerbangan selama hampir delapan jam. Meghalaya ini bertetangga langsung dengan Republik Bangladesh yang berada di sebelah selatannya.

Masjid Simbol Persatuan

Tidak seperti tetangganya di Negara Bangladesh yang penduduknya mayoritas muslim, di negara bagian Megahalaya India ini, muslim merupakan kelompok minoritas meskipun India sendiri tercatat sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar ketiga di dunia setelah Indonesia dan Pakistan.

Masjid Kaca Laban di siang hari

Merujuk kepada Wikipedia dari total penduduk negara bagian Meghalaya sebesar 2,175,000 jiwa, hanya sekitar 4% saja dari jumlah itu yang beragama Islam. Seiring dengan fakta bahwa India tak pernah henti didera oleh pertikaian etnis dan agama, wajar bila kemudian menteri negara Meghalaya, Vincent H Pala mengatakan bahwa masjid kaca di Shillong ini dibangun sekaligus sebagai simbol persatuan ummat beragama disana.

Hal tersebut disampaikan oleh beliau mengingat bahwa pembangunan masjid ini juga di dukung penuh oleh ummat Hidu di negara bagian tersebut baik secara moril maupun materiil, termasuk para pekerja dan pelaksana pembangunan masjid ini begitu banyak yang merupakan penganut agama Hindu.

Pembangunan masjid Madina atau Laban Glass Mosque ini dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 2 November 2007 dan selesai secara keseluruhan pada tanggal 29 Agustus 2008, diresmikan dan dibuka 18 Oktober 2012 oleh Menteri negara untuk urusan minoritas di negara bagian Meghalaya, Vincent H Pala.

Selain sebagai tempat peribadatan, masjid ini juga dilengkapi dengan perpustakaan, tempat tinggal bagi anak anak yatim piatu dan institut agama Islam. Masjid ini juga dilengkapi dengan taman yang cukup luas dengan pepohonan rindang.

Interior Masjid Kaca Laban, India, biasa saja toh. 

Di bulan Juli 2015, Perpustakaan Masjid ini diberi nama “A.P.J Abdul Kalam Library” mengabadikan nama mendiang presiden India yang merupakan seorang muslim dan wafat pada 27 Juli 2015. Pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada beliau, juga diharapkan dapat menginspirasi kaum muda untuk mengikuti jejak keberhasilan beliau.

Pemberian nama itu dilaksanakan di hari pemakaman mendiang presiden Abdul Kalam yang dilaksanakan di kampung halamannya di Rameshwaram, negara bagian Tamil Nadu, pada tanggal 30 Juli 2015. disaat yang sama, muslim di kota Shilong termasuk ratusan Jemaah Masjid Madina ini, menyelenggarakan sholat ghaib bagi mendiang presiden Abdul Kalam.

Masjid Madina dibangun empat lantai setinggi 120 kaki dan lebar 61 kaki dan mampu menampung 8000 jemaah sekaligus. Rancang bangunnya mengadopsi bangunan masjid universal lengkap dengan kubah besar di atap masjid dan diapit empat menara menjulang di masing masing empat penjuru atapnya, Memberikan pemandangan yang teramat menarik dan tiada duanya di kawasan tersebut.

Masjid ini menyediakan tempat khusus untuk jemaah wanita, gedung tempat tinggal bagi yatim piatu yang diberi nama ‘gedung maherba’ serta gedung institute agama Islam yang diberi nama ‘markaz’. Masjid bewarna biru ini begitu antik, unik, dan bukan masjid biasa dan tentu saja menjadi daya pikat wisata baru disana. Beberapa laporan menyebutkan masjid ini juga telah berkembang menjadi pusat pembelajaran dan pusat spiritual Islam di kawasan tersebut.

Referensi

wikipedia – madina mosque shilong
telegraphindia.com - Kalam name for library


Sunday, July 30, 2017

Masjid Cuiabá, Brazil (1978)

Masjid di Kota Cuiaba berdiri megah dengan kubah besar dan menaranya yang tampak begitu mungil dibandingkan dengan menara milik sebuah peruhsaan komunikasi yang berdiri di sebelahnya.

Kota Cuiabá, Kota Piala Dunia 2014

Bila anda pecinta sepakbola, pastinya masih ingat momen Piala Dunia Sepakbola 2014 yang diselenggarakan di Brazil, nah Kota Cuiabá ini adalah salah satu kota tempat penyelenggaraan pesta sepakbola dunia tersebut. Kota Cuiabá merupakan ibukota dari negara bagian Mato Grosso, di Republik Brazil. Salah satu kota metropolitan di Brazil yang juga sekaligus secara geografis menjadi pusat bagi Amerika Selatan. 

Kota ini didirikan pada tahun 1719 pada masa gemilangan tambang emas di daerah terebut (gold rush) dan menjadi ibukota provinsi atau negara bagian Mato Grosso sejak tahun 1818. Kota ini sejak lama dikenal sebagai gerbang selatannya Amazon. Sejak itu Cuiabá berkembang menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat pertanian dan menjadi salah satu kota dengan  perkembangan tercepat di seluruh Brazil. 

Kota ini juga menjadi jantung dari kawasan urban termasuk juga kota tetangganya yang menjadi kota terbesar kedua di Mato Grosso, kota Várzea Grande. Cuiabá juga terkenal sebagai salah satu tuan rumah penyelenggara Piala Dunia 2014 dengan Stadionnya yang terkenal dengan nama Arena Pantanal.


Muslim di kota Cuiaba, Brazil ini cukup beruntung memiliki sebuah bangunan masjid sebenarnya yang memang dibangun sejak awal sebagai bangunan masjid, meskipun muslim disana merupakan kelompok minoritas.

Muslim di Cuiabá

Kota Cuiabá memilki komunitas Muslim yang cukup banyak. Muslim di kota Cuiabá merupakan warga keturunan dari Suriah, Lebanon dan Palestina, jumlah mereka seluruhnya sekitar 600 jiwa dari sekitar 150 keluarga. Sebagian besar dari mereka mengungsi ke Brazil paska perang dunia kedua dan menetap di kota tersebut dengan mata pencaharian utama mereka sebagai pedagang.

Kini sebagian besar keluarga muslim di Cuiabá merupakan masyarakat kelas menengah atas yang bermata pencaharian dibidang perdagangan. Komunitas muslim Cuiabá dipimpin oleh Walid Khaled Omais, muslim Cuiabá merupakan bagian dari sekitar satu juta lebih muslim di Brazil secara keseluruhan. 

Di kota ini telah lama berdiri sebuah masjid sebenarnya lengkap dengan kubah besar dan sebuah menara menjulang tinggi menyaingi menara gedung perusahaan telekomunikasi yang berdiri megah di pusat kota itu. Kami sebut sebagai masjid sebanarnya, karena memang dibangun sejak awal sebagai bangunan masjid dengan rancangan sebuah masjid sebagaimana yang kita kenal secara universal, yakni bangunan dengan kubah serta menaranya yang menjulang.

Mesquita de Cuiabá
R. Baltazar Navarros, 9 – Bandeirantes
Cuiabá – Mato Grosso, 78010-020, Brasil
Telephones: (65) 9247-5160 (course) / (65) 8117-2745 (Tim)
akun facebook
Coordinates: 15° 35' 48.61" S  56° 5' 29.49" W



Masjid Cuiabá

Mequita Mosulmana atau Masjid orang Muslim demikian rambu rambu jalan yang terpajang di depan masjid ini menunjukkan titik lokasi masjid ini. Muslim Cuiabá ini bergabung dalam organisasi Islam The Muslim Beneficent Society of Cuiabá yang didirikan pada tanggal 8 April 1972 dan sudah memiliki sebuah masjid di kawasan Bandeirantes yang menjadi tumpuan satu satunya untuk pelaksanaan sholat berjamaah baik sholat rawatib lima waktu, sholat jum’at dan hari raya termasuk semua aktivitas ke-islaman muslim kota Cuiabá.

Masjid Cuiabá mulai dibangun tahun 1975 dan selesai tahun 1978. Upacara peletakan batu pertama pembangunannya dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 1975 dan diresmikan pada tanggal 16 Juli 1978. dengan dana bantuan sebesar US$ 70.000 dolar Amerika sumbangan dari pemerintah Saudi Arabia dengan tujuan utama pembangunannya tentu saja adalah untuk memfasilitasi kebutuhan muslim di kota Cuiabá akan tempat ibadah dan tempat bersosialisasi secara komunal.

Interior Masjid Cuiaba.

Pada masa itu baru ada sekitar 95 keluarga muslim disana yang turut berkontribusi bagi pembangunan masjid tersebut. Bersebelahan dengan masjid ini juga dibangun sekolah Islam dari kelas 1 sampai dengan kelas 4 antara tahun 1979-1980.

Tradisi Lebaran Muslim kota Cuiabá

Seperti di berbagai belahan dunia Islam lainnya, pada setiap hari raya lebaran, muslim kota kota Cuiabá berkumpul di masjid kota Cuiabá untuk mengikuti ibadah sholat ied yang kemudian dilanjutkan dengan acara halal bilhalal seluruh warga muslim yang juga diselenggarakan di masjid. Dalam kesempatan tersebut muslim disana saling beramah tamah satu dengan lainnya sambil menikmati aneka hidangan yang sudah disiapkan oleh pengurus masjid.


Dikunjungi Timnas Bosnia

Pada bulan Juni 2014, tiga Pemain Nasional Sepakbola Bosnia berkunjung dan melaksanakan sholat Jum’at di Masjid Cuiabá, kunjungan itu dilakukan menjelang pertandingan Piala Dunia Sepakbola 2014 Grup G melawan Nigeria pada Sabtu 21 Juni waktu setempat. Tiga pemain Bosnia yang melakukan salat Jumat di Cuiaba adalah striker Vedad Ibisevic, bek Muhamed Besic dan winger Edin Visca.

Salat Jumat itu juga dihadiri mantan gelandang tim nasional Bosnia Elvir Rahimic, yang saat ini menjadi pelatih di klub Rusia PFC CSKA Moscow. Setelah melakukan salat, tiga pemain tersebut dengan senang hati menerima ajakan foto bersama dan permintaan tanda tangan warga yang kebetulan berada di masjid tersebut. Kunjungan itu menyusul undangan imam masjid Omar Omama yang mengunjungi hotel tempat tim Bosnia menginap.

Referensi

islamismobr.blogspot.com - Eidul fitr in cuiaba
situs resmi masjid Cuiaba
dream.co.id - Pemain Timnas Bosnia Salat Jumat di Masjid Lokal Brasil

Baca Juga



Saturday, July 29, 2017

Masjid Tombul Bulgaria

Masjid Sherif  Halil Pasha di Kota Shumen, Bulgaria atau lebih dikenal dengan nama Masjid Tombul atau Tombul Mosque, adalah masjid terbesar di Bulgaria warisan dari masa kejayaan Emperium Usmaniyah.

Tombul Mosque atau Masjid Tombul adalah masjid tua bersejarah di Bulgaria yang berada di kota Shumen, Masjid ini dibangun pada masa Bulgaria masih merupakan bagian dari wilayah Emperium Usmaniyah (Turki Usmani). Sejak dibangun hingga hari ini, Masjid Tombul merupakan masjid tebesar di wilayah Bulgaria dan salah satu masjid terbesar di kawasan semenanjung Balkan.

Masjid ini sebenarnya bernama The Sherif Halil Pasha Mosque, karena memang dibangun oleh Sheriff Halil Pasha, mantan penguasa setempat kelahiran desa Madara, 17 km ke arah timur kota Shumen. namun dalam Bahasa Turki lebih populer dengan nama Masjid Tombul. karena bentuk atap masjidnya yang bertingkat dan membubung tinggi maka oleh orang Turki disebut Tombul. Kata Tombul dalam Bahasa Turki kira kira hampir sama dengan kata Timbul dalam Bahasa Indonesia.

Tombul Mosque 
"Georgi Sava Rakovski" 21, 9700 Shumen Center
Shumen, Bulgaria
coordinates: 43°16′22″N 26°54′51″E



Sejarah Masjid Tombul

Masjid Tombul dibangun antara tahun 1740 hingga tahun 1744 oleh Sherif Halil Pasha, semula lokasi masjid ini berada di timur laut pusat kota Shumen, namun kini lokasinya berada di sisi barat daya dari pusat kota seiring dengan perkembangan wilayah kota tersebut.

Komplek masjid ini terdiri dari ruang sholat utama seluas 1730m2, halaman dan dua belas ruang tambahan yang dulunya merupakan asrama dari sekolah madrasah di komplek masjid tersebut. Masjid Tombul sudah dinyatakan sebagai monumen arsitektur dan konstruksi melalui undang undang negara Bulgaria nomor 22 tahun 1975, dan masuk dalam daftar 100 tujuan wisata paling menarik di Bulgaria.

Arsitektur Masjid Tombul

Pelataran masjid ini dikenali dengan lengkungan di bagian depannya serta dua belas ruangan yang mengelilingi-nya serta menara tunggal yang menjulang setinggi 40 meter dengan 99 anak tangga dari batu. Uniknya air dari pancuran tempat wudhu di masjid ini dipercaya memiliki banyak khasiat.

Sebagaimana bangunan masjid khas Emperium Usmaniyah, Masjid Tombul juga dibangun dengan ciri khas kubah besar di atap masjid dan menara yang lancip tinggi menjulang.

Pelataran tengah masjid ini menjadi penghubung bangunan utama dengan bangunan penunjang lainnya, dengan lapangan tengahnya yang terbuka dengan jejeran arkade mengarah ke ruang utama masjid yang ditopang oleh empat pilar dari batu pualam berukuran besar.

Secara umum bangunan utama masjidnya tampak berstruktur bertumpuk 3, struktur paling bawah berdenah segi empat, struktur kedua berdenah octagon dan struktur paling atas melingkat sebagai tatakan bagi struktur kubah besarnya. Kubah masjid ini cukup tinggi mencapai 25 meter dari permukaan lantai.

Ruang utama masjid ini berukuran 15 m x 15 m, diterangi cahaya alami siang hari melalui empat jejer jendela jendela besar yang menggunakan kaca patri yang indah. Ruang dalamnya terdiri dari dua lantai dihubungkan dengan tangga yang dihias dan di ukur cukup indah. Lantai dua yang merupakan sebuah mezanin di dalam masjid ini diperuntukkan bagi Jemaah wanit.


Selain desain eksteriornya yang menawan, masjid ini juga dikenali dengan interiornya yang memadukan antara senibina Usmaniyah dengan seni Baroque Prancis menghasilkan karya seni interior yang tidak saja menawan namun juga cukup unik dan langka. Interior masjid di dominasi oleh lukisan dinding (mural) dari aneka macam pola tumbuhan dan bentuk bentuk geometris serta kaligrafi Al-Qur’an.

Beberapa lukisan asli pada langit langit dan dinding bagian dalam masjid ini beberapa decade yang lalu sempat di tutup dengan beberap lapisan cat sebagaimana ditemukan kembali pada saat dilaksanakannya riset terhadap interior masjid ini ditahun 2005. Rancangan akustik di dalam masjid ini sempurna dengan penggunaan bahan cetakan keramik dari tanah liat yang ditempatkan di dinding dan bagian kubahnya.

Aktivitas Masjid Tombul

Dari berbagai sumber menyebutkan, saat ini masjid Tombul sedang dalam proses renovasi meski tetap dibuka baik untuk peribadatan maupun untuk kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri. Masjid Tombul menjadi salah satu tujuan wisata paling menarik di Shumen menyajikan monumen arsitektur dari abad ke 18 masehi.

Pelataran tengah, arkade dan tempat wudhu 

Disebutkan juga bahwa masjid ini masih aktif dengan fungsinya sebagai tempat ibadah ummat Islam termasuk penyelenggaraan sholat Idul Fitri dan Idul Adha setiap tahun yang dihadiri masyarakat muslim dari berbagai tempat. Selain itu masjid ini juga masih menyelenggarakan Sekolah Islam Lanjutan (semacam SMP) di masjid ini termasuk juga pendidikan untuk Imam. Sekolah tersebut menempati dua belas ruangan yang berada di sekitar masjid sebagai tempat tinggal dan belajar mengajar bagi para santrinya.

Masjid Tombul dilengkapi juga dengan  gedung perpustakaan dua lantai yang berada di sebelah kiri ruang utam amasjid. Perpustakaan ini memiliki beragam koleksi menarik berbahasa arab maupun Persia termasuk peta karya Muhammad al-Idrisi, seorang geographer arab terkemuka yang hidup pada awal abad ke 12, sebelum kemudian pustaka pustaka langka tersebut dipindahkan ke Perpustakaan St. Cyril and St. Methodius National Library di Kota Sofia, Ibukota Bulgaria.

Arah Kiblat Masjid Tombul ke arah tenggara atau miring 30.31 derajat ke arah timur dari arah selatan.

Kiblat Masjid Tombul

Denah Masjid Tombul ini beserta pelataran dan bangunan pendukungnya memanjang dari barat daya – timur laut. Dan sangat Nampak bahwa tata kota Shumen disekitar masjid ini memang mengikuti arah kiblat, dengan posisi masjid dan jalan raya di sekitarnya yang sejajar dan harmonis.

Merujuk kepada situs e-qibla Arah kiblat di Bulgaria adalah ke arah Tenggara atau tepatnya mengarah ke Selatan dengan kemiringan 30.31° ke arah timur, membuat orientasi bangunan masjid ini memang miring terhadap utara-selatan. Pintu utama masjid menghadap ke jalan raya yang ada di sisi utara bangunan, dan bagian mihrabnya ada di sisi selatan.***

Dirangkum dari berbagai sumber

Sunday, July 23, 2017

Masjid Manoa Satu Satunya di Hawaii (Bagian 2)

Hanya ornamen di bagian atap dan pagar serta lengkungan di terasnya yang sedikit memberikan perbedaan antara bangunan Masjid di Manoa ini dengan bangunan lain disekitarnya.

“Pembelian” Masjid di Manoa

Para anggota pendiri organisasi ini berupaya mempromosikan penggalanangan dana bagi pembukaan sebuah Islamic Center di Hawaii. Merujuk kepada penulis di Star Bulletin, Nadine W. Scott, James Abdullah Roushey mulai bertemu dengan Pangeran Abdulaziz Bin Fahad Al-Faisal dari Saudi Arabia dengan hasil yang cukup menggembirakan.

Pangeran Abdulaziz Bin Fahad Al-Faisal tidak saja siap membantu untuk pembangunan masjid namun juga membangun gedung pusat pendidikan dan kebudayaan, rumah makan, pertokoan dalam sebuah komplek pusat ke-Islaman (January 12, 1979).

Meskipun dalam perjanjian disebutkan bahwa Pangeran Abdulaziz Bin Fahad Al-Faisal mengambil tanggung jawab untuk pembangunan tersebut dengan pembentukan badan usaha Saudi Arabia namun demikian dalam pelaksanaannya hanya disebut sebagai hamba Allah yang menyumbangkan dana untuk pembangunan masjid dan komplek pemakaman muslim di Hawaii. Pendonor dari Saudi Arabia tersebut memang meminta tidak disebutkan namanya meskpun diketahui seringkali berkunjung ke Masjid manoa setiap melakukan perjalanan bisnis ke Hawaii.

Masjid Manoa dibangun antara tahun 1979 dan 1980. Pemilihan lokasi masjid ini salah satunya adalah karena kedekatannya dengan University of Hawaii dan merujuk kepada penjelesan Farook Wang. Alasan lainnya adalah bahwa sebagian dari bangunan yang dibeli dapat disewakan untuk membantu pemasukan keuangan masjid.

Masjid Manoa lebih dekat.

Dari sisi arsitektur, Masjid di Manoa ini memang sama sekali tidak mirip dengan bangunan masjid seperti yang kita kenal, karena memang bukanlah bangunan masjid yang dibangun dari awal untuk sebuah masjid, melainkan sebuah bangunan megah yang dibeli oleh muslim Hawaii dan kemudian di alihfungsi sebagai masjid tanpa merombak struktur luar bangunannya. Itu sebabnya, tak ada aksen Islam yang tercermin dari bangunan itu.

Berdirinya The Muslim Association of Hawaii

Pada tanggal 28 April 1983, Makhdoom Shah menjalin kerjasama antara the Hawaii's Muslim community dan Muslim di kemiliteran dengan mengangkat PFC Tyrone James (Abdul Shakur Ali) yang meruopakan Schofield Barracks sebagai Penanggung Jawab Muslim di dinas kemiliteran.

Organisasi Muslim Student Association dengan sukarela dibubarkan pada tanggal 30 November 1990 karena tak memenuhi syarat untuk pendaftaran ulang di Hawaii's Business Registration Division. (Hawaii State Archives/Government Records Collection Hawaii Corporations (Dissolved) Case Files [series 158] Muslim Students Association of Hawaii, Inc., File no. 40625D2 [1990 MFL 81]).

Selanjutnya dibentuk organsasi The Muslim Association of Hawaii (MAH) yang dibentuk pada 4 February 1997. Para pengurusnya terdiri dari Nizar Hassan, Nafez Hasan, Ather Dar, Anwar Kazi and dan Lionel E. Price.

Di Hawaii Orang Muslim bertambah 3 orang tiap Bulan

Laporan media lokal di bulan November 2001 menyebutkan bahwa “berislam kini sedang menjadi tren baru di kalangan mahasiswa dan masyarakat Hawaii”. Hakim Ouansafi, presiden Muslim Association of Hawaii, menyatakan, mualaf di Hawai bertambah paling sedikit tiga orang perbulan.

Kebanyakan mualaf, kata dia, adalah perempuan. Jika rasio nasional antara mualaf pria dengan wanita adalah 1 : 4, maka rasio mualaf pria-wanita di Hawaii adalah 1 : 2. Kebanyakan dari mereka, terutama yang di Honolulu, adalah keturunan Afrika-Amerika. ”Beberapa di antaranya menemukan Allah saat mereka dalam proses penyembuhan dari ketergantungan terhadap obat-obatan dan alcohol.

Di wilayah West Coast lain lagi. Beberapa orang mualaf adalah anggota militer. Bila di Honolulu para mualaf itu sebelumnya mengaku tak beragama, maka di wilayah West Coast, umumnya mereka sebelum berislam adalah penganut suatu agama.

Interior Masjidnya sederhana namun lengkap dengan mihrab dan mimbarnya.

Cromwell Crawford, pimpinan Departemen Agama di University of Hawaii-Manoa, mempunyai penjelasan mengenai tren pindah agama di Hawaii ini. Menurut dia, efek dari Tragedi 11 September terhadap psikologis bangsa adalah, seluruh warga jadi memperhatikan tentang kefanaan hidup ini. ”Mood pun jadi berubah, para lajang mencari ikatan, keluarga menjadi semakin erat, dan orang kembali mencari pegangan agama,”

Tak hanya Islam yang diuntungkan dengan kondisi ini, kata dia, agama lain juga. ”Mereka yang semula tak beragama, kini mencari pegangan agama.” Mengapa kebanyakan wanita? ”Dalam mengekspresikan mood ini, wanita lebih mendalam ketimbang pria,”.

Penyusunan Sejarah Islam di Hawaii

Sejarah Islam di Hawaii dikumpulkan lagi oleh Mona Darwich, dosen senior di University of Hawaii, dalam tesisnya yang berjudul Inside and Outside the Mosque: Oral Histories of Hawaii’s Muslims. Dia menuliskan tesisnya setelah mengumpulkan banyak bahan pustaka dan mewawancarai 33 orang nara sumber. Ia juga mendokumentasikan puluhan pemuda yang tengah belajar Islam dan memfilmkan kisah Achmed Djuneid, seorang remaja Muslim di Hawaii.

Wawancara juga dilakukannya melalui email para mahasiswa yang dulu mendirikan organisasi Muslim Hawaii sudah kembali ke negaranya masing-masing. Dua di antaranya adalah Dr Makhdoom Shah, asal Kuwait dan Dr Pramudita Anggraita, asal Indonesia.***(habis)

Referensi

the.honoluluadvertiser.com - More in Hawai'i turn to Islam
hawaiifreepress.com  - Kona Mosque Plan Questioned
lilyardas.wordpress.com  - Komunitas Muslim di Hawaii Hanya Ada 1 Masjid